SMKN 1 Punya Bank Sendiri

0
1075
SISWA dan guru SMKN 1 Tanjungpinang siap melayani nasabah di Bank Mini Skansa sekolah itu.F-istimewa

31 Oktober, Bank Mini Skansa Tanjungpinang Diresmikan Gubernur Kepri

SMKN 1 Tanjungpinang kembali menggagas program baru dalam mendukung mutu lulusannya. Kini, SMKN 1 Tanjungpinang sudah memiliki bank sendiri.

TANJUNGPINANG – BANK Mini Skansa milik sekolah itu dikelola guru dan siswa. Dalam pembentukan dan pengawasannya serta untuk mendapatkan ilmu tentang perbankan, pihak SMKN 1 Tanjungpinang kerja sama dengan Bank Riau Kepri (BRK).

Kepala SMKN 1 Tanjungpinang, Delisbeth mengatakan, bank tersebut rencananya akan diresmikan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, 31 Oktober mendatang.

Saat ini, bank tersebut sudah dioperasikan. Adapun nasabahnya adalah guru-guru, kepala sekolah, pengelola kantin, siswa dan bisa juga untuk masyarakat.

Pengelolaan bank mini tersebut hampir sama dengan bank konvensional lainnya. Nasabah juga diberi buku tabungan dan tetap bisa print koran saldo tabungan.

Bank ini berada di lingkungan SMKN 1 Tanjungpinang di Jalan Pramuka, Tanjungpinang. ”Lokasinya di samping kantin. Nanti Pak Gubernur yang rencananya akan meresmikan bank kita ini,” ujar Delisbeth kepada Tanjungpinang Pos, kemarin.

Baca Juga :  Istilah Sekolah Favorit Harus Dihilangkan

Bank tersebut didirikan untuk keperluan sekolah termasuk sebagai sarana belajar untuk siswa terutama jurusan Perbankan Syariah.

Bank ini juga sebagai konsep link and match dunia pendidikan dengan dunia industri melalui pendidikan vokasi. Selama belajar di sekolah, siswa akan praktik di sana.

Sehingga saat Praktik Kerja Industri (Prakerin), siswa sudah punya bekal dan kemampuan. Dan diharapkan, lulusannya nanti cepat diterima bekerja karena sudah memiliki keahlian. Di sekolah ini ada beberapa jurusan yakni, Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Multimedia, Usaha Perjalanan Wisata (UPW), Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Perbankan Syariah dan Pemasaran.

Untuk jurusan Perbankan Syariah, sudah meluluskan empat angkatan dan rata-rata hanya satu kelas yang diterima setiap tahun. Khusus tahun ajaran 2018/2019, mereka menerima dua rombongan belajar (rombel). Dan peminat jurusan ini sangat banyak.

Selama ini, mereka tidak menerima banyak siswa jurusan Perbankan dikarenakan sulit mencari tempat prakerin. Dengan hadirnya bank mini tersebut, diharapkan akan memudahkan sekoah mencari tempat prakerin, karena siswanya sudah dibekali dengan kemampuan bekerja sebagai seorang pekerja perbankan.

Baca Juga :  Siswa Kepri Harus Berdedikasi

Dijelaskan Delisbeth, saat ini SMK dituntut untuk mengembangkan sekolah berbasis kopetensi keahlian agar siswa lulusannya memiliki kelebihan dan cepat terserap di dunia usaha setelah lulus. Kehadiran bank mini tersebut merupakan jawaban kebutuhan siswa di sekolah itu.

Siswa tak hanya belajar teori semata. Namun mereka mengelola bank tersebut, sehingga tahu cara melayani nasabah dan mengelola bank. Bank mini ini, kata Delisbeth, selain melayani nasabah, juga melayani tempat pembayaran listrik. Pembayaran SPP juga dilakukan melalui bank ini.

”Honor guru pun sudah lewat bank tersebut. Jadi transaksi itu tetap ada. Sebelum membuka bank ini, kita sudah dapat izin dari direktorat. Dan pihak Bank Riau Kepri juga mendampingi kita. Karyawan BRK jadi guru-guru tamu di sekolah kita,” bebernya lagi. Saat ini, total siswa di sekolah itu sekitar 1.654 orang dengan jumlah rombongan belajar 49 kelas. Tahun ini, ada dua guru sekolah itu yang pensiun dan mereka sudah dapat guru pengganti yakni, Guru Tidak Tetap (GTT).

Baca Juga :  Bantuan Transportasi Guru Honor Tak Merata

Adapun sekilas tentang sekolah ini yakni, SK Pendirian Sekolah : 3967/B-II. Tanggal SK Pendirian : 1-8-1956.

Awalnya sekolah ini adalah Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Negeri 1 Tanjungpinang yang berdiri, 1 Agustus 1956 dan menempati gedung milik sekolah asing Cina (Eks Toan Poon) di kawasan Jalan Teuku Umar Tanjungpinang.

Pada mula berdirinya sekolah ini membuka 3 (tiga) jurusan yaitu Tata Usaha, Tata Niaga, dan Tata Buku. Padatnya lokasi sekolah dan bergabungnya SMEA Pembangunan yang sore harinya memakai gedung yang sama membuat kurang maksimalnya kegiatan pembelajaran sehingga tidak layak dua sekolah menempati lokasi yang sama.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here