Siswa Diajari Memasak dan Menjahit

0
691
SISWI SMP Islam De Green Camp Tanjungpinang saat memasak bersama untuk makan siang di sekolah itu di Jalan Siswa, Rabu (15/8).F-martunas/tanjungpinang pos

Integrasi Tiga Kurikulum di SMP Islam De Green Camp Tanjungpinang

Siswi SMP Islam De Green Camp Tanjungpinang tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan sesuai kurikulum nasional. Juga dibekali dengan ilmu keislaman dan skill lainnya seperti menjahit dan memasak.

TANJUNGPINANG – SEKOLAH ini menerapkan tiga kurikulum sekaligus yakni Kurikulum 2013 (K13), Kurikulum Pendidikan Islam dan Kurikulum Kepribadian Muslimah.

Untuk K13, merupakan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sedangkan Kurikulum Pendidikan Islam dan Kurikulum Kepribadian Muslimah merupakan program Yayasan Tujuh Pilar Utama yang menaungi sekolah ini.

Kepala SMP Islam De Green Camp Tanjungpinang, Fajriah Laili S.Si mengatakan, sekolah ini khusus untuk perempuan. Satu orang pun tidak ada siswa laki-laki di sana.

Meski demikian, pihak yayasan rencananya tetap akan membuka SMP Islam De Green Camp untuk siswa laki-laki ke depan dan saat ini sedang persiapan. ”Sekolah kita ini khusus perempuan. Baru dua tahun buka. Baru ada Kelas VII dan VII. Tahun 2020 nanti, kita baru menamatkan siswi angkatan pertama,” ujar Fajriah kepada Tanjungpinang Pos, Rabu (15/8).

Saat ini, siswi Kelas VII ada 9 orang dan siswi Kelas VIII ada 12 orang. ”Mungkin karena sekolah baru, belum banyak yang tahu,” tambahnya.

Sekolah ini menerapkan pembelajaran seperti boarding school. Bedanya, siswa tetap pulang ke rumah, bukan tinggal di asrama atau pondok. Namun, pihak sekolah sudah menerapkan sekolah satu hari penuh atau full day school. Jadi, siswa sekolah hanya lima hari seminggu. Sabtu dan Minggu libur.

Baca Juga :  Hafal Quran, 156 Siswa SDIT As-Sakinah Diwisuda

Full day school yang diterapkan di sekolah ini jam belajarnya lebih lama dari sekolah lainnya. Karena siswa baru pulang pukul 17.00. Sedangkan sekolah lain yang full day school pulangnya sekitar pukul 16.30.

”Kenapa jam belajar kami lebih lama, karena ada Kurikulum Kepribadian Muslimah. Ada pembelajaran menjahit dan memasak untuk siswi,” terangnya wanita yang akrab disapa Laili tersebut.

Pelajaran life skill memasak diharapkan dapat menjadi salah satu media pembentukan kepribadian Muslimah. Saat siswi libur Sabtu dan Minggu, siswi sudah bisa memasak sarapan untuk keluarganya di rumah. Ini bagian dari PR siswa. Tak hanya diajari memasak, siswa Kelas VIII sudah diajari untuk membuat rancangan menu makanan termasuk membuat daftar belanja. Untuk belanja pun, siswi sendiri yang membelinya ke pasar.

Sistemnya, siswi dibuat per kelompok. Mereka membuat rancangan menu, lalu membuat daftar belanja yang harus disiapkan untuk menghidangkan menu tersebut. ”Setelah itu, guru kita mendampingi mereka belanja ke pasar. Yang membeli dan menawar ke pedagang, siswi itu sendiri. Guru kita hanya mendampingi, membantu dan menjaga keamanan mereka,” tambahnya lagi.

Baca Juga :  Infrastruktur MAN CI Dilengkapi

Jadi, siswi tak hanya diajari memasak, tak hanya diajari merancang menu, tak hanya diajari membuat daftar belanja, tak hanya diajari menawar barang, namun mental mereka juga disiapkan berinteraksi dengan masyarakat.

”Kemudian, siswi dilatih untuk bekerja sama. Karena saat memasak, siswi tidak dibiarkan sendirian. Namun bekerja secara kelompok. Secara otomatis, akan menghilangkan ego dalam diri masing-masing siswi,” ungkapnya lagi.

Agar siswi lebih mahir memasak, maka pihak sekolah menerapkan program lunch project. Setiap Rabu dan Jumat, siswi sesuai kelompoknya akan memasak untuk makan siang mereka di sekolah.

Seperti yang dilakukan siswi, Rabu (15/8) kemarin, satu kelompok itu nampak sibuk memasak di dapur. Mereka berbagi tugas. Ada yang memotong tempe, mengupas bawang, menggoreng ikan teri, menggoreng kacang tanah, memasak nasi dan menyiapkan piring.

Nasi yang sudah masak dimasukkan dalam mangkok. Kemudian piring disiapkan di meja makan. ”Setelah siap memasak, kita makan bersama di ruangan ini,” ujar Najriah seraya menunjukkan ruang makan bersama itu.

Rata-rata orangtua siswi puas dengan perubahan sikap putrinya yang belajar di sana. Jika selama ini tak tahu masak apa-apa, saat ini sudah bisa membuat beberapa menu makanan.

Baca Juga :  UNBK SMA Belum Menyeluruh

Apalagi, siswi selalu diberi tugas untuk menyiapkan sarapan bagi keluarganya masing-masing setiap Minggu pagi. Orangtua siswi akan mengirimkan video ke guru bahwa putrinya benar memasak di rumah.

”Bukan siswi kita yang membuat laporan. Tapi orangtuanya yang mengirimkan video atau gambar bahwa putrinya benar memasak di rumah,” bebernya lagi.

Adapun kegiatan menghafal Alquran di sekolah itu pada sesi pertama kegiatan belajar mengajar setiap hari pukul 07.20-09.00. Siswi mendapat bimbingan menghafal dan memuroja’ah hafalan Alquran-nya.

Lalu, apa itu lunch project? Siswi menggunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) atau Project Based Learning (PBL) pada kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan.

Lunch project merupakan salah satu PBL yang diselaraskan dengan mata pelajaran life skill memasak. Setiap Rabu dan Jumat siswi memasak untuk makan siang bersama.

Bahan-bahan project ini dibeli langsung oleh peserta didik yang bertugas belanja ke Pasar Bincen setiap dua pekan sekali. Peserta didik yang tidak sedang piket mengerjakan student project yang dapat berupa classroom management, gardening, kreasi mading, riset, tilawah, muroja’ah hafalan Alquran atau hafalan hadist Arba’in.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here