Siswa Terkesima Kekuatan Kata-kata

0
563
BACA PUISI: Rida K Liamsi (atas) dan Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri membaca puisi sala tajuk Malam Seribu Kata PPTMA Lingga, Selasa (21/11) malam. f-fatih/tanjungpinang pos

Malam Seribu Kata Sempena PPTMA Lingga

Terakhir, 18 tahun lalu, tanah Daik, Lingga pernah punya hajatan sastra. Begitu lama dan begitu dirindukan. Kini, bersempena Perhelatan Pemuliaan Tamadun Melayu Antarbangsa (PPTMA), pesta kata-kata kembali terlaksana sekaligus masih bikin terkesima.

LINGGA – ADA dua gawai besar yang dihelat dalam waktu yang sama, Selasa (21/11) malam kemarin. Satu panggung utama di halaman Kantor Bupati Lingga diperuntukkan hiburan musik dan tari-tari Melayu. Di sisi lain, ada panggung dalam sebuah aula yang dijadikan singgasana para pujangga dalam tajuk Malam Seribu Kata.

”Nanti tidak penuh ini panggung di dalam gedung. Semua orang pasti lebih ingin lihat panggung utama,” kata Barozi, penyair muda Tanjungpinang yang datang ke Daik, Lingga.

Kekhawatiran Barozi beralasan. Bukan hal rahasia lagi bahwasanya pertunjukan pembacaan puisi itu kerap sepi, sunyi, dan jauh dari para penontonnya. Angan-angan melihat 200-an kursi terisi seolah khayalan mendapat nilai tukar Rupiah sejajar dengan dolar.

Tetapi, lebih baik berani berangan ketimbang diam saja. Malam semakin pekat. Jarum pendek jam sudah hampir sempurna di angka sembilan.

Barozi mulai garuk-garuk kepala. Bukan karena tidak ada orang yang memasuki ruangan. Justru, sekali lagi karena orang malah berduyun-duyun berebut kursi dalam aula.

Anak-anak sekolah, penduduk tempatan, semua berebut dapat menjadi saksi mata Malam Seribu Kata untuk kali pertama di Lingga.

Maklum saja jikalau ada banyak siswa di sana. Mereka, barangkali, ingin melihat dengan sepasang mata sendiri sosok para penyair yang selama ini puisi-puisinya menghiasai buku pelajaran bahasa Indonesia.

Semisal, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Malam kemarin, jadi malam pelepas rindunya setelah terakhir kali menginjakkan kaki di tanah Bunda Tanah Melayu pada 1999 silam.

Dari Jakarta, Sutardji pun tidak sendiri. Ada pula Asrizal Nur, penyair spesialis pembaca puisi di atas panggung. Lalu ada Hasan Aspahani, penyair masyhur sekaligus penulis biografi Chairil Anwar yang juga ingin berbagi puisi di tanah kelahiran istrinya.

Sedangkan dari Kepulauan Riau, juga hadir nama-nama penyair beken. Ada Husnizar Hood, Ketua Dewan Kesenian Kepri sekaligus Waka II DPRD Kepri dan juga budayawan sekaliber Rida K Liamsi.

Kepada Tanjungpinang Pos, Husnizar mengaku rela menyisihkan sedikit waktu di sela-sela kewajibannya sebagai wakil rakyat untuk menghadiri pesta kata-kata di Lingga.

”Ini adalah jalan utama melepas rindu baca puisi di Lingga setelah 18 tahun yang lalu. Makanya, saya harus bela-belakan datang ke sini,” ungkapnya.

Tepat pukul delapan lebih empat puluh lima menit, pembacaan puisi dimulai. Sederet-deret penyair kondang membacakan puisi terbaiknya.

Naik-turun silih berganti nama dipanggil. Gemuruh tepuk tangan selalu menggema usai pembacaan puisi berakhir. Nyata dan terang, ada terkesima dari raut ratusan siswa yang hadir di sana.

Meliana, siswa SMAN 1 Lingga, tak habis-habis menggambarkan keterkesimaannya.
Ia, yang pada malam kemarin ikut pula membacakan puisi di sana, ingin panggung pembacaan puisi semacam ini rutin dilaksanakan di Lingga.(FATIH MUFTIH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here