Tanjungpinang Harus Mampu Gandeng Singapura dan Malaysia

0
636
Ing Iskandarsyah

TANJUNGPINANG – Bakal calon Wali Kota Tanjungpinang Ing Iskandarsyah untuk periode 2018-2023, mengatakan, ke depanya Pemerintah Kota Tanjungpinang harus mampu menggandeng Singapura dan Malaysia untuk meningkatkan perekonomian. ”Kerja sama yang saling menguntungkan antara Tanjungpinang dengan Singapura dan Malaysia harus dibangun. Apalagi kedua negara bertetangga dengan ibu kota Kepulauan Riau ada historisnya dengan Tanjungpinang,” kata Iskandarsyah, kemarin.

Iskandarsyah yang berniat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Tanjungpinang akan menjadikan hal itu sebagai salah satu program utama dalam meningkatkan investasi.
Program itu akan dijalankannya secara optimal, sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat meningkat dan tercipta lapangan kerja. Selama ini, menurut dia sebagian produk yang diperjualbelikan di Tanjungpinang berasal dari kedua negara tersebut. Artinya, sejak dahulu Tanjungpinang merupakan salah satu pangsa pasar produk dari Singapura dan Malaysia.

Dengan kondisi itu, terbuka peluang bagi Tanjungpinang menarik investasi dari pengusaha Malaysia dan Singapura, untuk berivestasi di kawasan Free Trade Zone (FTZ) di Dompak dan Senggarang. Karena, strategi penanaman modal sekarang lebih efisien dibangun di daerah yang berdekatan dengan pembeli sehingga menghemat biaya operasional. ”Memang hal itu tidak mudah direalisasikan, tetapi bukan berarti tidak mungkin terjadi. Selama ini, kami mengetahui apa yang diinginkan oleh investor yakni lahan yang memadai, kondisi yang nyaman, birokrasi yang tidak berbelit-belit. Itu dapat diberikan kepada investor,” katanya, yang juga anggota Komisi II DPRD Kepri.

Baca Juga :  Peluang Golput di Pilwako Tinggi

Iskandar mengemukakan investasi lainnya yang dapat digarap dari kedua negara berhubungan dengan kemaritiman. Tanjungpinang yang dikelilingi lautan dan berbatasan dengan Kabupaten Bintan merupakan kota kecil yang dapat dihias sehingga tambah menarik. Jika, sektor pariwisata menjadi sumber pendapatan utama di Bintan, maka seharusnya Tanjungpinang yang satu daratan dengan kabupaten tertua di Kepri itu mendapatkan hasil yang sama.

Tanjungpinang yang memiliki posisi strategis harus dilengkapi dengan infrastruktur dasar yang menarik, dan fasilitas umum seperti pelabuhan dan bandara dibangun dengan fasilitas memadai dan pelayanan yang maksimal. ”Singapura saja, pendapatan terbesar dari proses pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar, jasa labuh dan ’shipping container’ serta parawisata. Tanjungpinang pasti bisa seperti itu bila kita pandai menangkap peluang,” ujarnya.

Ia menjelaskan berdasarkan informasi dari Singapore Tourism Board (STB) tahun 2016, turis yang datang ke negara itu sekitar 16,4 juta orang dengan penerimaan devisa negara sekitar 24, 8 miliar dolar Singapura atau sekitar Rp200 triliun. Pendapatan yang fantastis itu jika dapat dimanfaatkan Tanjungpinang akan menguntungkan bagi masyarakat dan pemerintah. Bila sejuta orang turis saja yang datang ke Tanjungpinang, dan mereka mengeluarkan uang untuk belanja Rp1 juta per orang, maka uang yang berputar di kota ini sebesar Rp1 triliun. ”Tanjungpinang harus dibangun dengan menarik sehingga turis memiliki keinginan untuk terus-menerus ke kota ini,” ucapnya.

Baca Juga :  Dugaan Politik Uang, Bawaslu Cari Bukti

Iskandarsyah juga akan mengajak berbagai pihak, termasuk investor asing untuk bekerja sama dalam pengembangan pelabuhan kontainer dan pergudangan yang modern. ”Ada kerja sama pergudangan antara singapura dengan Indonesia melalui Tanjungpinang untuk kebutuhan dan transportasi domestik se-Indonesia dan ASEAN,” katanya.

Untuk membangun Tanjungpinang, ia menyadari harus ada campur tangan dari Pemerintah Kepri dan pusat. Sinergisitas yang terbangun akan mengubah Tanjungpinang menjadi lebih maju. ”Dengan kerja sama ini, ibu kota provinsi yang berada di Tanjungpinang bisa maju dan bertumbuhan ekonomi tinggi. Disinilah peluang kita membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya. Tanjungpinang maju, Kepri kuat, Indonesia jaya,” tuturnya.

Masih kata Ing Iskandarsyah sejak lama sudah punya impian untuk membangun Tanjungpinang. Banyak ide besar yang ia peroleh saat belajar dan bekerja di Eropa untuk diterapkan di Tanjungpinang. Salah satu impiannya adalah ingin mengubah Penyengat menjadi kawasan wisata berkelas dunia. Namun, menjual sejarahnya saja tidak bisa. Harus kreatif menciptakan daya tarik, sehingga banyak turis dan wisatawan nusantara yang datang. Penyengat itu harus jadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Namun, tanpa ide besar, tidak mungkin terwujud. Ia mencontohkan, banyak negara di dunia tak punya potensi sumber daya alam, namun bisa kaya.

Singapura misalnya, pendapatan negara ini bergantung pada sektor wisata, mengelola dan menjual minyak serta jasa kapal. Namun, jumlah turis yang datang ke negara itu sangat banyak. Tahun 2016 lalu, jumlah turis yang datang ke Singapura hampir 16,4 juta jiwa dan pendapatan negara itu ratusan triliun. Kepri punya potensi yang sangat banyak. Kawasan wisata ada dimana-mana. Namun, karena kurang kreatif mengelola dan menjualnya, sehingga turis yang datang minim.

Baca Juga :  Khawatir Pilwako Sepi Pemilih

Di Belanda, kata dia, ada lokasi wisata yang banyak didatangi turis. Tidak menjual keindahan alam. Di tempat itu, disediakan pakaian adat setempat. Sehingga, turis yang datang harus membayar untuk bisa mengenakan pakaian itu. ”Tujuannya mengenakan pakaian adat mereka apa? hanya untuk berfoto-foto dan itu menandakan mereka sudah ke Belanda. Sekali bayar Rp350 ribu hingga Rp 400 ribu,” ujarnya.

Tapi, hampir setiap turis yang datang ke sana memanfaatkan momen tersebut untuk mengenakan pakaian adat Belanda dan berfoto. ”Bayangkan berapa banyak uang mereka masuk setiap hari. Yang dijual apa, hanya pakaian itu saja. Ide itu yang penting,” ungkapnya lagi. Di Penyengat, penghasilan masyarakat harus meningkat atas kedatangan pengunjung. Bisa saja konsep itu dibuat di sana. Atau, bisa juga membuat peta lokasi wisata Penyengat dalam tiga bahasa. ”Setiap pengunjung yang masuk, jual peta itu Rp5 ribu atau Rp 10 ribu,” tegasnya. (bas/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here