Tanjungpinang Darurat Sampah

0
53
Anggota KPL Kota Tanjungpinang sedang membersihkan sampah yang berserak di Jalan Peralatan, Km 7. f-andri/tanjungpinang pos
Tanjungpinang dengan predikat kota adipura atau lambang kota bersih, kini pemandangannya sedang karut marut. Di sudut-sudut kota, sampah menumpuk. Banyak juga yang berserakan, bau tak sedap acap menusuk hidung.

TANJUNGPINANG – Belum lagi sampah di laut. Di bawah rumah masyarakat yang tinggal pelantar menumpuk sampah plastik. Sering dilakukan gotong royong untuk membersihkan sampah laut tapi tetap saja masih banyak. Selain sampah kirim warga juga masih terbiasa membuang sampah langsung ke laut. Alasan warga karena tidak ada tempat sampah sementara yang disediakan pemerintah di kawasan pelantar.

Per hari warga Tanjungpinang memproduksi sampah mencapai 80 ton. Sampah tersebut tidak semua diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ganet. TPA Ganet sendiri hampir penuh karena lahannya terbatas.

Ketua Komunitas Peduli Lingkungan (KPL) Kota Tanjungpinang, Tomi Darlius mengatakan, Tanjungpinang sudah darurat sampah. Pasalnya, dimana saja terdapat hingga terlihat sampah berserakan. Kebanyakan sampah berserak terlihat di pinggir bahu jalan utama.

Yang sering dijumpai sampah plastik berasal dari rumah. Masyarakat membuang sampah plastik begitu saja. Secara tidak langsung sudah merusak pemandangan wajah Ibukota Provinsi Kepri Tanjungpinang.

”Saya rasa kurangnya titik untuk meletakkan bak kontainer sampah dari pemerintah. Sehingga sampah berserakan dimana-mana,” ucap Tomi kepada Tanjungpinang Pos, Senin (8/4).

Seharusnya, saran Tomi, pemerintah untuk memperbanyak titik untuk meletakkan bak kontainer sampah. Agar sampah masyarakat bisa tertampung di bak kontainer tersebut.

Kalau sudah disediakan bak kontainer sampah, saran dia lagi, pemerintah jangan lepas tangan terhadap sampah. Artinya, pemerintah melakukan pengawasan terhadap sampah. Aturan sudah ada, harus dijalan dengan tegas, supaya masyarakat juga tidak seenaknya membuang sampah bukan pada tempatnya.

”Kalau kita selalu dengar, pemerintah mengeluh soal keterbatasan lahan untuk meletakkan bak kontainer sampah. Saya rasa pemerintah bisa membujuk hingga merayu masyarakat yang memiliki lahan tersebut,” harap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman Kebersihan dan Pertamanan (Disperkim) Kota Tanjungpinang, Amrialis membantah tuduhan, bahwa Kota Tanjungpinang darurat sampah.

”Itu tidak benar. Tidak ada darurat sampah,” kata Amrialis.

Intinya, kata Amrialis, semua itu kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Karena pemerintah sudah menyediakan fasilitas. Seperti bak kontainer sampah untuk menampung sampah masyarakat.

”Kalau tidak salah ingat saya, ada sekitar 51 titik yang diletakkan bak kontainer sampah,” tegas dia.

Memang, lanjut dia, pihaknya masih keterbatasan mendapat lahan untuk meletakkan bak kontainer sampah. Karena hampir semua lahan yang akan dijadikan hingga diletakkan bak kontainer sampah, merupakan milik masyarakat.

Sebab itu, pihaknya meminta kepada pihak kelurahan sampai kecamatan untuk membantu mencari hingga menyediakan lahan di wilayahnya.

Agar bak kontainer sampah bisa diletakkan dilahan tersebut. Sehingga sampah masyarakat bisa tertampung di bak kontainer tersebut.

”Kita kesal dengan masyarakat main lempar saja sampah itu. Ada petugas kita pun, masih juga main lempar sampah itu. Ya, apa salahnya sih berhenti sebentar untuk meletakkan sampah kedalam bak kontainer tersebut. Ini tidak, sampah pun dilempar-lempar,” sebut dia.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tanjungpinang, Surjadi mengatakan TPA sampah yang terletak di Jalan Ganet hampir penuh. Pemilik lahan TPA itu adalah Pemko Tanjungpinang, dengan luas mencapai 8 hektare.

Namun, sekarang kondisi TPA sudah nyaris penuh. Oleh sebab itu tahun depan, pemerintah pusat berencana mengucurkan dana Rp20 miliar, untuk pembuatan sel baru TPA. Namun, ini belum bisa dilaksanakan karena lahannya harus tersedia. Tapi, saat ini pemerintah daerah sedang mengupaya lahan 3,5 haktere di sekitar TPA Ganet untuk dibebaskan. ”Kalau di TPA Telaga Punggur Batam, sistem sel baru TPA hampir rampung,” ujarnya.

Sambung dia, apabila sel baru seluas 3,5 hektare ini jadi, maka bisa mengantisispasi 10-15 tahun ke depan untuk penampungan sampah warga. Sambungnya, ada salah satu investor yang ingin mengolah sampah di TPA Ganet menjadi metanol dan pupuk kandang. Dan, ini merupakan pilot projek di Indonesia. Negara India yang sudah menerapkan sampah diolah jadi metanol.

”Kalau ini jadi sebagai pilot projek, 6-7 tahun ke depan sampah yang ada di TPA Ganet sudah habis dan tempat pembuangan sampah tersedia lagi. Sekarang sedang dalam pengurusan izin-izin,” ujarnya. (ANDRI DS – ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here