Suami Bikin Peti, Istri Bikin Nisan

0
1156
PETI MATI: Neti menunjukkan salah satu jenis peti mati yang dijualnya. F-yoan/tanjungpinang pos

10 Tahun Berbisnis Kebutuhan Orang Mati 

Orang mati butuh keperluan sebelum dimakamkan. Butuh nisan dan peti mati. Ini juga salah satu bisnis. Namun, tidak mudah berbisnis kebutuhan orang mati. Karena kadang didatangi arwah yang dimakamkan.

Tanjungpinang – BANYAK jalan yang bisa ditempuh dalam mengarungi kehidupan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Orang bisa memilih pekerjaan apa saja, selagi memiliki nilai manfaat.

Yang penting bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyediakan keperluan orang mati pun dilakukan. Seperti pasangan suami istri ini yang lebih memilih bisnis yang sedikit horor untuk meraup keuntungan tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Sepuluh tahun sudah lamanya pasangan Yusneti (52) dan Edi (63) menekuni bisnis horornya. Namun demikian hingga detik ini mereka masih belum ingin berpaling dari usaha yang bisa bikin bulu kuduk berdiri itu.

Baca Juga :  Pipa ATB Bocor, Pasokan Air Berkurang

”Namanya usaha pasti mau untung. Mana ada orang jualan tidak mau untung. Tapi tidak hanya di dunia, di akhirat juga kami bisa untung,” kata Yusneti membuka sesi wawancara bersama Tanjungpinang Pos, Senin (3/4) di lapak bisnisnya Batu 5 Atas.

Neti, begitu biasa disapa mengaku cukup betah berjualan atribut duka dimulai dari usaha nisan kubur. Usaha yang digelutinya semakin maju dengan tambahan pilihan plakat nama dan rumah kuburan.

Bahkan saat ini, usaha yang dimulainya 10 tahun lalu pasca sang suami pensiun dari kerja kapal melebar ke pembuatan peti mati baik yang sudah jadi maupun berdasarkan pesanan.

”Saya akui, Suami saya (Edi, red) adalah mualaf. Kami berpikir usaha apa yang bisa memberikan keuntungan di dunia dan di akhirat. Kami sepakat memilih usaha ini,” kata dia.

Patut diacungi jempol. Pasangan suami istri ini sangat kompak dalam berbisnis kebutuhan orang mati. Ketika sang istri dengan kepiawaiannya mendesain plakat nama untuk di nisan, sang suami malah asik bertukang untuk menciptakan karya terbaik yang bakal dibawa ke dalam kubur.

Baca Juga :  Pembangunan Natuna Sesuai Nawacita Jokowi-JK

”Awalnya takut-takulah, bahkan sampai terbawa mimpi. Kadang didatangi arwah yang dimakamkan. Tapi niat kita bukan hanya di bisnis saja, kita juga mau beramal untuk pahala sebagai tabungan,” kata sang suami menjawab sambil asik bergelut dengan kayu dan gergaji.

Tanpa anak buah atau karyawan, Edi mengaku membuat puluhan peti mati dengan tangannya sendiri secara manual.

”Untuk satu peti mati standar lama pengerjaannya 7 hari, belum termasuk pesanan berdasarkan permintaan keluarga duka,” ucapnya.

Harga yang dipatok diakui mereka sangat beragam dimulai dari Rp 1,8 juta hingga Rp 15 juta. Bahkan tidak sedikit mereka menjual dengan harga miring karena mengingat bisnis mereka juga untuk keuntungan akhirat.

Baca Juga :  Bisa Sumbang Tenaga dan Semen

”Yang agak mahal misalnya berdasarkan pesanan. Ada yang minta dibuatkan segi empat, segi lima, bahkan hingga segi enam. Kalau kayunya kita pakai kayu kapur,” jelasnya menguraikan.

Saat ini, pasangan yang kompak dalam bisnis peti mati berharap adanya kepedulian pemerintah dalam memberikan bantuan peralatan tukang, mengingat usia yang semakin senja, serta diyakini bisa mempercepat proses pengerjaan.

”Alhamdulillah pesanan itu ada saja, baik batu nisan, hingga peti mati. Tapi terkendala di masalah pengerjaan karena masih manual belum pakai mesin. Kalau ada bantuan alat tukang saya mau supaya suami saya bisa terbantu kerjanya,” kata Neti.(Yoan S)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here