Tanjungpinang Mesti Bebas dari Asap Sampah

0
504

Oleh: Genta Caesar Prayoga
Mahasiswa Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes TPI

Tumpukan sampah yang ada di rumah sangatlah mengganggu pemandangan dan juga mencemari lingkungan. Agar rumah bersih dan sehat, kita pun sering mengambil jalan pintas membersihkan tumpukan sampah dengan cara membakarnya.

Tentunya, masyarakat sudah sering melihat adanya asap yang membumbung hasil dari pembakaran sampah. Entah itu di lingkungan rumah warga atau di pekarangan sendiri. Sampah yang dibakar dapat berupa apa pun, mulai dari plastik, sampah rumah tangga, atau kayu. Mudah dan cepat, selain itu orang-orang juga berpikir bekas pembakaran dapat dijadikan pupuk alami.

Membuang sampah di tempatnya memang baik, tetapi masih ada hal-hal yang kita perlu perhatikan setelah membuang sampah. Beberapa dari kita memilih untuk membakar sampah yang telah terkumpul. Apakah pilihan untuk membakar sampah merupakan pilihan yang baik? Ternyata membakar sampah malah menimbulkan masalah baru bagi kesehatan kita.

Namun, pembakaran sampah bukanlah hal yang sepele. Meski banyak orang memilih langkah ini, cara tersebut nyatanya sama sekali bukan hal yang benar. Tak hanya menghasilkan kabut asap yang bisa mengurangi jarak pandang dan kenyamanan, membakar sampah juga memiliki dampak yang sangat buruk untuk lingkungan dan kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) nomor 2 tahun 2005 mengenai pengendalian pencemaran udara, membakar sampah baik di lingkungan rumah sendiri atau di tempat pembuangan sampah yang ada di sekitar tempat tinggal sudah dilarang.

Menjaga rumah agar bersih dan sehat dengan cara membakar sampah adalah salah besar, karena akan menyebabkan polusi udara karena menimbulkan debu dan asap hitam yang mengganggu. Sampah yang dibakar juga melepaskan karbondioksida (CO2) yang justru akan memperparah pemanasan global. Selain itu gas chlor yang dihasilkan dari pembakaran sampah juga dapat merusak atmosfer bumi.

Tak hanya lingkungan saja, ternyata membakar sampah juga akan menimbulkan masalah baru bagi kesehatan. Selain melepaskan karbondioksida (CO2), sampah yang dibakar juga menghasilkan karbonmonoksida (CO) yang sangat berbahaya. Bila kita menghirup CO, hemoglobin di dalam darah yang seharusnya berfungsi mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh justru akan terganggu. Tubuh pun akan kekurangan oksigen, yang bisa berujung dengan kematian.

Asap hitam yang dihasilkan dari pembakaran sampah akan menghasilkan hidrokarbon benzopirena yang 350 kali lebih berbahaya dari asap rokok. Ada pula zat-zat berbahaya lain seperti dioksin yang berasal dari sampah plastik yang dibakar. Jika dihirup di tempat pembakaran, akan membuat tubuh menjadi sesak napas, bahkan efek panjangnya dapat memicu penyebab kanker hati.

Polusi udara akibat pembakaran sampah juga sangat berbahaya bagi wanita hamiil karena bisa menyebabkan bayi dalam kandungan terkena racun yang dapat mempengaruhi otaknya, sehingga bayi memiliki kemungkinan mengalami sindrom Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), atau lebih sering dikenal dengan istilah hiperaktif.

Asap dari kayu yang dibakar pun dapat berbahaya karena adanya formaldehida. Barang melamin juga bisa menghasilkan senyawa ini seandainya dibakar dengan suplai oksigen yang banyak dan jika kurang, gas HCN-lah yang akan lahir. Masih banyak racun lain yang mungkin ditimbulkan oleh pembakaaran sampah, bahkan partikel debu kecil yang disebut dengan particulate matter (PM) hingga mencapai level 10 mikron (PM10) salah satu di antaranya.

Semua racun ini akan disebar ke atmosphere lalu dihirup secara terus menerus oleh semua mahkluk hidup. Tak hanya itu, racun tersebut juga akan mengendap dalam tanah dan akhirnya bisa memasuki rantai makanan. Dampaknya mungkin tak langsung terlihat, tetapi berbagai zat beracun itu bisa saja sudah mulai memengaruhi tubuh yang akhirnya menimbulkan suatu penyakit.

Belum lagi dengan gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah, yang juga dapat merusak atmosfer bumi. Gas tersebut adalah senyawa chlor, yang dihasilkan dari pembakaran plastik. Pembakaran bahan sintetis yang mengandung nitrogen, seperti nilon, busa poliuretan yang ada pada sofa atau karpet busa, juga membahayakan karena dapat menghasilkan gas HCN yang berbahaya. Jadi, haruskah kita mengatasi sampah dengan cara yang justru membahayakan kelangsungan hidup diri sendiri dan generasi masa depan? ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here