Stisipol Lirik Anambas Sebagai Lokasi KKN Berikutnya

0
527
Mahasiswa KKN Stisipol saat membuat gapura HUT kemerdekaan RI di Desa Sebadai Hulu, Kecamatan Bungaran Timur Laut Natuna, baru-baru ini. F-istimewa

TANJUNGPINANG – Pihak Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang akan mempertimbangkan Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), sebagai lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke depan setelah Kabupaten Natuna.

Belum lama ini, mahasiswa-mahasiswi Stisipol Raja Haji telah selesai melaksanakan KKN di wilayah perbatasan tepatnya di 17 desa yang berada di Natuna selama kurang lebih 40 hari.

Ketua Stisipol Raja Haji Endri Sanopaka MPM mengaku tengah mempertimbangkan Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai lokasi KKN berikutnya setelah Natuna.

Sebab, karakteristik wilayah Anambas yang terdiri dari pulau-pulau menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa-mahasiswi Stisipol untuk mengabdi kepada masyarakat di sana.

”Anambas juga memiliki karakteristik mirip seperti Natuna yang juga berada di wilayah terdepan dan terluar. Selain itu, masih terdapat keterbatasan akses sinyal pelayanan telekomunikasi yang memadai,” sebut Endri.

Untuk itu, pihaknya akan mempelajari serta melakukan survei lapangan terlebih dan hasilnya nanti akan dibahas lebih lanjut sebelum menguji coba sebagai lokasi KKN.

”Kemungkinan untuk tahap awal hanya desa yang ada di Letung. Sebab, desa-desa lainnya juga terpisah pulau dan rentang kendali yang jauh. Tentunya butuh tahapan dan proses persiapan yang matang untuk dilirik sebagai lokasi KKN berikutnya,” ungkap Endri.

Sebelumnya, 179 mahasiswa dan mahasiswi Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah perbatasan tepatnya Kabupaten Natuna untum menggerakan potensi desa.

Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang Endri Sanopaka S Sos MPM mengatakan, target mereka sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk.

Namun, yang paling penting adalah bagaimana peserta KKN bisa diterima keberadaannya di tengah-tengah masyarakat dan pemerintah desa setempat tentunya.

Karena pelajaran penting yang harus mereka dapatkan adalah, bagaimana bisa menggerakkan potensi masyarakat desa yang ada dengan pendekatan partisipatif.

”Selain itu, mahasiswa harus kreatif dalam menyumbangkan suatu ide baik dalam menggelar suatu kegiatan atau pun saat menjalankan program kerja,” sebut Endri Sanopaka yang juga turut mendampingi mahasiswa-mahasiswi-nya di Natuna baru-baru ini.

Keberangkatan rombongan KKN saat itu mengunakan KM Bukit Raya yang bertolak dari Pelabuhan Sribayintan, Kijang. KKN di Natuna kali ini merupakan yang ke-2 dan pelaksanaan perdananya tahun 2017 lalu sebanyak 130 orang.

Dari 179 mahasiswa-mahasiswi yang ambil bagian, dibagi menjadi 17 kelompok yang disebar di 17 desa di empat kecamatan yang ada di Natuna.

Empat kecamatan itu diantaranya, Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Kecamatan Bunguran Tengah serta Kecamatan Bunguran Selatan. Setiap kelompoknya terdiri dari 10 hingga 11 orang mahasiswa-mahasiswi.

Endri Sanopaka mengatakan, pelaksanaan KKN di Natuna kali ini lancar dan sesuai dengan misi pengabdian masyarakat yang direncanakan lewat program-program yang telah disusun.

Endri juga menginginkan mahasiswa yang KKN di Natuna membangkitkan semangat nasionalisme dan wawasan kebangsaannya.

Sebab, peran mahasiswa-mahasiswi di perbatasan sangat dibutuhkan masyarakat baik secara sosial maupun ilmu pengetahuannya. Natuna merupakan pulau terluar yang dekat perbatasan Laut Natuna Utara.

”Kita mengharapkan mahasiswa KKN tahun ini bisa merasakan atmosfer kehidupan masyarakat perbatasan dan bisa beradaptasi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat,” kata Endri.

Menurutnya, tantangan bagaimana mengubah pola pikir dan melebur dengan masyarakat desa di perbatasan adalah peran yang harus dijalankan sebagai seorang mahasiswa sesuai Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian kepada Masyarakat. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here