Suka-Duka Segantang Lada

0
329
PERADA - Suka-Duka Segantang Lada

Bagian Pertama dari Tiga Tulisan

PADA akhir Maret atau selambat-lambatnya awal April 2018, lima penyair Kepulauan Riau akan menerbitkan buku kumpulan puisi bersama. Mereka adalah Abdul Kadir Ibrahim (Akib), Harfan Min Kitabillah, Irwanto Rawi Al Mudin, Jonni Pakkun, dan Yuanda Isha.

Judul buku kumpulan puisi itu adalah Sergam. Sergam atau tesergam dalam bahasa Melayu berarti ‘sesuatu yang besar dan berdiri kokoh, megah, lagi indah (tentang bangunan, istana, dan lain-lain)’. Kesemua puisi yang terhimpun dalam kumpulan ini berlatarkan sejarah Kepulauan Riau sejak zaman Kerajaan Melaka, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Kesultanan Riau-Lingga, sampailah ke masa kini atau dikaitkan dengan keadaan kekinian Kepulauan Riau.

Abdul Kadir Ibrahim (Akib), dalam kumpulan ini, menyumbangkan puisi “Melangit Cinta Sultan”. Melalui puisi itu, Akib berkisah tentang tokoh utama Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812). Juga disisipkan ketokohan Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777—1784). Perjuangan kedua tokoh itu, terutama Sultan Mahmud Riayat Syah, dalam memajukan negeri dan mempertahankannya dari upaya penaklukan oleh pihak asing (Belanda dan Inggris) pada abad ke-18 sampai awal abad ke-19 dikisahkan secara lugas sesuai dengan sudut pandang, penghayatan, dan penghargaan penyair terhadap perjuangan tokoh-tokoh tersebut.

Dengan membaca puisi ini, sebagai pembaca kita terbawa suasana Kepulauan Riau masa lalu ketika tesergam sebagai pusat Kesultanan Melayu yang jaya dengan keindahan alamnya, kekayaan alamnya, kemajuannya dalam semua aspek kehidupan yang diperjuangkan oleh para pemimpin bersama segenap rakyatnya, dan lebih-lebih perjuangan mempertahankan kejayaan itu sampai mengorbankan jiwa dan raga. Itulah bukti pemimpin dan rakyat yang mencintai bangsa dan negaranya dalam arti yang sesungguhnya.

Puisi ini juga menampilkan kerisauan penyair terhadap aktivitas eksploitasi sumber daya alam Kepulauan Riau secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan kelanjutannya bagi generasi yang akan datang. Keadaan yang kontras itu, justeru, terjadi di alam Indonesia merdeka, yang sangat bertolak belakang dengan cara-cara dan kearifan generasi terdahulu yang membangun, memperjuangkan, dan mempertahankannya untuk kesejahteraan rakyat semasa dan generasi selanjutnya. Ironisnya, eksploitasi sumber daya alam itu, bahkan, tak dapat dinikmati oleh masyarakat Kepulauan Riau.

Seperti biasanya puisi-puisi Akib, senantiasa mengaitkan tema-tema kemanusiaan dengan ketuhanan. Kejayaan masa lalu tak terlepas dari tunduk patuhnya manusia terhadap ketentuan dan pedoman Allah. Kesetiaan terhadap nilai-nilai dan pedoman Ilahi itulah yang menyebabkan generasi masa lalu dapat menikmati kesejahteraan zahir dan batin karena mereka mendapatkan rahmat Allah walaupun pada saat yang sama mereka harus berhadapan dengan upaya-upaya penjajahan oleh bangsa asing. Sebaliknya, pada masa kini orang cenderung melupakan pedoman dan nilai-nilai terala (mulia) itu sehingga eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia cenderung tak bertimbang rasa dan tak bertimbang harga, yang penting laku dijual.

Harfan Min Kitabillah, dalam kumpulan ini, menyumbangkan puisi “Kisah Cinta di Arus Sungai Carang”. Sesuai dengan judulnya, puisi ini berkisah tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Sungai Carang (Tanjungpinang) sebagai pusat Kesultanan Melayu pada masa lalu, tetapi juga melibatkan Festival Sungai Carang yang dimulai kali pertama pada 2016 sebagai latar. Festival itu sendiri untuk mengenang kejayaan kawasan itu pada masa lalu seraya menjadi upaya untuk mengembalikan kejayaannya pada masa kini melalui program pariwisata.

