Tanjungsauh dan Babin Harus Sejalan

0
597
KONTAINER disusun di Pelabuhan Batuampar Batam dan siap untuk dieskpor. Kepri butuh pelabuhan kontainer yang lebih besar untuk mengimbangi volume muatan kontainer kapal di Selat Malaka yang terus meningkat.f-martunas/tanjungpinang pos

Volume Kontainer Selat Malaka Makin Tinggi

Presiden RI Joko Widodo telah menyetujui pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) untuk menyatukan tiga wilayah yakni Batam, Bintan dan Tanjungpinang. Namun, pembangunan Jembatan Babin ini harus sejalan dengan Pelabuhan Kontainer Tanjungsauh.

BATAM – TITIK awal pembangunan Jembatan Babin juga terkoneksi dengan rencana pembangunan Pelabuhan Kontainer di Tanjungsauh Batam. Sehingga, pemanfaatkan Jembatan Babin semakin maksimal jika pelabuhan ini juga dibangun.

Untuk membangun jembatan di atas laut dengan panjang 7 kilometer, dibutuhkan waktu sekitar 6 tahun. Untuk membangun pelabuhan besar seperti yang direncanakan untuk Pelabuhan Tanjungsauh, butuh waktu sekitar 10 tahun.

Namun, berdasarkan pra studi kelayakan (Feasibility Studdy/FS) yang telah dilakukan Badan Pengusahaan (BP) Batam, untuk membangun Pelabuhan Tanjungsauh bisa rampung enam tahun.

Karena itu, rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan dinilai bisa mendukung aktivitas pelabuhan peti kemas di Tanjungsauh nanti. Sebaliknya, pemanfaatan Jembatan Babin akan lebih maksimal jika pelabuhan Tanjungsauh beroperasi. Sehingga, jika pembangunan Jembatan Babin dimulai, sebaiknya dilakukan secara bersama-sama dengan pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh.

Baca Juga :  Gubernur Jemput Jokowi Datang ke Bintan

Demikian disampaikan Deputi II Bidang Pengembangan BP Batam, Yusmar Anggadinata, Kamis (1/3) yang mengaku sudah beberapa kali melihat potensi pembangunan di Tanjungsauh.

”Tapi dari pengalaman saya, pembangunan seaport di Indonesia bisa sampai 10 tahun. Tapi, Tanjungsauh bisa dibangun dalam enam tahun,” katanya.

Terkait rencana pembangunan, pihaknya menyerahkan ke Pemerintah Pusat dengan masukan dari Pemprov Kepri. Menurutnya, pemerintah yang menentukan langkah yang akan diambil untuk Tanjungsauh. Namun ia mengatakan, studi awal soal rencana pengembangan Tanjungsauh sudah pernah dilakukan BP Batam.

”BP Batam pernah membuat kajian tentang Tanjungsauh. Namun masih kajian makro sejenis pra Feasibility Study (FS). Belum sampai kepada Outline Bussiness Case (OBC). Kajian-kajian ini tak bisa dipakai jika dibawa ke penyandang dana,” jelasnya.

Karena itu, untuk Tanjungsauh diakui perlu kajian untuk menentukan Detailed Engineering Design (DED). Demikian, pantauannya di Tanjungsauh selama ini, dinilai bisa dikembangkan dengan menggabungkan gugusan pulau di wilayah sekitar Tanjungsauh.

Baca Juga :  Kementerian PU Telaah DED Jembatan Babin

”Lebih baik dermaga dibangun dengan mengkoneksikan antarpulau dalam gugusan,” imbaunya.

Selain itu, keuntungan ganda bisa didapat jika dilakukan konektivitas antarpulau. Di tengah pulau yang digabungkan melalui pelabuhan, bisa dijadikan waduk untuk memenuhi kebutuhan air di sana.

”Konektivitas antarpulau akan membentuk sebuah waduk baru di tengah gugusan. Bendungan itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di sana, hingga Bintan,” jelas Angga.

Ditanya kedalaman, diakui ada yang mencapai 20 meter. Sehingga bisa dilintasi kapal-kapal bermuatan besar. ”Posisi Tanjungsauh sangat strategis, sehingga saran kami, sebaiknya Tanjungsauh dibangun segera. Bisa bersamaan dengan menyiapkan pembangunan Jembatan Babin. Tapi Jembatan Babin bisa lebih dulu selesai,” ujarnya.

Diingatkan, mengacu survei pertumbuhan kapasitas trafik volume kargo kontainer di Selat Malaka, diperkirakan pada 2030 akan mencapai 143 juta TEUs. Saat ini, volume kontainer masih didominasi Singapura sebesar 32 juta TEUs. Pelabuhan Tuas sekitar 20 juta TEUs, Port Klang 20 juta TEUs, Tanjung Pelepas 20 juta TEUs. Bangkok dan Myammar masing-masing 10 juta.

Baca Juga :  Awal 2018, KEK Galang Batang Dioperasikan

”Masih ada perkiraan proyeksi trafic sekitar sisa 32 Juta TEUs yang bisa dimanfaatkan. Suka tidak suka, Kepri harus membangun Pelabuhan Batuampar dan Tanjungsauh untuk menampung potensi tersebut,” imbaunya mengakhiri.

Sebelumnya, Gubernur Kepri H Nurdin Basirun mengatakan, untuk Pelabuhan Tanjungsauh, bakal masuk nilai investasi sebesar Rp 20 triliun. Kawasan ini nantinya menjadi sebagai pelabuhan peti kemas modern, containernyard dan Kawasan Industri Terpadu pengolahan dan penyimpanan gas serta sebagai logistic hub dan port gate way di wilayah Indonesia bagian barat dan dapat memangkas dwelling time. Target kapasitas 5 juta TEUs per tahun.(MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here