Suara Musik THM Ganggu Ketenangan Warga

0
837
BUPATI Anambas Abdul Haris ketika meninjau kawasan THM di Jemaja bersama tim Satpol-PP pada tahun lalu.f-istimewa

ANAMBAS – Maraknya kafe remang-remang adi Kecamatan Jemaja Kabupaten Kepulauan Anambas, membuat resah sejumlah masyarakat.

Pemerintah Daerah diminta untuk segera menertibkan, atau melarang kafe beroperasi didalam lingkungan masyarakat.

”Kami harapkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas agar segera menindaklunjuti atas usulan kami ini. Kami nilai, sejauh ini seakan terjadi pembiaran dan atau sudah resmikah warung remang-remang itu dalam perizinan,” kata Afiar, selaku Tokoh Pemuda Kecamatan Jemaja ketika menghubungi wartawan, Jumat (4/1).

Menurutnya, pihak aparat Kecamatan Jemaja dan ada juga Lembaga Majelis Ulama Indonesia (MUI) ditambah lagi ada organisasi pemuda yakni Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tingkat kecamatan tidak bergeming ketika maksiat meraja lela dilingkungan masyarakat.

Baca Juga :  Dewan Pertanyakan Dana Taskin dari Pemprov

”Kenapa tidak, setiap malam tiba, suara musik dangdut, rock, slowrock dan bermacam jenis musik lainnya diputar, terasa pecah kuping mendengarnya. Karena kafe itu berada di sekitar pemukiman warga. Parahnya lagi, telah disediakan wanita-wanita muda belia jika pengunjung kafe tiba disana,” ucap dia.

Ia tidak menghambat para pengusaha menjalankan bisnisnya, namun perlu dipertimbangkan juga masyarakat lain yang memiliki hak dalam mendapatkan pelayanan keamanan dan kenyamanan dalam menikmati kehidupan dinegara ini.

Perlu diaturnya peraturan terkait lokasi dalam mendirikan bisnis tersebut.

Baca Juga :  Berharap KKN Dapat Memenuhi Harapan Masyarakat

”Saya pernah dengar Pemda telah menerbitkan Perda tentang Minuman Beralkohol (Mikol). Tapi apakah aparat penegak Perda tersebut, menjalankan tugasnya. Kami butuh pelayanan keamanan dan kenyamanan dalam berkehidupan,” sebut dia.

Afiar juga menambahkan, sebelumnya Bupati Anambas Abdul Haris juga pernah melakukan operasi mendadak (Sidak) disejumlah kafe di Kecamatan Jemaja. Bahkan melihat langsung, adanya wanita penghibur itu dan hal itu terbukti olehnya.

”Kami harap pemilik kafe jangan menyediakan wanita penghibur. Kalau menyediakan tempat hiburan malam untuk bernyanyi menurut saya masih wajar. Selain itu, sejumlah THM) yang ada di Kecamatan Jemaja dan dinilai sudah tidak memiliki tata kerama karena beroperasi tanpa batas waktu,” tegasnya. (ign)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here