Tak Jalankan Kesepakatan, Nelayan Protes

1
812
MELAUT: Kapal pukat nelayan saat berangkat melaut untuk menangkap ikan, bertolak dari pelabuhan Barek Motor Kijang. F-ADLY BARA/tanjungpinang pos

Kelong Luar Beroperasi di Wilayah Tangkapan

BINTAN – NELAYAN Desa Numbing Kecamatan Bintan Pesisir mengeluhkan dan mengajukan protes terhadap 2 unit kelong alat tangkap bilis, yang beroperasi di wilayah tangkapan nelayan. Dua kelong milik warga luar Bintan yang dikelola seorang warga Numbing itu, telah melanggar kesepakatan.

Nelayan Desa Numbing di bawah koordinator Guntur, awalnya akan melakukan aksi pengusiran, dan meminta agar pengelola kelong keluar dari wilayah tangkapan, Kamis (4/5) kemarin.

Warga menuntut agar pengelola kelong, beroperasi di luar wilayah tangkapan nelayan, yaitu di atas 2 mil. Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat sebelumnya.

”Kesepakatan itu sudah lama dibuat. Tapi, 2 kelong dari luar Bintan itu, tetap beroperasi di dalam wilayah tangkapan nelayan tradisional. Hal yang membuat nelayan Numbing mengajukan protes. Itu laporan yang saya terima,” kata Baini, Ketua HNSI Bintan, kemarin.

Kepala Dinas Perikanan Bintan Fachrimsyah membenarkan, ada protes dari nelayan Numbing terhadap 2 unit kelong apung yang beroperasi di sekitar perairan Numbing itu.

Padahal, sudah ada kesepakatan antara nelayan dengan pengelola kelong. Bahwa, kelong apung tangkapan ikan bilis itu beroperasi di luar kawasan wilayah tangkapan.

”Saya sudah berbicara dengan Guntur dan nelayan Numbing lainnya. Karena pengelolaan laut itu kewenangan provinsi, makanya kami mengkoordinasikan dengan Dinas Perikanan Provinsi Kepri. Kami belum tahu siapa pemilik dan pengelola kelong apung itu,” jelas Fachrimsyah.

Zulkhairi, Camat Bintan Pesisir yang dikonfirmasi membenarkan adanya gejolak di masyarakat soal kebaradaan 2 kelong tersebut. Menurutnya permasalahan tersebut sudah pernah di mediasi antara nelayan dan pemilik kelong apung.

”Ya saat ini bergejolak lagi, kami khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan. Sehingga perlu didudukan kembali lah antarpihak ini. Pokok persoalannya adalah 2 kelong yang ditempatkan tersebut berada di bawah 1 mil dari pantai. Ini yang menurut kebiasaan nelayan tidak boleh dilakukan,” sebutnya.

Dikatakannya, kelong yang disandarkan di Pulau Gin dan Bom itu diminta oleh nelayan ditempatkan diluar jarak 1 mil saat menjaring atau menangkap ikan.

”Kami khawatir nelayan anarkis saja. Karena kan sebelumnya ada kapal yang dibakar nelayan karena melanggar kesepakatan atau aturan yang ada. Semoga ini kami dapat selesaikan lah,” katanya.(YENDI-AAN)

1 KOMENTAR

  1. Tolong dikoreksi untuk informasi keterangan digambar yang menjelaskan #MELAUT: Kapal pukat nelayan saat berangkat melaut untuk menangkap ikan, bertolak dari pelabuhan Barek Motor Kijang. F-ADLY BARA/tanjungpinang pos#
    Karena kapal yang digambar merupakan kapal BUBU, bukan kapal PUKAT. Sedangkan info ini dikonsumsi masyarakat umum, Jadi bisa berdampak buruk bagi nelayan BUBU dan masyarakat lain pada umumnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here