Startup Pariwisata Gayung Masa Depan Daerah

0
76
Hendri Kremer

Oleh: Hendri Kremer
Dosen Batam Tourism Polytechnic (BTP) dan Institut Teknologi Batam (ITEBA) Yayasan Vitka

Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah startup dalam dunia bisnis di Indonesia, sebenarnya apa sih arti dari istilah startup itu? Kendati menggunakan bahasa Inggris sebenarnya, startup adalah sebuah perusahaan yang baru saja dibangun atau dalam masa merintis usahanya, namun tidak berlaku bagi semua bidang usaha, istilah startup ini lebih dikategorikan untuk perusahan bidang teknologi dan informasi yang berkembang di internet.

Kurangnya perhatiaan pemerintah pusat dan daerah untuk mengembangkan startup ini sebagai salah satu katalisator perekonomian, akhirnya menjadikan usaha rintisan ini menjadi sporadic. Padahal kalau digarap secara professional bahkan diberikan dana untuk dikembangkan ratusan anak muda yang berbakat di bidang programmer dan desain dapat memanfaatkan peluang ini. Pemerintah daerah apalagi, sama sekali tidak menyentuh startup sebagai salah satu bisnis masa depan yang menggiurkan.

Salah seorang mantan mahasiswa penulis di salah satu perguruan tinggi di Batam, ketika bertemu mengatakan bahwa bisnis ini sebenarnya berpotensi untuk berkembang khususnya di Kepulauan Riau. Dia menuturkan kepada penulis bahwa dia dan tujuh temannya sedang merintis startup yang digunakan untuk wisatawan asing dan dalam negeri, untuk mencari tempat-tempat wisata secara spesifik dan dapat dikunjungi dengan hanya mengklik di aplikasi yang sedang dikembangkan mereka.

Dia memberikan contoh kepada penulis bahwa bisnis startup lokal Indonesia yang sudah memiliki keuntungan triliunan rupiah karena diawali dengan sebuah laptop, wifi, dan orang-orang muda yang kreatif. Antara lain Bukalapak, Go-Jek, Kaskus, Tiket.com dan banyak lainnya.

Dengan kata lain, definisi bisnis startup adalah suatu bisnis yang baru berkembang. Namun, bisnis startup ini lebih identik bisnis yang berbau teknologi, web, internet dan yang berhubungan dengan ranah tersebut. Bisnis startup berkembang akhir tahun 90an hingga tahun 2000, nyatanya istilah Startup banyak. Kenapa pemerintah daerah mesti menghabiskan uang ratusan miliar dengan membangun infrastruktur yang manfaatnya kecil? Sedangkan bisnis nyata dan menghasilkan uang triliunan rupiah dibiarkan menguap begitu saja. Naif. Harusnya membangun infrastuktur digital banyak manfaatnya dan mendunia.

Dari pembicaraan singkat penulis dengan mantan mahasiswa tersebut penulis berusaha mencari informasi dari berbagai sumber dan mendapati beberapa karakteristik perusahaan startup: Usia perusahaan kurang dari 3 tahun dengan jumlah pegawai kurang dari 20 orang dan pendapatan kurang dari $ 100.000/tahun, dengan kondisi masih dalam tahap berkembang, yang umumnya beroperasi dalam bidang teknologi, dengan produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital, dan biasanya beroperasi melalui website.

Khusus Kepri saat ini bisnis startup yang bisa dikatakan sebagai lembah silicon Kepri hanya ada di Nongsa Digital Park (NDP) hanya saja, ini masih dikuasai tenant dari luar negeri bukan lokal. Kan sayang, kenapa tidak anak-anak muda seperti mahasiswa kreatif dikumpulkan dan modali oleh pemerintah daerah lalu keuntungan dibagi. Modalnya tidak besar, namun hasilnya bisa menutupi APBD 10 tahun.

Startup Pariwisata
Provinsi Kepulauan Riau memilik potensi yang luar biasa dibidang wisata. Akan tetapi, kondisi ini tidak ditunjang dengan kemajuan teknologi. Pemda hanya melakukan promosi manual yang menghabiskan biaya yang besar dan dampaknya kecil, tidak mendunia. Akan tetapi jika difokuskan dan mengikuti jaman kenapa tidak mengembangkan bisnis startup merangkul generasi muda untuk membuat startup yang fokus mempromosikan wisatanya.

