SMPN 11 Perkenalkan Permainan Rakyat

0
1094
BERMAIN: Siswa asal Singapura sedang bermain guli pakai sendok secara estafet.f-ISTIMEWA

Siswa Singapura Berkunjungi ke Senggarang

TANJUNGPINANG – Sekitar 34 orang siswa Jurongville Secondary School Singapura mengunjungi SMPN 11 Tanjungpinang di Senggarang, Jumat (12/5).

Siswa setara SMP di Indonesia ini datang ke Tanjungpinang ingin melihat budaya Melayu berkembang di sekolah. Ini merupakan bagian dari pelajaran ekstrakurikuler mereka di Singapura.

Kepala SMPN 11 Tanjungpinang Senggarang, Dr Mulia Wiwin mengatakan, yang datang ke sekolah mereka itu hanya satu lokal. Mereka adalah siswa kelas VIII atau siswa kelas II SMP. Mulia menjelaskan, sejak sekolah itu berdiri tahun 1995 lalu, ini pertama kali kedatangan tamu istimewa.

”Kalau saya tak salah, baru kali ini siswa dari negara luar mengunjungi sekolah kita,” ujar wanita yang baru wisuda doktor itu.

Sedangkan, siswa lain dari sekolah itu memilih negara lain untuk tempat kunjungan studi banding.

”Kebetulan siswa satu kelas ini ingin ke Tanjungpinang. Mereka ingin melihat budaya kita di sini,” bebernya.

Baca Juga :  Infrastruktur MAN CI Dilengkapi

Para siswa ingin tahu perkembangan budaya, maka pihak SMPN 11 pun menampilkan beberapa budaya lokal seperti tarian, nyanyi solo, marawis hingga permainan rakyat.
Adapun permainan rakyat yang digelar adalah membawa guli pakai sendok secara estafet. Lomba dilakukan dengan beberapa kategori. Siswa Singapura melawan siswa SMPN 11 dan gabungan siswa.

”Kita sengaja menggabungkan siswa Singapur dengan siswa kita secara berkelompok untuk bermain membawa guli. Tujuannya agar mereka berinteraksi dan saling kenal,” bebernya.

Karena hujan, permainan tidak bisa dilakukan di lapangan. Permainan estafet membawa guli ini akhirnya dilakukan di teras sekolah.

Siswa yang satu kelompok berlomba-lomba membawa guli dari garis finis kemudian memindahkan guli yang dibawa ke sendok milik teman satu timnya. Demikianlah guli itu secara estafet dibawa.

Ratusan siswa pun bergabung untuk menyaksikan permainan rakyat ini. Mereka tertawa karena kebanyakan gagal memindahkan guli dari satu sendok ke sendok milik kawannya.
Kemudian, nampak juga siswa Singapura bercengkrama dengan siswa lainnya termasuk sedikit belajar gerakan.

Baca Juga :  Bantuan Transportasi Guru Honor Tak Merata

Namun, tak jarang siswa hanya duduk berdiri dan tidak mencari teman Singapura lantaran beda bahasa. Salah satu siswa saat ditanya kenapa tak bergabung dengan siswa Singapura, bocah berkulit coklat itu tertawa seraya mengatakan, tak ngerti (bahasa Inggris).

Di sekolah itu, Mulia Wiwin juga melakukan interaksi dan diskusi dengan para guru Singapura. Saat itu, Mulia menjelaskan kurikulum secara nasional dan muatan lokal di sekolah itu. Informasi yang diperoleh Wiwin dari guru Singapura itu, bahwa sekolah setingkat SMP di Singapura adalah 4-5 tahun. Yang tamat 4 tahun adalah mereka yang masuk kelas akselerasi.

Sedangkan siswa yang tamat 5 tahun adalah mereka yang belajar di kejuruan tertentu. Semua siswa Singapura dibantu pemerintah setempat untuk biaya pendidikannya.

Baca Juga :  Segera Operasionalkan SWRO Batu Hitam

Di Indonesia, kata Wiwin, siswa juga dapat bantuan dari pemerintah. Namun jumlahnya tidak sebesar di Singapura. Siswa yang dapat bantuan pun adalah mereka yang berasal dari kalangan kurang mampu.

“Kalau di negara mereka, semua siswa diberi 500 dolar Singapura dan langsung ke rekening siswa. Semua dapat. Ini untuk membantu peningkatan mutu siswanya. Itu yang saya dengar dari guru-guru Singapura tadi,” ungkapnya lagi.

Sapril Sembiring, pihak travel yang membawa siswa Singapura ini mengatakan, kunjungan ke negara lain bagi siswa Singapura dilakukan setiap tahun dan dibiayai negara.

”Mereka super-super safety. Tidak sembarangan membawa anak-anak ini. Karena kalau lecet sikit misalnya, ribut sampai kemana-mana. Pokoknya harus super safety dan mendapatkan pelayanan baik,” ungkapnya.(DESI LIZA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here