Suka-Duka Segantang Lada

0
297

Bagian Kedua dari Tiga Tulisan

MAU tak mau, suka tak suka, apa pun cabarannya, aktivitas berlayar ke Singapura tetap mereka laksanakan dan tetap tanpa dokumen resmi. Pasalnya, jika aktivitas itu menggunakan dokumen resmi malah mendatangkan kerugian karena muatan yang mereka bawa tak seberapa (1—3 ton). Sejak itu, sekira tahun 50-an, aktivitas perdagangan antarpulau dengan tujuan Singapura itu, oleh masyarakat tempatan, disebut dan dikenal dengan istilah smokel. Secara umum, kita mengenalnya dengan istilah penyelundupan.

Setelah aktivitas berlayar ke Singapura tanpa dokumen resmi menjadi terlarang, para pesmokel harus berhadapan dengan polisi perairan, patroli bea cukai, dan aparat lain yang terkait dan tak terkait juga, yang penting aparat. Dengan kata lain, jika melakukan aktivitasnya, para pesmokel akan ditangkap dan diancam hukuman penjara. Namun, sering juga terjadi permainan pungli (pungutan liar) dalam arti pesmokel tak ditangkap, tetapi harus menyerahkan sejumlah uang kepada oknum aparat yang menangkap mereka. Kenyataan seperti itu menjadi pemandangan yang biasa di daerah perbatasan, khasnya perbatasan laut antara Kepulauan Riau (Indonesia) dengan Singapura dan Malaysia. Tak semua orang sanggup membayar sejumlah uang yang diminta oknum aparat tersebut karena barang bawaan mereka memang sedikit sehingga mereka harus rela ditangkap dan dipenjara.

Sering pula terjadi peristiwa kejar-kejaran antara kapal patroli perbatasan dan para pesmokel, bahkan sering dilakukan penembakan oleh kapal patroli tersebut. Dalam situasi seperti itu, ada juga pesmokel yang mati tertembak atau perahu mereka tenggelam di laut. Walaupun maut sebagai taruhannya, aktivitas bersmokel tetap dilakukan oleh masyarakat. Pasalnya, barang-barang yang mereka bawa mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi di Singapura karena dibayar dengan mata uang dolar Singapura, sedangkan barang-barang keperluan sehari-hari yang mereka beli di Singapura jauh lebih murah daripada harga barang yang sama di kampung mereka masing-masing.

Ancaman lain yang juga sering mengintai adalah terpaan angin ribut (topan) dan amukan gelombang. Perahu kecil yang sarat muatan memang sangat riskan berhadapan dengan terpaan ribut dan hempasan gelombang. Dalam pada itu, tak jarang terjadi perahu-perahu pesmokel terlanggar (tertabrak) oleh kapal-kapal kontainer yang berlalu-lalang di daerah perbatasan itu. Pasalnya, perahu-perahu pesmokel berlayar pada waktu malam dan tak menggunakan penerangan apa pun—jika menggunakan penerangan mereka akan sangat mudah ditangkap oleh patroli laut—sehingga mereka tak terlihat oleh nakhoda kapal yang melintas di sana. Jika terjadi peristiwa terlanggar oleh kapal-kapal besar itu, mautlah taruhannya.

Dalam perkembangan selanjutnya, aktivitas bersmokel tak lagi menggunakan perahu layar. Pasalnya, gerak perahu layar yang lambat menyebabkan pesmokel sangat mudah ditangkap oleh patroli laut. Dimulailah bersmokel dengan menggunakan perahu bermotor. Di samping lebih cepat, muatannya pun menjadi lebih banyak sampai dengan 5—10 ton sesuai dengan kapasitas perahunya. Walaupun begitu, yang berlayar dengan muatan hanya 1—3 ton masih tetap ada walaupun sekarang mereka tak lagi menggunakan perahu layar.

