Taksi Online Tetap Dilarang Operasi

0
266
RATUSAN sopir taksi online saat demo di Batamcenter, baru-baru ini. f-martua/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Taksi online tetap dilarang beroperasi di Batam. Pasalnya, sampai saat ini Dinas Perhubungan Pemprov Kepri belum mengeluarkan satu pun izin operasional armada taksi online untuk Batam.

Kepala Dinas Perhubungan Pemprov Kepri, Brgjend Jamhur Ismail mengatakan, untuk taksi konvensional tetap bisa beroperasi sesuai aturan yang ada.

”Namun, taksi online belum bisa beroperasi. Karena dari 10 perusahaan yang mengajukan perizinan, belum ada yang mengantongi izin. Kita tunggu sampai penghitungan kuota selesai. Mungkin Juni nanti baru selesai dihitung berapa kuota taksi Batam,” ujar Jamhur via ponselnya, Senin (5/2).

Jumat pekan lalu, salah satu perusahaan konsultan sudah mengajukan diri untuk ikut lelang perhitungan kuota taksi di Batam ke Pemprov Kepri.

Kemungkinan, minggu ini akan dilelang. Proses lelang butuh waktu hingga 45 hari, kemudian masa sanggah hingga teken kontrak butuh beberapa hari lagi.

Konsultan ini diperkirakan bekerja akhir Maret atau April melakukan kajian berapa kuota taksi di Batam kemudian menganalisa data yang didapatkan di lapangan hingga diperoleh kesimpulan berapa banyak kebutuhan taksi di Batam.

Setelah itu selesai, maka Dishub Kepri akan mengetahui berapa keperluan taksi online dan taksi konvensional di Batam. Saat ini, seakan tidak aturan. Perusahaan aplikator di Batam masih terus merekrut sopir menjadi anggotanya, sementara mereka belum mengantongi izin.

Jamhur menjelaskan, perusahaan yang mengelola aplikasi ini cukup besar dan menjangkau kota-kota besar di Indonesia. Mereka sudah mendapatkan izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

”Tapi itu izin aplikasi, bukan izin operasional armada. Kalau izin operasional armada (mobil) angkutan umum, itu ada di Dishub. Sampai sekarang kita belum mengeluarkannya. Tapi mereka tetap beroperasi diam-diam di lapangan,” jelasnya lagi.

Perusahaan aplikator di Batam melanggar aturan. Ada aturan yang menyatakan, tidak bisa merekrut anggota jika izin operasional armada belum, nyatanya, perekrutan tetap dilakukan sehingga banyak taksi online beroperasi.

Apalagi, pendaftaran menjadi anggota taksi online cukup mudah. Hal inilah yang membuat pemilik mobil ramai-ramai mendaftar dan menjadi taksi online dimana-mana dengan tarif yang lebih murah.

Jamhur mengimbau agar taksi online jangan beroperasi untuk menghindari terjadinya gesekan-gesekan di lapangan.

Taksi online mulai berkembang di Indonesia tahun 2015 dan merambah kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Kaltim dan kota besar lainnya. Gesekan sopir taksi online dengan sopir taksi konvensional terjadi sejak saat itu.

Di Kepri, taksi online mulai marak sejak tahun 2017 dan cepat booming. Sehingga penumpang taksi konvensional turun drastis. Akibatnya, gesekan di lapangan tidak bisa dihindari.

Di lapangan, ongkos taksi online lebih murah dibandingkan taksi konvensional. Mereka juga lebih cepat tiba di tujuan. Dari Sagulung misalnya, ongkos taksi online sekitar Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu ke Pelabuhan Telaga Punggur.

Sedangkan jika naik taksi konvensional, ongkosnya bisa mencapai Rp 150 ribu dengan tujuan yang sama. Sebagian warga merasa terbantu. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here