SWRO Akhirnya Bermanfaat

0
638
SEKDAKO Tanjungpinang Riono dan pejabat lainnya langsung meminum air SWRO, Selasa (3/4). f-abas/tanjungpinang pos

Dioperasikan Setelah Empat Tahun Mangkrak

Pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam Tanjungpinang akhirnya tidak sia-sia. Selasa (3/4) kemarin SWRO resmi dioperasikan meski sempat hanya pajangan saja selama empat tahun.

TANJUNGPINANG – Kini SWRO sudah memberi manfaat bagi masyarakat. Uang rakyat sekitar Rp 97 miliar yang digunakan untuk membangun SWRO sudah dipakai memproduksi air bersih siap minum.

Pengoperasian SWRO ditandai dengan pengguntingan pita yang dilakukan oleh Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Pemukiman (Disperkim) Provinsi Kepri, Heru Sukmoro di lokasi SWRO Batu hitam, Selasa (3/4).

Hadir saat itu Kasubdit SPAM Perkotaan Direktorat PSPAM Kementerian PUPR, Ir Darmawel Umar bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungpinang, Riono, Kepala Dinas PUPR Kota Tanjungpinang, Hendri dan tamu undangan lainnya.

Usai menggunting pita, para pejabat dan tamu undangan langsung meminum air SWRO yang sudah dioperasikan. Rasa airnya tawar seperti air galon yang dikonsumsi setiap hari warga.

SWRO Batu Hitam mampu memproduksi 2×25 kubik per detik. Untuk tarif yang diterapkan ke pelanggan berbeda-beda, sesuai Peraturan Wali Kota (Perwako).

Ada tarif nonsubsidi dan subsidi. Untuk tarif nonsubsidi harganya Rp 25.760 per kubik. Sedangkan tarif subsidi Rp 15.500 per kubiknya.

Kasubdit SPAM Perkotaan Direktorat PSPAM Kementerian PUPR, Ir Darmawel Umar meminta agar Pemprov Kepri juga membantu jaringan pipa utama dan pipa induk untuk memperluas jaringan SWRO.

Ia juga berharap, setiap bulannya, pelanggan SWRO terus bertambah. Target tahun ini, bagaimana pelanggan SWRO bisa tembus 10 ribu pelanggan. ”Kementerian PUPR baru bangun SWRO di Tanjungpinang yang berskala besar pertama di Indonesia. Kalau kecil-kecil, mungkin ada tapi yang bangun pihak swasta,” tegasnya.

Menurutnya, SWRO Tanjungpinang sebagai pilot project di Indonesia. Persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia sama dengan di Tanjungpinang, yakni saat hujan turun, air di waduk banjir. Tapi saat musim kemarau, air di waduk untuk diproduksi PDAM kering. Solusinya memang SWRO,” bebernya.

Kata dia, SWRO bagi negara Indonesia tergolong barang baru, tapi berbeda dengan negara lainya. Umumnya, negara maju sudah memanfaatkan SWRO sebagai sumber air bersih di negaranya.

Ia juga berharap, Pemko dan Pemprov Kepri tetap merawat SWRO Tanjungpinang agar tetap beroperasi dengan baik. ”SWRO ini harganya cukup mahal, peralatannya didatangkan dari Amerika Serikat,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Tanjungpinang, Riono, menegaskan, pemerintah memberikan subsidi Rp 1 miliar per tahun untuk SWRO Tanjungpinang. Dana yang digunakan sekarang ini adalah dana darurat. Karena, dana untuk SWRO sendiri belum dianggarkan di APBD murni tahun ini. Rencananya akan dianggarkan di APBD Perubahan.

”Rasanya seperti air putih biasa. Tidak ada rasa asin dan sebagainya. Coba wartawan juga rasakan,” kata Riono setelah menikmati air SWRO tersebut.

Darmawel Umar mengkalim, air SWRO yang mengalir hingga keluar dari keran dipasang di rumah pelanggan, yaitu masyarakat Tanjungpinang, bisa dikonsumsi langsung. Karena alat yang digunakan untuk mengelola air laut menjadi air tawar sudah satu paket.

”Otomatis bisa dikonsumsi. Kita jamin itu. Dan juga, setiap waktu dipantau hingga diperiksa oleh petugas,” kata Darmawel Umar kepada Tanjungpinang Pos, Selasa (3/4).

SWRO yang dibangun menghabiskan anggaran puluhan miliar itu dikelola oleh Pemko Tanjungpinang yang bersifat sementara. Setelah itu, Kementerian PUPR akan menyerahkan sepenuhnya dengan Pemko Tanjungpinang, apabila prosesnya selesai. ”Proses ini dari DPRD sampai Menteri Keuangan. Ini memakan waktu lama. Mungkin bisa jadi 1 tahun,” sebut dia.

Sekda Kota Tanjungpinang, Riono mengatakan, air SWRO untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir maupun pelantar. Baik itu berada di wilayah Kecamatan Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang Kota dan Bukit Bestari.

Sampai saat ini baru 2.825 pelanggan air SWRO Batu Hitam. Dengan dioperasikan ini, mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Kepri ini berharap, mencapai 5.000 pelangan yang menggunakan hingga mengonsumsi air SWRO. ”Tarifnya sekitar Rp 15.500 per kubik. Ini tarif yang sudah diberikan subsidi. Kalau tidak disubsidi bisa mencapai Rp 25.760 ribuan per kubik,” ucap Riono.

Jadi, bagi masyarakat yang ingin menjadi pelanggan bisa langsung datang ke lokasi SWRO Batu Hitam. ”Datang saja langsung ke sini (SWRO Batu Hitam, red),” sebut dia.

SWRO mulai dibangun Juni 2013. Awalnya direncanakan selesai Desember tahun 2013 juga. Namun pembangunan molor hingga Februari 2014. Setelah empat tahun dua bulan, SWRO baru dioperasikan. Janji Pemko sebelumnya, SWRO akan dioperasikan tahun lalu.

SWRO merupakan salah satu perjuangan almarhum HM Sani, mantan Gubernur Kepri untuk menangani persoalan air di Ibu Kota Provinsi Kepri ini.(ANDRI-ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here