Tanjungpinang versus Pangkalpinang

0
172
Ridarman Bay

Oleh Ridarman Bay, SE, MM
Sekretaris ICMI Tanjungpinang & Dosen STIE Pembangunan

Senin pagi (29/10/18) saya dapat telepon dari teman di Jakarta; “Assalamualaikum,”; “Walaikum salam,” jawab saya. “Apa kabar bang? Sehat aja kan?” ujarnya. “Sehat,” balas saya. “Bagaimana bang, ada keluarga yang ikut (naik pesawat) Lion,” ujarnya khawatir. “Naik Lion,” ujar saya heran. Sesaat saya sadar, “Wah ini sudah gagal faham lagi,” batin saya. Kemudian saya bilang,”Abang kan di Tanjungpinang, bukan di Pangkalpinang. Abang tuh di Kepri, bukan di Babel. Pangkalpinang tu berada dekat Sumatera Selatan, Bangka Belitung,” ujar saya menerangkan. Kawan saya itu tergagap,”Oh iya abang di Tanjungpinang ya….Kepri,” ujarnya.

Memang pada Senin pagi (29/10) itu telah terjadi kecelakaan pesawat terbang Lion Air nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Pesawat itu jatuh diperkirakan pukul 06.35 wib, di Tanjung Karawang, Jawa Barat. Karena khawatir, teman saya itu langsung menelepon saya. Namun, dia salah lokasi. Pangkalpinang, kawan saya pikir itu di Tanjungpinang.

Sesungguhnya nama Tanjungpinang seolah-olah susah dipisahkan dengan Pangkalpinang. Kedua ibukota provinsi ini memang berada di daerah kepulauan, tapi letaknya jauh berbeda. Tanjungpinang ibukota Provinsi Kepri (Kepulauan Riau), pecahan dari provinsi induk, Provinsi Riau. Sedangkan Pangkalpinang ibukota Provinsi Babel (Bangka Belitung), pecahan dari Provinsi Sumatera Selatan. Yang sama diantara dua kota ini, hanya letaknya di Pulau Sumatera.

Banyak orang yang belum begitu familiar apabila disebut Tanjungpinang. “Pihak luar” selalu menyangka Tanjungpinang sama dengan Pangkalpinang. Jika kita ke Jakarta pun, bila disebut dari Kepri, banyak yang mengernyitkan dahinya, seolah-olah tidak tahu, dimana sebetulnya Kepri itu terletak di tanah air ini. Saat disebut Tanjungpinang pun, mereka masih gagap pengetahuan. Kebanyakan menyangka Tanjungpinang itu, ya itu tadi, Babel. Nah saat disebut Batam, baru wajah si penanya jadi cerah. “Oh Batam…. tahu saya. Dekat Singapura kan?”. Tapi, tidak sedikit pula yang mengira Batam itu bagian dari Provinsi Riau. Nah lo….

Seringnya orang gagal paham bila disebut nama Tanjungpinang, memang membuat kita khawatir. Saat membuka acara dialog interaktif yang digelar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia) Kota Tanjungpinang, pekan lalu, Walikota H Syahrul pun menyatakan kerisauannya. “Kawan saya pernah telepon dia minta di jemput. Saya tanya lagi di mana, katanya di bandara. Saya tanya lagi bandara mana….eh tahu nya teman saya itu nyasar ke Pangkalpinang,” ujar Walikota Tanjungpinang itu.

Hal senada juga dinyatakan Sekretaris KPU Provinsi Kepri, Ardyanto Hadibroto. Waktu penulis jadi komisioner KPU Kepri, Sekretaris KPU Kepri pernah bercerita, dia juga punya pengalaman teman yang mau ke Tanjungpinang, ternyata terdampar di Pangkalpinang. “Tidak tahu lah, kok orang susah ya membedakan Tanjungpinang dengan Pangkalpinang,” ujarnya maskul.

Kondisi gagal paham soal nama Tanjungpinang ini, sepertinya sudah menggejala yang menjurus mengkhawatirkan. Praktis hampir semua pejabat di Kepri pernah mengalaminya. Untuk hal sepele saja, banyak orang yang belum tahu dimana sesungguhnya Tanjungpinang itu berada. Termasuk Provinsi Kepri, tidak sedikit juga yang tiada mengenalnya.

