Studi Lapangan di Penyengat

0
578
MAHASISWA dan mahasiswi Kampus Stisipol Raja Haji Tanjungpinang foto bersama setelah melaksanakan studi lapangan di Pulau Penyengat, baru-baru ini. F-istimewa/humas stisipol

Mahasiswa Stisipol Belajar tentang Pembangunan Partisipatif

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja haji Tanjungpinang melakukan studi lapangan ke Pulau Penyengat, Rabu (16/5) lalu.

TANJUNGPINANG – Mahasiswa yang mengikuti studi lapangan sebanyak 30 orang, yaitu mahasiswa semester 6 Program Studi (Prodi) Ilmu Administrasi Publik serta Ilmu Sosiologi. Rombongan mahasiswa-mahasiswi dari dua prodi itu, langsung dibimbing dosen, yakni Suyito S Sos Msi. Kegiatan ini juga merupakan salah satu syarat, untuk nilai akhir semester dari mata kuliah Pembangunan Partisipatif.

Theresia Lature mahasiswi jurusan Ilmu Administrasi Publik mengatakan, kegiatan ini di bagi menjadi 7 kelompok dan pembahasan yang berbeda beda. Seperti misalkan, ada mengulas tentang sejarah, pemetaan wilayah, pergorganisasian masalah yang ada di Penyengat.

”Kebetulan kelompok aku tentang pengorganisasian masalah, jadi kami mewawancarai masyarakat disitu mengenai keluhan dan masalah apa saja yang ada di sana,” ujar Theresia, Kamis (24/5).

Ia menjelaskan, dari keluhan masyarakat di sana masih banyak masalah yang terjadi seperti masalah kesehatan yang belum maksimal. Hal itu dikarenakan, lanjut Theresia, cuma ada puskesmas dan dokter atau bidannya tidak tinggal di Pulau Penyengat.

”Jadi kalau ada yang sakit, kita harus ke Tanjungpinang untuk membawa pasien kalau dokter dan bidannya tidak di sana. Selain itu, anak-anak yang putus sekolah hanya sampai jenjang SMP. Karena SMA belum ada di sana,” terangnya.

Ia juga menambahkan, turut menyinggung masalah air bersih yang ada di Pulau Penyengat. Sebab, masyarakat Pulau Penyengat sehari-hari menggunakan air sumur.

Karena rata-rata masyarakat Pulau Penyengat memiliki sumur bor dan tradisional dan hingga saat ini hal itu tidak ada masalah serius. Seperti yang dilihat, Pulau Penyengat juga telah memiliki sarana Reverse Osmosis (RO).

Dengan RO, air laut dapat diubah menjadi air tawar lewat mekanisme khusus. ”Adanya SWRO tentunya solusi untuk masyarakat, ketika mengalami musim kemarau yang menyebabkan kekeringan. Sebab, kekeringan pernah melanda Tanjungpinang termasuk Pulau Penyengat,” ungkapnya.

Walaupun begitu, ada juga yang membeli air dengan harga 1 jeriken dengan harga Rp1.000. ”Kesimpulan dari hasil kunjungan kami ke Penyengat dan hasil keluhan masyarakat di sana. Pemerintah selaku penyelenggara dalam mewujudkan good governance belum maksimal, dalam mensejahterakan masyarakat yang ada di Pulau Penyengat,” tutur Theresia.(ADLY BARA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here