Sir, Batam Is Ready For Industriy 4.0

0
164
Xavier Denoly, Sirichai dan Fadli berbincang didekat karyawan Schneider yang menggunakan alat virtual, yang membantu penerapan teknologi di perusahaan itu. F-ISTIMEWA

Membangun Eksistensi Batam di Teknologi Digital

Batam melangkah maju dalam rintisan sebagai kota industri 4.0. Tidak hanya menyiapkan rencana, namun langkah-langkah pengembangan industri sudah dilakukan. Diantaranya dilakukan Schneider Electric Batam sebagai industri yang kini memanfaatkan teknologi digital Industri 4.0 dan menjadi percontohan. Badan Pengusahaan (BP) Batam sudah menyiapkan fasilitas-fasilitas pendukung untuk mendukung teknologi digital,  bagi industri 4.0. Mulai dari pusat data dan sistem informasi (PDSI), blockchain dengan membentuk block Batam, hingga sistem logistik modern smart contract.

Oleh: Martua P Butarbutar

Karyawan Schneider Electric Indonesia, menjalani aktivitas mereka seperti biasa, dengan menggunakan seragam hijau. Diantara mereka, terlihat juga robot mungil berwarna hijau, yang beroperasi. Ada juga yang memegang dan mengoperasikan komputer tablet dan ada yang menggunakan teknologi virtual reality.

Teknologi virtual reality digunakan karyawan, untuk mengontrol kondisi mesin produksi. Terlihat keceriaan karyawan dalam menjalankan kegiatan produksi. Diantara karyawan Schneider, terlihat President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly, VP Supply Chain Performance East Asia Japan, Sirichai Chongchintaraksa dan Digital Transformation Senior Manager, Schneider Electric Manufacturing Batam, Fadli Hamsani.

Ketiganya didamping karyawan Schneider, memantau kegiatan produksi. Sesekali menggunakan alat, terutama virtual reality dan komputer tablet, untuk memantau produksi perusahaan itu. Schneider, kini menggunakan teknologi remote assistance dalam memudahkan serta mempercepat proses pekerjaan. Ini juga menjadi teknologi kontrol mesin jarak jauh dari Schneider Electric.

Kebijakan perusahaan itu mengangkat optimisme karyawan, atas eksistensi perusahaan di perkembangan teknologi saat ini. Hingga merasakan, Schneider menjadi  perusahaan masa depan, seperti halnya dibeberkan Fadli Hamsani yang mendampingi Xavier dan Sirichai, sambil mengamati kegiatan produksi dan sesekali menggunakan alat virtual dan tab, untuk memantau kegiatan produksi pagi itu, Kamis (25/4/2019.

Perusahaan itu,  melakukan transformasi digital, untuk meningkatkan profitabilitas, kinerja manajemen aset, efisiensi operasional, dan tenaga kerja produktif. Transformasi digital itu, untuk membantu mereka membuat keputusan berdasarkan informasi data, serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang modern sebagai implementasi Industri 4.0, didukung Kementerian Perindustrian.

Pemanfaatan teknologi 4.0 diakui menghasilkan peningkatan kinerja manajemen aset, efisiensi operasional dan tenaga kerja produktif yang lebih pintar. Peralatan dengan teknologi industri internet of things (IoT) itu, diperkenalkan kepada karyawan. Kemudian dilatih untuk menggunakan alat seperti virtual dan lainnya.

Dengan harapan, sekitar 150 pelanggan dan mitra, mulai dari Indonesia, Cina, Singapura, Vietnam, Malaysia, Myanmar hingga Timur Tengah, merasakan hasil produksi mereka yang memuaskan. “Schneider kini sudah menggunakan smart factory yang didalamnya ada sistem sensor, augmented reality dengan didukung internet of things, big data dan cloud computing,” kata Fadli.

Dibantu teknologi itu, karyawan memproduksi barang listrik untuk kontrol otomatis. Seperti untuk sensor, papan elektronik, penggerak kecepatan variabel, sensor, pemutus sirkuit, papan elektronik dan lainnya. Alat-alat itu digunakan untuk pendistribusian listrik otomatisasi dan kontrol.

“Semua karyawan di pabrik kami mendapatkan manfaat dari solusi Industri 4.0 dimana return on investment (ROI),” sambung Fadli Hamsani.

Kini, ‎Schneider salah satu perusahaan di Batam, yang diijadikan smart gactory electric, sebagai industri 4.0. Secara umum, Industri 4.0 ditandai dengan adanya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Hal itu dibenarkan Vice President PT Schneider Electric Batam, Gabriel De Tissot. Pihaknya secara Global telah banyak berbagi pengetahuan dan praktek terbaik akan penerapan teknologi smart manufacturing dengan industri lain melalui EcoStruxture.

“Transformasi digital yang kami hadirkan di pabrik kami di Batam menggunakan solusi EcoStruxture dan aplikasi Industri 4.0 lainnya yang memungkinkan pemantauan kinerja operasi kami di setiap bagiannya,” ujar Gabriel.

