Siswa Dilatih Bikin Kerupuk

0
267
FOTO bersama usai pelepasan siswa SDIT As-Sakinah yang mengikuti home stay di Masjid Hidayatul Islamiyah Kampung Madong, Rabu (5/2) kemarin. f-martunas/tanjungpinang pos

Program Home Stay SDIT As-Sakinah Tanjungpinang

Sebanyak 84 orang siswa-siswi Kelas V SDIT As-Sakinah akan dilatih cara membuat kerupuk oleh salah satu Usaha Mikro Kecil Menangah (UMKM) di Kampung Madong, Tanjungpinang.

TANJUNGPINANG – KEHADIRAN mereka di kampung itu dalam rangka mengikuti Program Home Stay (PHS) dari sekolah itu. Mereka akan berada di sana selama tiga hari.

Pelepasan siswa-siswi ini sudah dilakukan, Rabu (5/2) kemarin di Masjid Hidayatul Islamiyah Madong yang dilepas Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, Drs M Yasir.

Hadir juga saat itu Ustaz Muqtafin M.PD selaku Ketua Yayasan Bina Insan Sakinah (YBIS) Tanjungpinang yang menaungi SDIT As-Sakinah, Ustazah Kimiatis Saadah selaku Kepala SDIT As-Sakinah Tanjungpinang, Hamzah Ketua RW Madong dan lainnya.

M Yasir mengatakan, program yang dijalankan sekolah tersebut sangat bagus dan hendaknya dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain terutama sekolah negeri.

Muqtafin menjelaskan, PHS merupakan program yang dijalankan di sekolah itu dan sudah dilakukan beberapa tahun ini.

Adapun tujuannya adalah untuk proses pembelajaran. Karena pembelajaran itu bukan hanya di ruangan kelas, juga di luar kelas seperti yang dilakukan sekolah itu.

Dikatakannya, dengan mengikuti program tersebut, para siswa dengan sendirinya akan dilatih untuk berjiwa sosial dan bekerja keras seperti yang mereka lihat di kampung itu, masyarakat harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Jika selama ini diantara mereka kebanyakan tinggal enak di rumah karena ekonomi orangtuanya mencukupi, maka dengan hadir di kampung itu, para siswa ini akan tahu betapa banyaknya warga yang harus kerja keras untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Sehingga saat mereka dewasa dan sukses nanti, para siswa ini akan tergugah hatinya untuk membantu sesama terutama yang ekonominya lemah.

Ia tidak mengatakan warga di Kampung Madong orang-orang yang ekonomi ke bawah, namun akan ada pengalaman siswa seperti apa tinggal daerah pesisir dibandingkan tinggal di kota.

Saat berada di sana, para siswa ini akan mengikuti kehidupan warga setempat. Harus terbiasa menyapu rumah, halaman, membersihkan tempat tidur, mencuci baju dan lainnya.

Kimiatis mengatakan, siswanya itu akan menginap dua malam di rumah penduduk di kampung itu. Mereka akan pulang, Jumat (7/2) besok setelah Salat Jumat.

Para siswa ini dibagi dalam 10 kelompok. Terdiri dari 6 kelompok siswi dan 4 kelompok siswa. Setiap kelompok didampingi satu orang guru.

Ada 18 guru yang diterjunkan ke sana dengan 8 orang panitia termasuk Kimiatis sendiri. Khusus untuk panitia, sudah disiapkan posko.

Sedangkan siswa akan tidur di rumah penduduk. Saat ditanya apakah para siswa itu membawa kasur sendiri, Kimiatis mengatakan, tidak. Sebab, dalam PHS ini, siswa diajarkan bagaimana hidup sederhana seperti tinggal di kampung.

Mereka akan tidur dengan alas seadanya saja. Orangtua juga tidak diperkenankan membawa kasur dan bantal ke lokasi itu. Agar anak-anak mereka biasa hidup sederhana dan mandiri.

Orangtua tetap bisa datang ke lokasi itu di malam hari, namun tetap tak bisa tidur di sana. Kalau sekedar ingin jumpa anaknya, tetap bisa. Namun tak bisa dibawa pulang. Karena itu, jika selama ini anaknya manja di rumah, maka inilah saatnya mereka ditempa agar bisa mandiri.

Para siswa ini juga tidak bisa meminta makanan yang enak seperti di rumahnya. Apa yang disajikan pemilik rumah, itulah yang mereka makan. Tidak ada permintaan dari pihak sekolah menu apa yang harus dimasak untuk anak-anak ini.

Namun, penduduk setempat selalu baik kepada anak-anak ini. Mereka malah sering disuguhkan makanan yang enak-enak dan berbagai jenis seafood.

Untuk menjalankan kegiatan tersebut, pihak sekolah membutuhkan setidaknya Rp20 juta hingga Rp25 juta. Itu sudah termasuk honor panitia dan kepada pemilik rumah yang menyediakan tempat dan makanan bagi siswa.

Tidak adalagi pungutan biaya kepada orangtua siswa. Sebab, setiap tahun ada Operasional Pembiayaan Pendidikan (OPP) Rp1 juta. OPP inilah yang dipakai untuk membiayai berbagai kegiatan setiap tahunnya.

Pantauan di lapangan kemarin, para siswa ini sangat bersemangat mengikuti PHS tersebut. Mereka membawa pakaian dan bukunya yang dimasukkan dalam tas.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here