Jenis barang yang dibawa pun ada penambahan, terutama rokok kretek Indonesia, yang banyak peminatnya di negeri jiran dan harganya cukup mahal di pasar gelap Singapura jika dibandingkan dengan harga di Kepulauan Riau. Dalam hal barang yang terlarang juga dibawa ke Singapura itu, pesmokel tak hanya berhadapan dengan aparat Indonesia, tetapi juga aparat Singapura. Akan tetapi, itu tadi, apa pun cabarannya, pekerjaan smokel itu tetap dilakukan oleh sebagian masyarakat Kepulauan Riau untuk mendapatkan harga jual barang mereka yang lebih tinggi, sebaliknya harga beli barang-barang keperluan sehari-hari yang lebih rendah.

Setelah barang-barang elektronik buatan Tiongkok dan Indonesia serta barang-barang perabot rumah tangga yang didatangkan dari Jakarta dan atau kota-kota lain di Pulau Jawa membanjiri pasar Kepulauan Riau dan harganya mulai terjangkau oleh masyarakat, aktivitas smokel tak lagi membawa barang-barang seperti itu yang dibeli di Singapura. Akan tetapi, barang-barang keperluan hidup sehari-hari tetap dibawa karena harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan yang dijual di pasar-pasar se-Kepulauan Riau, yang didatangkan dari Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Sisa lebih dari penjualan barang yang dibawa ke dan dibeli di Singapura tentulah uang dolar Singapura. Itulah yang dibawa pulang oleh para pesmokel untuk dibelanjakan untuk pelbagai keperluan hidup mereka sehari-hari. Pendek kata, sesiapa pun yang berani melakukan aktivitas bersmokel kehidupannya relatif lebih sejahtera dibandingkan dengan orang-orang yang tak berani melakukan aktivitas berlayar yang terlarang itu. Menariknya lagi, smokel tak dianggap kejahatan oleh masyarakat Kepulauan Riau umumnya karena mereka mengacu pada keberadaan Kepulauan Riau dan Singapura pada masa lalu. Lebih daripada itu, tuntutan kehidupanlah yang membuat mereka masih tetap bersmokel. Dalam hal ini, tak ada pasar setempat yang membeli produk masyarakat dengan harga yang sebanding dengan pasar Singapura.

Dengan latar kehidupan smokel itulah, Irwanto menjalinkan kisah seorang pemuda Kepulauan Riau, Yunus. Tak hanya suka-duka dan perjuangan Yunus berniaga secara gelap (smokel) itu saja yang diperikan, tetapi juga kisah cinta Yunus terhadap Tini, gadis Singapura. Dara pujaannya itu bukan pula sebarang gadis. Dia anak bos besar (orang yang menampung barang-barang)-nya di Singapura. Batin pemuda pulau itu berkecamuk. Bahkan, dia sampai berniat kalau Tini menerima cintanya dan direstui oleh ayahnya, smokelnya kali itu merupakan smokel terakhirnya, yang untuk selanjutnya dia akan berkunjung ke Singapura dengan menggunakan paspor pelancong (turis). Tentulah untuk melamar Tini. Sampai-sampai, karena cintanya, Yunus berniat juga untuk pindah warga negara, menjadi warga negara atau sekadar penduduk tetap Negeri Singa itu.

Duh, siapakah yang menyangka ternyata cinta Yunus tak bertepuk sebelah tangan? Rupanya, Tini juga mencintainya. Tuah ayam pada kakinya, tuah manusia pada nasibnya. Setelah mengetahui itu, dengan hati yang berbunga-bunga, dada berdebar-debar, perasaan yang berkecamuk cinta; dia berlayar dari Singapura menuju kampungnya. Namun, apakah yang terjadi? Dalam perjalanan pulang dengan membawa sejuta harapan hidup bahagia bersama Tini pada hari-hari depannya, Yunus tenggelam di laut: entah terlanggar kapal kontainer, entah sampannya tertembus peluru aparat, entah tertelan gelombang malam; tak seorang pun yang tahu.