Puisi ini mengangkat peristiwa sejarah pernikahan yang tragis Raja Kecik, yang mengaku sebagai putra Sultan Mahmud Mangkat Dijulang (Sultan Mahmud Syah II), dengan Tengku Kamariah, putri Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Kisahnya bermula dari pemindahan pusat Kesultanan Johor-Riau dari Johor Lama (Batu Sawar) ke Riau (Tanjungpinang sekarang) sehingga kerajaan itu dikenal pula dengan nama Kesultanan Riau-Johor. Dalam perjalanan sejarah itu terjadi pertikaian, bahkan perang saudara, di antara para pembesar kerajaan. Di antaranya pertikaian Bendahara Johor yang tak bersetuju pusat kerajaan dipindahkan ke Sungai Carang dengan Laksemana Tun Abdul Jamil, yang ditugasi oleh sultan untuk membuka Sungai Carang sebagai pusat pemerintahan yang baru Kesultanan Riau-Johor.

Perang yang paling menggemparkan terjadi antara Sultan Abdul Jalil Riayat Syah dan Raja Kecik. Abdul Jalil, yang awalnya adalah Bendahara, naik tahta menggantikan Sultan Mahmud Syah II (Sultan Mahmud Mangkat Dijulang) yang dibunuh oleh Megat Seri Rama. Sultan Mahmud tak memiliki anak sehingga Bendahara Abdul Jalil yang menggantikannya menjadi Sultan Johor-Riau. Dalam pada itu, Raja Kecik datang mengaku sebagai anak Sultan Mahmud dan selanjutnya merebut tahta Johor-Riau melalui perang. Sultan Abdul Jalil diturunkan pangkat menjadi Bendahara kembali karena Raja Kecik hendak memperistrikan Tengku Tengah, putri Bendahara Abdul Jalil. Akan tetapi, kemudian Raja Kecik jatuh hati kepada Tengku Kamariah, adik Tengku Tengah, dan membatalkan pernikahannya dengan Tengku Tengah untuk menikahi Tengku Kamariah. Setelah menikah dengan Tengku Kamariah, melalui orang suruhannya Raja Kecik, justeru, membunuh mertuanya, Bendahara Tun Abdul Jalil.

Pembunuhan itu menimbulkan dendam Tengku Sulaiman, putra Bendahara sekaligus Sultan Abdul Jalil, dan saudara-saudaranya. Mereka berikhtiar membalas dendam dan mengembalikan marwah keluarga. Dengan bantuan bangsawan Bugis lima bersaudara, dendam Tengku Sulaiman terbalaskan dan Raja Kecik dapat dikalahkan. Akhirnya, Tengku Sulaiman menjadi Sultan Riau-Johor dan Raja Kecik menjadi Sultan Siak.

Peristiwa bersejarah yang ditampilkan itu juga menyiratkan bahwa pertikaian sesama sendiri hanya mendatangkan mudarat, yakni memecah belah bangsa, sehingga harus menjadi pelajaran supaya tak terjadi lagi pada masa kini. Jelaslah bahwa puisi ini berkisah tentang rangkaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Sungai Carang (Tanjungpinang) dengan suka-dukanya seraya menyarankan upaya membangkitkan kebesarannya kembali pada masa kini dengan mengembangkannya menjadi destinasi wisata dan pelbagai pembangunan lainnya.

Irwanto Rawi Al Mudin, dalam kumpulan ini, menyumbangkan puisi “Smokel, Menyatu di Selat Lalu Mendua”. Judul puisi yang diangkat itu menyiratkan bahwa sampai dengan 1819 Kepulauan Riau dan Singapura di bawah pemerintahan satu kerajaan, yakni Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, yang berpusat di Sungai Carang (Tanjungpinang) sampai 1787 dan kemudian dipindahkan oleh Sultan Mahmud Riayat Syah ke Daik, Lingga, pada 24 Juli 1787 setelah Perang Riau II. Dengan kata lain, Singapura sebelumnya adalah bagian dari Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang atau berada di bawah satu pemerintahan dengan Kepulauan Riau.

Pada 1819 Thomas Stanford Raffless mendirikan kerajaan boneka Singapura dengan mengangkat Tengku Husin ibni Allahyarham Sultan Mahmud Riayat Syah, yang kecewa tak jadi ditabalkan (diangkat) menjadi Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Dengan pengangkatan yang tak sesuai dengan adat-istidat dan hukum Kerajaan Melayu kala itu, Tengku Husin menjadi Sultan Singapura bergelar Sultan Husin Syah. Tengku Husin kecewa karena yang dilantik menjadi Sultan Riau-Lingga-Lingga-Johor-Pahang adalah adiknya, yakni Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I sesuai dengan wasiat ayahanda mereka kepada Yang Dipertuan Muda VI Riau-Lingga-Johor-Pahang, Raja Jakfar ibni Raja Haji Fisabilillah. Oleh sebab itu, tawaran Inggris untuk menjadi Sultan Singapura beliau terima walaupun dengan beban kultural yang luar biasa karena dengan demikian Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang terpecah dua.

