Tak Memadai, Harus Bangun Box Culvert

0
395
KADIS PU Tanjungpinang, Henri, camat, Wakapolres dan Kapolsek saat goro di Batu 10, Sabtu (19/1). f-martunas/tanjungpinang pos

Warga Ibu Kota Menanti Partisipasi Pemprov Mengatasi Banjir

Status jalan ada tiga yakni, jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kota. Jalan nasional adalah jalan lintas utama. Di Tanjungpinang, Jalan DI Panjaitan salah satu yang berstatus jalan nasional dan beberapa ruas jalan lainnya.

TANJUNGPINANG – SALAH satu contoh jalan provinsi adalah Jl. WR. Supratman mulai lampu merah Kota Piring hingga Tugu Tangan Batu 12. Masih ada beberapa ruas jalan lainnya dengan status jalan provinsi di Tanjungpinang. Demikian juga jalan kota.

Masing-masing instansi bertanggungjawab atas pembangunan dan perawatan jalan tersebut termasuk dengan drainasenya.

Karena itu, untuk menyelesaikan satu persoalan seperti banjir, harus koordinasi yang kuat tiga instansi pemerintahan ini. Harus sejalan. Jika tidak, untuk menyelesaikan banjir di satu titik tidak akan rampung apabila tak sejalan. Sebab, saluran air kadang terhubung antara satu jalan dengan jalan lainnya. Contohnya, banjir di Perumahan Seraya I Batu 10, salah satu penyebabnya adalah karena drainasenya yang tersumbat. Namun, saat drainase ini diselesaikan, muncul persoalan lain di hilir (ke arah laut).

Seperti disampaikan Kepala Dinas PU Kota Tanjungpinang, Henri, jika Pemprov Kepri tidak membangun box culvert di Jl. WR. Supratman dekat SPBU, maka persoalan banjir di daerah Bintan Center dan Perumahan Seraya I tidak akan tuntas.

Sekalipun mereka sudah membersihkan parit di sana dan mengangkat tanah sekitar 0,5 meter dan memperdalam alur parit lainnya, namun gorong-gorong yang berada di bawah Jl. WR. Supratman kurang memadai, air tetap lambat mengalir ke laut.

Saat banjir beberapa saat lalu, Kampung Seraya I tenggelam. Henri dan staf turun ke lapangan untuk melihat persoalannya. Mereka lalu mengikuti aliran air dari hulu hingga ke hilir. Persoalannya diketahui. Saluran drainase sudah banyak yang tersumbat akibat sampah dan tanah yang menumpuk hingga menggunung serta ditumbuhi rerumputan.

”Lalu kita koordinasi dengan pihak pengembang Pak Suryono. Karena drainase itu melalui lahan mereka yang sedang dibangun. Pak Suryono langsung menurunkan dua alat berat dan membersihkan parit serta memperdalamnya,” jelas Henri, kemarin.

Ternyata, persoalan banjir di sana belum selesai. Jumat (18/1) lalu, daerah itu masih banjir. Padahal, parit sudah dibersihkan dan diperdalam sepanjang ratusan meter drainase itu termasuk yang berada di samping Taman Kota Batu 10 arah Terminal Sei Carang.

Setelah ditelusuri, gorong-gorong di Jl.WR.Supratman tak memadai lagi. Terlalu kecil dan harus dibangun box culvert. Karena jalan itu statusnya jalan provinsi, maka Pemprov Kepri bertanggungjawab untuk membangunnya.

Jika tidak bergerak membangunnya seperti ucapan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun, maka daerah Bintan Center tidak akan pernah bebas banjir. Tanggung jawab moral Pemprov Kepri untuk warga sangat dinantikan. Box Culvert harus dibangun di jalan itu.

Sabtu (19/1) lalu, Henri menggandeng aparat kepolisian, kecamatan, kelurahan, RT-RW dan warga melakukan gotong-royong di daerah Perumahan Seraya I. Mereka membersihkan parit yang tersumbat di sana.

Berton-ton sampah, pasir dan tanah diangkut dari sana. Sekitar setengah meter drainase diperdalam. Tanah yang berubah jadi hitam di parit itu diperkirakan sudah lama.