Mungkin saja, tempat makanan enak dengan mengandalkan startup buatan lokal yang tentunya lebih rinci dan mengetahui seluk beluk daerahnya akan lebih bermanfaat bagi turis. Jika berpatokan pada startup besar seperti Google mereka hanya memuat iklan tempat-tempat besar saja. Tidak secara detail menjelaskan secara rinci nasi lemak enak di warung-warung tertentu. Dan yang lebih menguntungkan adalah memberdayakan karya dan cipta generasi muda muda kreatif.

Promosi merupakan kunci bagi dikenalnya pariwisata Tanjungpinang, Batam, Natuna, Anambas, Karimun ke depan, ini terbukti dari hasil promosi ke luar negeri. Khusus ke ‘Negeri Jiran’ peningkatan jumlah wisman yang berkunjung ke Kepulauan Riau selain Bintan mengalami lonjakan.

Tentu saja, diperlukan trik sendiri untuk berpromosi. Pemda bisa saja merangkul startup lokal untuk diajak bergabung, biaya kecil hasil besar. Berbagai upaya dilakukan antara lain dengan ikut pameran di Singapura dan Malaysia hanya membuang biaya. Pameran seperti itu hanya datang, berpose lalu pulang tidak efektif. Kepulauan Riau merupakan destinasi wisata yang bisa ditawarkan kepada pihak asing, bagaimana mereka tahun lebih banyak sedangkan mereka kekurangan informasi.

Saat ini dunia sudah didominasi internet, buktinya paket promo yang dijual secara manual di pameran-pameran tidak begitu diminati akan tetapi paket promo yang dijual melalui aplikasi habis terjual. Apa yang dikatakan Gubernur Kepulauan Riau H. Nurdin Basirun agar generasi muda harus menguasai digitalisasi dan teknologi bukan tidak memiliki latar belakang. Sebab, beliau tahu benar, usaha saat ini harus berlandaskan teknologi dan digital. Kita tidak bisa menjadi penonton di daerah sendiri, sementar startup dari daerah lain menguasai bisnis startup yang ada.

Pariwisata adalah andalan Kepri saat ini, setelah dunia industri di Kepri sudah mulai anjlok tentu kita harus mencari alternative lain. Yaitu menjual potensi daerah kepulauan yang indah ini. Mari kita kembangkan startup lokal karya anak-anak daerah dengan merangkul mereka dan memberikan pendidikan pengenalan cara membuat, dan mengembangkan usaha startup yang tentu saja bisa menguntungkan daerah ini sendiri.

Sebagai informasi Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Riau (BPS) Kepri Jumlah wisatawan man canegara  atau wisman yang berkun jung  ke Provinsi  Kepulauan  Riau  pada  bulan  Januari 2019  mencapai 185.377 kunjungan, mengalami penurunan 41,97% dibanding jumlah wisman pada bulan sebelumnya, dimana jumlah wisman pada Desember 2018 sebanyak 319.451  kunjungan.  Jika dibandingkan dengan Januari  2018, kunjungan wisman Januari 2019 justru menga lami kenaikan, yaitu sebesar 18,09%. 

Wisman yang berkunjung ke Pro vin si Kepulauan Riau pada bulan Januari 2019 didominasi oleh wisman berkebangsaan Singapura dengan persentase sebesar 47,75% dari total jumlah wisman pada Januari 2019. 

Tingkat  Penghunian  Kamar  (TPK) hotel  berbintang   di Provinsi  Kepulauan  Riau pada  bulanJanuari 2019 mencapai rata-rata 65 ,63% atau naik 7,33 poin dibanding TPK Nov ember 2018 sebesar 58,30%.

Rata rata  l ama   menginap   tamu  asing  dan  tamu Indonesia  pada hotel  berbintang di  Provinsi  Kepulauan  Riau  pada  bulan  Januari 2019  adalah 2,07 hari atau naik 0,36 poin diban ding dengan rata-rata lama mengi nap tamu pada Desember 2018.

Semoga dengan diliriknya startup pariwisata yang memberdayakan anak-anak negeri diharapkan keuntungan besar dari ‘demam’ digital saat ini dalam menyambut revolusi industri 4.0 dapat dilirik pemerintah daerah maupun lembaga pendidikan di Kepri***
Hendri Kremer. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here