Setelah itu, konspirasi antara Belanda dan Inggris menghasilkan pula Perjanjian London (Traktat London atau Treaty of London) pada 1824 yang menyebabkan wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang benar-benar terpecah dua. Singapura, Johor, dan Pahang serta daerah takluknya di bawah kuasa Inggris, sedangkan Riau-Lingga (Kepulauan Riau sekarang) dan daerah takluknya di bawah penjagaan Belanda, tetapi sultan tetap berkuasa. Pemecahan wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang itu tak diakui oleh penguasanya kala itu (sultan) dan orang Melayu umumnya, bahkan sampai sekarang. Oleh sebab itu, terus terjadi perlawanan terhadap Belanda sesudah itu di kawasan Riau-Lingga, tetapi tak ada perlawanan yang berarti di wilayah pecahannya di Semenanjung Melayu (Singapura, Johor, dan Pahang) di bawah kekuasaan Sultan Husin Syah. Jadi, sebelum 1819 dan lebih-lebih 1824, Singapura, Johor, dan Pahang serta daerah takluknya di Semenanjung Melayu berada di bawah satu pentadbiran (pemerintahan) Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, yang pusatnya berada di Tanjungpinang awalnya kemudian dipindahkan ke Daik, Lingga pada 1787. Akan tetapi, sejak 1824 wilayah dan pemerintahan di kawasan itu terbagi dua: Kesultanan Riau-Lingga, yang berpusat di Kepulauan Riau, dan Kerajaan Singapura, yang berpusat di Singapura, yang setelah berdirinya Kerajaan Johor bergabung dengan Kerajaan Johor dan satu kerajaan lagi adalah Kerajaan Pahang.

Sejak masih berstatus bagian dari wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Singapura menjadi bandar (kota) sekaligus pasar tujuan masyarakat Kepulauan Riau dalam aktivitas perdagangan antarpulau. Dalam hal ini, masyarakat menjual hasil laut, hasil hutan, dan hasil perkebunan ke pasar Singapura. Di Singapura barang-barang yang dibawa itu ditampung oleh pedagang setempat. Sepulangnya dari Singapura masyarakat membawa barang-barang keperluan sehari-hari seperti beras, gula, dan lain-lain, termasuk pakaian, perabot rumah tangga, dan barang-barang elektronik (pesawat radio dan televisi) ke pulau-pulau tempat tinggal mereka masing-masing, terutama di Kepulauan Karimun, Kepulauan Batam, Kepulauan Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan), dan Kepulauan Lingga karena daerah-daerah tersebut berdekatan dengan Singapura. Bahkan, aktivitas perdagangan antarpulau ke Singapura itu juga dilakukan oleh masyarakat Natuna dan Anambas walaupun mereka berada di Laut Natuna yang berhampiran dengan Laut Cina Selatan, yang jaraknya relatif jauh dari Singapura.

Awalnya, kegiatan yang disebut masyarakat tempatan sebagai “berlayar” itu menggunakan sampan (perahu) layar yang berkapasitas muatan (barang) 1—3 ton dengan muatan orang 2—3 orang saja. Memang sejak lama masyarakat Kepulauan Riau memenuhi keperluan hidup mereka sehari-hari dari pasar Singapura seperti beras Thailand yang dipasarkan di Singapura, begitu juga halnya dengan pakaian, barang-barang perabot, dan barang-barang elektronik. Hal yang sama juga terjadi dengan Singapura yang memerlukan ikan, hasil hutan (rotan misalnya), dan hasil perkebunan, terutama buah-buahan, dari Kepulauan Riau. Bahkan, aktivitas serupa disejalankan dengan kunjungan keluarga karena umumnya orang Kepulauan Riau (khasnya orang Melayu) memiliki keluarga yang tinggal di Singapura, begitu juga sebaliknya.

Setelah Indonesia merdeka, yang Kepulauan Riau menjadi bagian dari Negera Kesatuan Republik Indonesia, aktivitas perdagangan antarpulau dengan kawasan Singapura (juga Malaysia) tanpa dokumen resmi seperti itu menjadi terlarang. Akan tetapi, masyarakat tak dapat dilarang untuk memenuhi keperluan bahan makanan pokok mereka sehari-hari, kecuali ikan, yang memang berlimpah di kawasan ini. Memang, ada aktivitas perdagangan yang mendatangkan barang-barang keperluan sehari-hari seperti beras, gula, dan sayur-mayur dari Pulau Sumatera dan Jawa ke Kepulauan Riau. Akan tetapi, harga barang-barang itu jauh lebih tinggi daripada harga di Singapura. Di sisi lain, masyarakat tak memperoleh harga yang tinggi untuk barang-barang yang mereka jual dalam perdagangan antarpulau di sekitar Kepulauan Riau dan daerah-daerah tetangga di sekitarnya, bahkan tak laku karena daerah-daerah di sekitar juga memiliki produk yang sama, yang mengalami nasib tragis yang sama pula. (Bersambung)

Kolom 
Abdul Malik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here