”Mungkin sudah 10 tahun paritnya itu tak dibersihkan. Makanya tanahnya sampai hitam dan berbau. Sudah kita angkat. Sampahnya juga kita bersihkan,” tambahnya.

Banjir THI Tunggu Amfibi Mungil
Untuk menyelesaikan banjir di Perumahan Taman Harapan Indah (THI) Batu 9, Dinas PU Kota Tanjungpinang sedang berusaha. Warga pun diminta sabar menunggu. Tahun ini akan dituntaskan.

Persoalannya adalah, drainase utama saluran pembuangan air di perumahan itu sudah dangkal. Harus dikorek lebih dalam. Namun medan kerjanya sempit. Butuh alat berat pengeruk tanah model amfibi yang kecil untuk menyelesaikannya.

Dinas PU Kota Tanjungpinang sudah menganggarkan dana untuk pembelian alat berat pengeruk tanah amfibi. ”Amfibi ukuran kecil yang akan kita beli tahun ini,” jelas Henri.

Dinas PU, kata dia, memiliki dua unit alat berat pengeruk tanah yang bisa bekerja di atas air. Namun ukurannya jumbo dan sedang. Sedangkan untuk mengeruk tanah di Perumahan THI harus pakai amfibi kecil.

Henri menjelaskan, saat ini saluran air di perumahan itu hampir rata dengan saluran air (drainase) utamanya. Karena drainase utamanya tidak begitu lebar, maka alat berat ukuran sedang dan jumbo tak bisa masuk. ”Sebenarnya, alat berat amfibi ukuran sedang bisa masuk. Namun kita khawatir saat bekerja, getarannya itu bisa kena dinding drainase dan justru rusak. Makanya, harus amfibi kecil,” ungkapnya.

Saluran itu akan diperdalam 1-1,5 meter. Panjang drainase yang harus dibersihkan nanti ratusan meter hingga ke gorong-gorong di Jl.WR. Supratman samping kiri SPBU.

Saat ditanya apakah gorong-gorong di Jl. WR. Supratman sudah memadai, Henri mengatakan, untuk jalur drainase Perumahan THI masih bagus dan masih memadai.

”Ada dua gorong-gorong di sana. Satu sebelah kiri pembuangan dari Perumahan THI. Satu sebelah kanan, pembuangan dari Perumahan Seraya I. Yang perlu diperbesar itu, saluran air sebelah kanan,” jelasnya.

Soal banjir di Dompak, ia mengatakan, untuk mengatasinya ke depan harus dibangun kolam retensi atau kolam penampungan sementara. Persoalan banjir di sana adalah air laut pasang (naik).

Dengan kolam retensi, maka akan klep atau pintu keluar masuk air. Saat air laut pasang, pintunya ditutup. Saat hujan dan air laut sedang pasang, pintunya akan ditutup. Air yang ada di kolam akan dipompa dan dibuang ke laut.

Di Tanjungpinang, kata dia, ada beberapa titik yang perlu dibangun kolam retensi untuk menangani banjir. Sebab, pembuangan di daerah itu hampir sama dengan permukaan laut. Solusinya adalah harus dibangun kolam retensi.

Di Batu 5 Bawah, tempat korban tewas terseret air Jumat lalu, persoalannya hampir sama dengan gorong-gorong di Jl.WR.Supratman yang tidak memadai lagi.

Dulu, saluran air sebesar itu masih mampu mengalirkan debit air yang masuk. Sekarang ini, seiring dengan makin banyaknya rumah dan ruko yang dibangun, lahan hijau makin sedikit, pepohonan makin sedikit, sehingga air hujan yang turun plong langsung mengalir ke saluran pembuangan tersebut.

Namun, debit air yang melewatinya makin besar, sehingga saluran tersebut tak mampu lagi menampung. Jadinya, air naik ke permukaan jalan dan drainase pun tertutup.

Saluran air di Anggrek Merah itu sudah dibangun dengan model box culvert (segi empat), bukan model lama lagi yang bentuknya bulat. Namun, saluran itu harus dibangun kembali dan diperbesar serta pipa air yang ada harus dipindahkan.

Henri berharap, Pemprov Kepri mengalokasikan anggaran yang besar untuk mengatasi persoalan banjir di Tanjungpinang terutama yang melintas di jalan provinsi.(MARTUNAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here