Peralihan teknologi industri ke generasi 4.0 ini diapresiasi Manager Administration and General Affair Batamindo Investment Cakrawala, Tjaw Hioeng. Batamindo Investment sendiri merupakan perusahaan, yang mengelola kawasan industri Batamindo, Batam, tempat Schneider beroperasi. Perusahaan manufaktur di Batam, diakui mulai membentuk smart faktory, dengan menggunakan sistem otomatis atau dikerjakan robot. Selain itu, menggunakan internet of think, artificial intelegence dan lainnya.

“Sekarang, banyak perusahaan di Batam yang beralih ke industri 4.0,” kata Tjaw.

Peralihan itu kemudian direspon Badan Layanan Umum (BLU) Badan Pengusahan (BP) Batam, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Batam. BP mendukung Schneider dan perusahaan lainnya di Batam, untuk berlaih ke industri 4.0. Tidak hanya industri manufaktur, namun dibidang kesehatan, hingga industri digital.

Kepala BP Batam, Edy saat pertemuan dalam konferensi Blockbatam, Blockchain, Agustus 2019. F-MARTUA/TANJUNGPINANG POS

Hadirkan Blockchain Dukung Industri Digital

Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady, kini sedang berusaha menjadi motor industri, memasuki industri 4.0 di Batam. Bahkan BP Batam sudah mengumpulkan ratusan pelaku usaha industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi digital, di Batam beberapa waktu lalu. BP Batam menjadikan Schneider sebagai salah satu percontohan industri 4.0.

Sehingga, Kepala BP Batam, Edi Putra Irawady selalu bersemangat dalam menyampaikan pembangunan industi itu di Batam. Semangat itu diperlihatkan Edy Putra, saat memasuki ruang di Aston Hotel Batam, 26 Agustus 2019 dan berdiri dihadapan peserta konferensi Blockbatam, Blockchain.

Pagi itu, BP menghadirkan blockchain blockbatam. Mulai dari India, Newszeland, Hongkong, Belanda, Singapura, Malboure. Perusahaan yang hadir, ada dari Blackarrow, Blockchain Series (BBS), Indonesia Digital Asset Exchange (Indodax), Quantum, Rekeningku, Indonesian Blockchain Network (IBN), PLMP Fintech, Rich, Vexanium, d Clinic, Cripto Investor Asia, Gopax, Decent Core, Coinvestasi, Cryptowatch, Asosiasi Blockchain Indonesia dan lainnya.

Perusahaan-perusahaan itu disiapkan untuk membangun markas di Batam. Harapannya, blockchain dengan blockbatam yang bermarkas di Batam, akan mendorong setiap transaksi internasional  akan melalui Batam. Sehingga disebutkan, Batam menuju peradaban baru melalui blockchain.

Kehadiran mereka akan diperkuat Pusat Data Sistem Informasi (PDSI) di gedung Teknolog Informasi BP. Teknologi digital yang sudah siap di Batam, akan menjadi modal Batam mengangkat industri modern di Batam.

“Sir, Batam Is Ready For Industriy 4.0,” kata Edy Putra dengan nada optimis sambil melempar senyum dihadapan para mitra BP Batam pagi itu.

Edy menunjukkan semangatnya, membangun industri 4.0 di Batam, dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai motor ekonomi Batam kedepan. Optimisme menguat, setelah Schneider dan industri elektronik lain beralih ke industri 4.0, ada juga dibidang kesehatan melalui dClinic, yang bermarkas di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam.

Pengembangan industri 4.0 di Batam, dilakukan dibidang industri makanan dan minuman, industri otomotif, industri elektronik, industri kimia serta industri tekstil, sesuai dengan arahan pemerintah pusat. Kehadiran blockchain ini yang diharapkan Edy, mendukung industri digital Batam. Blockchain Blockbatam, memberikan catatan data yang tidak dimiliki satu entitas. Sehingga, memudahkan industri Batam berkembang lebih cepat.

“Secara umum, Industri 4.0 ditandai dengan adanya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi,” beber Edy.

Edy membeberkan semangat mereka dalam mendukung pengembangan Industri berbasis pemanfaatan teknologi digital. Alasannya jelas, karena itu menjadi kebutuhan utama Batam untuk kedepan. Diyakini, industri 4.0 memiliki peranan sangat penting dalam pencapaian visi Indonesia untuk mejadi 10 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Saat ini BP Batam menyiapkan peta bisnis, untuk mendorong pertumbuhan bisnis di era digital. Batam disiapkan sebagai sentral di era digital, melalui blockchain, yang menampung transaksi. Di mana masing-masing blok saling terkait melalui kriptografi, sehingga membentuk jaringan. Langkah itu kemudian diikuti deklarasi Batam digital economic zone di Gedung Informasi Technologi (IT) Center BP Batam, Juni 2019 lalu. Mereka yang bergabung didalamnya, merupakan anak-anak muda Batam di blockchain, akan mendorong lahirnya inovasi untuk perkembangan Batam.

