Sumbangan Sekolah Sah Saja, Asalkan…

0
539
RAPAT EVALUASI: Bupati Bintan H Apri Sujadi mendengarkan laporan tentang anggaran dari Kepala OPD, pada saat rapat evaluasi di Kantor Bappeda, Rabu (5/7) sore kemarin. F-ISTIMEWA/kominfo bintan

BINTAN – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang disorot oleh pihak saber pungli, terutama soal sumbangan sekolah harus disikapi dengan bijak. Agar tidak terjadi kasus penangkapan dengan alasan terlibat korupsi.

Dunia pendidikan sangat memerlukan biaya besar. Tak jarang, ada pihak sekolah dengan komite sekolah yang melibatkan orang tua, untuk menentukan sumbangan. Mengenai hal ini, Indra Setiawan mantan anggota DPRD Bintan mengharapkan, agar Bupati Bintan menyikapi sumbangan pendidikan dengan bijak, dan membicarakan dengan pihak sekolah serta pihak penegak hukum.

”Kami bukan soal mendukung pungli atau korupsi. Sama sekali kami menolak. Namun ada kalanya para orang tua atau wali murid yang mampu, ingin memberikan bantuan sukarela kepada sekolah. Nah, ini tak mungkin ditolak. Karena, pihak sekolah sangat membutuhkan,” katanya, Rabu (5/7).

Ia mengatakan, untuk mengakomodir sumbangan sukarela tersebut perlu dibuat mekanisme khusus. Sehingga tidak dikategorikan pungli. Karena jika mengandalkan APBD, maka akan sulit dan mungkin tidak efektif. Indra berpendapat, sah-sah saja ada sumbangan untuk sekolah. Asalkan, ada mekanismenya dan dirembukan melalui komite sekolah.

”Kalau seperti misalnya atap bocor, keramik atau kaca jendela pecah yang butuh perbaikan cepat, maka dapat menggunakan dana sumbangan tersebut. Apalagi jika ada siswa yang tidak mampu, maka dapat menggunakan dana tersebut,” jelasnya. Ia menegaskan juga, untuk orang tua atau wali siswa yang tidak mampu, jangan dimintakan sumbangan. Terutama sumbangan dengan patokan tertentu atau memberatkan.

PPDB
Kepala Dinas Pendidikan Bintan Tamsir SSi MSi mengatakan, proses PPDB tahun ajaran 2017-2018 tidak ada kendala. Hanya saja, ada beberapa sekolah yang terpaksa menolak siswa, karena keterbatasan ruang kelas belajar. Tapi, kendala itu sudah dicarikan solusinya. Siswa yang bersangkutan diarahkan masuk ke SD dan SMP lainnya.

”Keterbatasan ruang kelas belajar ini, akan menjadi PR bagi kami. Karena, untuk membangun kelas di semua sekolah, tak punya anggaran yang memadai,” demikian dikeluhkan Tamsir. (aan/fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here