Tak Digaji, Mau Pulang Harus Bayar Rp45 Juta

0
925
CERITA PENGALAMAN: Riduan Hutabarat menceritakan pengalaman pahit ketika bekerja di negara Kepulauan Solomon, Minggu malam lalu. F-yendi/TANJUNGPINANG POS

Cerita Pekerja yang Teraniaya di Negara Solomon (Bagian II Habis)

BINTAN – Selain Iwan warga Desa Malang Rapat, Rozi dan Riduan Hutabarat juga berhasil kembali ke tanah air, setelah teraniaya bekerja di negara Kepulauan Solomon. Riduan dan Rozi juga merasakan bekerja tambang bauksit, namun tidak digaji.

Sambil mendengarkan cerita Iwan yang dizalimi manajemen PT ENM International Resources, Riduan dan Rozi turut menikmati bandrek hangat, di kawasan Bintan Center, Minggu malam itu. Riduan pun angkat bicara, mengenai pengalaman sebagai sopir pengangkut bauksit di Pulau Rennel.

”Saya, sejak Agustus sampai Oktober tak dibayar gaji. Saya protes, dan mengancam ingin menerjunkan truk ke dalam jurang. Baru lah diberi uang dolar negara Solomon, setara Rp 6 juta, kalau uang kita,” ujar Riduan.

Uang senilai itu, sama saja gaji setengah bulan Agustus, sesuai dengan kontrak. Namun demikian, Riki sebagai manajer perusahaan justru menyatakan, uang tersebut adalah pinjaman dari perusahaan. Justru itu, Riduan meminta dipulangkan ke Bintan (Indonesia).

Dalam proses pemulangan, Riduan diterbangkan ke Honiara. Di ibu kota negara Solomon ini, Riduan hanya dibekali rice cooker, beras dan ikan kaleng dalam rumah penampungan. Sementara, tiket pulang belum diserahkan oleh pihak perusahaan. Sedangkan gaji selama tiga bulan, tak kunjung dibayar oleh perusahaan.

”Setelah tiga minggu di Honiara, baru saya diberi tiket. Sedangkan gaji tidak dibayar, sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Dari 35 pekerja yang dikumpulkan Darsa, Tomo, Riki, Apiaw dan Tina Batam, baru sembilan orang yang sudah kembali ke Indonesia. Masih ada 26 orang lagi yang tak bisa kembali ke Indonesia.

Menurut Riduan, rekan-rekannya yang masih berada di Solomon, mayoritas ingin kembali juga ke Indonesia. Karena teraniaya akibat tak dibayar gaji, seperti yang ada dalam kontrak.

”Teman-teman juga protes. Tapi, kalau mau pulang, mereka harus membayar Rp 45 juta kepada perusahaan. Alasan, karena sudah teken kontrak kerja setahun. Sementara, gaji tak dibayarkan oleh perusahaan. Kami berharap, pemerintah dan aparat menyikapi nasib yang kami alami ini,” tutup Riduan yang turut dibenarkan Rozi.

Dalam pertemuan singkat itu, Riduan Hitabarat bersama Iwan dan Rozi, tak ingin kembali bekerja di negara Solomon. Begitu pula ketika ada pihak jasa TKI yang menawarkan pekerjaan dengan imbalan besar, mereka tak ingin tergiur lagi. (fre)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here