“Blockchain ini akan menjadi keunggulan Batam kedepan. Sehingga, jika masuk Batam, bisa menggunakan blockchain. Ditambah keunggulan kompetitif seperti FTZ,” ungkap Edy.

Program yang dicanangkan BP Batam juga diakui mendapat dukungan kuat dari Presiden RI, Joko Widodo dan Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution. “Apa lagi, diwilayah saya, sudah banyak industri four point zero (4.0). Sudah biasa melakukan pelayanan digital. Jadi modal kuat untuk membangun blockchain,” ujar Edy optimis.

Sehingga, tidak heran jika kemudian dengan semangat diceritakan Edy, bagaimana dia menandatangani proyek blockchain terbesar untuk wilayah Asia Tenggara di Singapura sebelumnya. Proyek itu senilai 140 juta dolar Amerika Serikat. Itu terkait dengan proyek yang sudah berjalan, dClinic dengan melibatkan Deloitte & Touche Financial Advisory Services Pte Ltd. dClinic menjadi bagian dari  Batam medical blockchain (BMB).

Sebagai bagian dari proyek-proyek di atas, dClinic dan BP Batam juga terlibat dalam kemitraan untuk memberikan program layanan kesehatan dan Vitalitas dCLinic di sejumlah retret di sekitar Batam. ‎‎Perkembangan terbaru dalam dukungan Batam digital economic zone, BUMN Sarinah menyiapkan show room dan start upoutlet di Batam. Lahan yang akan digunakan dengan nama Sarinah Batam designer outlet, berada diseberang Asrama Haji, Batam centre. Kendali transaksi menggunakan teknologi, sehingga memudahkan transaksi yang berjalan.

“Kita akan membuka Sarinan branded outlet di Batam. Itu akan dibangun diatas 3 hektar. Disana akan disediakan vactori outlet,” ungkap Director of Tranding and Property, Sarinah, Indyruwani Asikin Natanegara, membenarkan Edy.

Disampaikan, keunggulan Batam, dalam industri 4.0, selain kehadiran blockbatam, juga dukungan data centre yang besar. Teknologi Blockchain sebagai Smart Contract, akan menggunakan layanan data center dari pusat data dan Sistem Informasi (PDSI) BP Batam. Itu menjadi salah satu entitas bisnis di BP Batam.

Menurut Kepala Pusat Pengolahan Data dan Sistem Informasi (PDSI) Badan Pengusahaan (BP) Batam, Sylvia Malaihollo, data center, siap menjawab kebutuhan industri 4.0. Eksistensi PDSI diungkapkan, terlihat dari kegiatan yang berjalan di BP. Saat ini diakui, sudah tidak ada lagi yang dilakukan secara manual oleh BP Batam. Semuanya diselesaikan dengan sistem informasi yang terintegrasi dengan pemerintah pusat.

“PDSI BP sudah memanfaatkan komputasi awan (cloud computing), private cloud, colocation, replikasi data dan lainnya,” terang Sylvia.

Terlihat seorang karyawan yang mengontrol produksi dengan tablet di Schneider. F-ISTIMEWA

Kebijakan Jangan Cepat Berubah 

Menanggapi perkembangan industri dan kesiapan Batam di industri 4.0, anggota DPRD Provinsi Kepri, Onward Siahaan, mengingatkan. Dinilai, Batam masih memiliki keterbatasan pada tenaga kerja handal, perijinan yang belum sepenuhnya baik, walau ada perbaikan. Kemudian, lingkungan yang mendukung inovasi belum maksimal. Sehingga, pemerintah dan BP Batam harus segera membenahinya.

“Agar Batam dan Kepri menjadi salah satu kotributor utama perekonomian nasional, BP Batam harus meningkatkan profesionalisme  melalui  reformulasi penyusunan master plan yang holistik. Dengan  pelaksana  staf-staf kompeten dan  inovatif berwawasan entrepreunership  dengan mengedepankan prinsip good governance,” kata Onward.

Diingatkan, kebijakan ekonomi pemerintah pusat di Batam, cepat berubah. Mulai dari Kawasan berikat bonded ware house, kemudian diubah jadi kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas/free trade zone (FTZ) yang masa berlaku selama 70 tahun sejak tahun 1999 dan saat ini disiapkan Batam juga kawasan ekonomi khusus (KEK).

“Batam juga perlu payung hukum yang permanen dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan. Jangan setiap ada kepentingan tertentu masuk, kebijakan cepat berubah,” cetus Onward.

Kelemahan industri Batam saat ini, dinilai karena Batam hanya menjadi penerima dan pemroses pesanan dari Singapura, sehingga devisi lebih besar diterima Singapura. Diminta agar  Batam dikembangkan terencana serta terintegrasi dengan memperhatikan potensi Batam, yang besar dan strategis.

“Memang, industri pengolahan masih yang tertinggi dengan persentasi 35,38 persen, untuk PDRB. Namun economic scale Batam kecil,” imbuh Onward.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here