Begitulah dahsyatnya cinta. Tini masih beranggapan bahwa kekasih hatinya itu masih hidup, yang akan membawanya turun dari rumah susun yang ditempatinya di Singapura selama ini untuk melancong menikmati keindahan tempat-tempat di Kepulauan Riau atau di mana pun secara leluasa, berdua. Tak mungkin seorang Yunus, Si Pesmokel hebat dari pulau itu, akan mudah tenggelam di laut. Lagi pula, peristiwa seperti itu bukan kali pertama dialami oleh Yunus. Tini percaya bahwa Yunus akan muncul hidup di salah satu pulau tak jauh dari kejadian itu. Dan, dara jelita menurut penilaian Yunus itu tetap tabah dan sabar mengikuti berita tentang Yunus seraya membayangkan kehidupan bahagianya bersama Si Pesmokel Ulung Yunus dari Kepulauan Riau. Memang, smokel menyimpan kisah suka dan duka yang tiada berhingga. Aktivitas itu pun telah menjadi budaya masyarakat Kepulauan Riau karena faktor historis dan hubungan genetis.

Jonni Pakkun, dalam kumpulan ini, menyumbangkan puisi “Batam Menjemput Masa Depan”. Seperti judulnya, puisi ini mengedepankan harapan masyarakat, khasnya warga Batam, terhadap perkembangan Batam sebagai pulau industri untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Puisi ini mengangkat tokoh fiktif Ignatius warga asal Flores yang mengadu nasib di Kota Batam, Kepulauan Riau. Kedatangan Ignatius ke Batam terjadi pascareformasi. Dengan demikian, dia relatif baru menjadi penduduk Batam jika dibandingkan dengan warga Batam lainnya. Berdasarkan sudut pandang tokoh itulah alur puisi ini mengalir.

Batam tak hanya dikenal dalam era industri modern saja, tetapi jauh sebelum itu. Pada masa Kerajaan Melaka, Batam merupakan kawasan yang pengawasannya dipercayakan oleh Sultan Melaka kepada Laksemana Hang Nadim, putra Hang Jebat dan menantu Laksemana Hang Tuah, dua tokoh laksemana yang melegenda sebelum munculnya Hang Nadim. Nama tokoh sejarah itulah yang ditabalkan (baca: digunakan) untuk bandar udara Batam, sebuah bandar udara terbesar kedua di Sumatera.

Selepas zaman Melaka, Batam berada di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang bersama-sama kawasan lain di Kepulauan Riau, Riau, Singapura, dan sebagian Malaysia. Begitulah selanjutnya, Batam memasuki masa Indonesia merdeka berada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama kawasan-kawasan wilayah Kesultanan Riau-Lingga lainnya. Maka, bermulalah Batam dikembangkan menjadi pulau industri oleh Otorita Batam.

Sejak menjadi pulau industri, berdatanganlah orang-orang dari seluruh Indonesia ke Kota Batam untuk mengadu nasib di pulau harapan baru tersebut. Ramailah penduduk baru di Pulau Batam, yang sebelumnya hanya dihuni oleh 6.000 jiwa. Pelbagai fasilitas modern yang mendukung industri pun dibangun di Batam. Bersamaan dengan itu, Batam pun menjadi tumpuan harapan orang-orang yang berdatangan yang mengadu peruntungan dari hampir seluruh wilayah di Indonesia seperti Ignatius yang berasal dari Flores. Suka-duka yang dialami manusia yang mendiami pulau tersebut dalam berebut rezeki memang tak terelakkan lagi. Alhasil, pembangunan Batam cenderung membawa konsekuensi negatif dengan pelbagai masalah yang tak kunjung selesai dan atau memang seperti tak mau diselesaikan, bahkan memang tak didesain dari awal, khasnya penataan penduduknya.

Ketika memasuki era MEA, Batam tak lagi memiliki daya tarik dari sudut pandang investor, konon. Batam seolah-olah kalah dengan kawasan lain yang memberikan pelbagai fasilitas yang lebih menguntungkan investor. Kondisi itu diperburuk dengan adanya dualisme pengelolaannya: Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai kelanjutan dari Otorita Batam di satu pihak dan Pemerintah Kota Batam di pihak lain. Jadilah perkembangan Batam tak seindah harapan masyarakat, khasnya masyarakat pendatang yang menyerbu Batam selama ini. Bagi masyarakat asli Kepulauan Riau, perkembangan Batam memang nyaris tak memberikan kontribusi apa-apa bagi mereka, kecuali pelbagai masalah sosial yang selama ini tak pernah terjadi. (bersambung)

Kolom 
Abdul Malik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here