Malah dalam liputan live kecelakaan pesawat Lion JT 610 yang jatuh saat melakukan penerbangan dari Jakarta menuju Pangkalpinang, Senin sore (29/10), televisi swasta nasonal yang ternama, TV One, sempat menulis dalam siaran langsungnya “Tanjungpinang, Babel,” sungguh ironis. Dalam beberapa data yang dirilis untuk umum yang diterbitkan instansi pemerintah, bukan sedikit yang menulis “Batam, Riau” atau “Tanjungpinang, Riau”. Penulis juga pernah menemukan nama provinsi Kepri tidak ada dalam buku pelajaran Peta Indonesia yang dijual bebas.

Kondisi ini jelas memprihatinkan sekaligus miris. Padahal Provinsi Kepri sudah berdiri dengan resmi sejak lebih dari 14 tahun lalu. Tapi kenapa nama Kepri seolah-olah tiada mengemuka di belahan bumi tanah air. Saat dialog pemuda Kepri dalam menyongsong hari Sumpah Pemuda yang ditaja HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Tanjungpinang, Ahad (28/10), lalu di RRI Tanjungpinang, pun merasakan hal yang sama. Soal kurang gregetnya nama Tanjungpinang dan Kepri khususnya, mengemuka dalam dialog pemuda tersebut.

Padahal, kata Ihsan dari Dinas Pemuda & Olahraga Kepri, pemuda Kepri sudah banyak mengikuti even-even tingkat nasional, malah internasional lagi. Kepri sudah mengikuti program pertukaran Pemuda Kepri ke Korea, Kapal Pemuda Nusantara, Jambore Pemuda Indonesia, dan program Kewiraswastaan Pemuda. Dengan banyaknya Kepri mengikuti kegiatan tingkat nasional, tentu saja diharapkan nama Kepri dan Tanjungpinang, khususnya lebih melambung di tanah air.

Upaya untuk menjual nama Tanjungpinang dan Kepri umumnya, perlu segera dicari solusi jitu. Kota ini semestinya membuat acara yang sifatnya menggugah pandangan mata secara nasional. Dengan membuat acara yang diliput para entertainment skala nasional, rekor Muri, misalnya. Nilai jual Kepri salah satunya adalah gurindam 12, maka buatlah acara Baca Gurindam 12 dikalangan pelajar yang boleh masuk dalam rekor Muri.

Konon kabarnya, bahasa Indonesia pun berasal dari Riau, bukan dari Provinsi Kepri. Bahkan presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, di proklamirkan bermula dari Riau. Padahal keduanya murni berpunca dari Provinsi Kepri. Sebelum Riau terbelah menjadi dua, bahasa Indonesia betul bersumber dari Riau, tapi sejak berpisah, maka sejatinya asal muasal bahasa Indonesia berawal dari Provinsi Kepri.

Sebenarnya, upaya untuk membuat nama dan Kota Tanjungpinang bersinar dan cemerlang sudah dikeluhkan sejumlah pihak sejak beberapa tahun lalu. Sudah banyak media massa yang mengupas soal ini. Namun hasilnya tidak menggembirakan. Walikota sudah berganti, tapi walikota yang baru masih terus merasakan nama Tanjungpinang yang sering bertukar tempat dengan nama kota lain. Aktifitas yang menarik wisatawan pun sudah jamak dilakukan. Tidak itu saja, diseantero kota juga sudah dilaksanakan pembenahan dengan asumsi turis yang datang menjadi betah berlama-lama tinggal di ibukota provinsi itu. Kendati demikian, sampai sekarang masih terjadi salah paham terhadap posisi Kota Tanjungpinang.

Tidak saja di sektor kepariwisataan, upaya untuk mendongkrak nama Tanjungpinang juga seyogyanya dilakoni oleh kalangan bisnis atau usahawan. Harus banyak even standar nasional yang digagas di kota gurindam ini. Kalau perlu ada political will dari pengambil kebijakan daerah untuk mewajibkan bikin acara di Tanjungpinang sebagai ibukota provinisi. Di samping itu, Tanjungpinang mesti diarahkan jadi kota perdagangan, wisata halal, dan kota pendidikan.

Selanjutnya, sebagai pusat pemerintahan, Tanjungpinang hendaklah menjadi sentra kegiatan pemerintahan berskala provinsi. Kegiatan pemerintahan, seperti rapat kerja daerah, dan rapat koordinasi, selayaknya digelar di ibu kota provinsi. Jadi, kegiatan pemerintahan jangan melulu diarahkan ke Batam, misalnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here