Tanpa Modal Awal, Untungnya Jutaan

0
677
JUALAN: Januar Putra saat jualan atribut HUT RI di kawasan Bintancentre Tanjungpinang. f-andri/tanjungpinang pos

Agustus, Adu Nasib Penjual Atribut HUT RI

Bulan Agustus selalu identik dengan ragam permainan rakyat yang digelar dimana-mana sempena merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang diproklamirkan tahun 1945 silam.

TANJUNGPINANG – Di sisi lain, Agustus juga menjadi bulan panen rupiah dan adu untung oleh sejumlah pedagang musiman aneka atribut merah putih. Beberapa ruas jalan Kota Tanjungpinang yang biasanya tampak lengang itu kini menyuguhkan hal berbeda. Dari kejauhan, warna khas merah-putih sudah mencolok mata. Ditinjau lebih detail, para pedagang musiman tersebut tanpa sungkan merayu pembeli meski hanya selembar bendera. ”Dipilih-dipilih, yang cinta Indonesia pasti beli bendera baru,” kata salah satu pedagang dari puluhan pedagang musiman yang tersebar di banyak sudut Tanjungpinang.

Adalah Aldianto, pria dengan usia 46 tahun ini ketika dijumpai Tanjungpinang Pos di ruas jalan Batu 8 Atas mengaku sudah 5 tahun mengadu untung dengan bisnis musiman di bulan Agustus. Tidak ada pilihan lain bagi bapak 2 anak ini yang senantiasa cari akal untuk mencukupi kebutuhan keluarga. ”Selain bulan ini saya buruh bengkel pinggir jalan. Tapi dengan jualan musiman gini, untungnya cukuplah untuk makan hingga akhir tahun,” kata dia tanpa sungkan menjawab pertanyaan media.

Baca Juga :  Puluhan Kantong Sabu Asal Malaysia Diamankan

Meski sebagai buruh bengkel sejak tahun 1996 silam, pria yang akrap disapa Yanto ini tampak mahir melipat kain umbul-umbul dan membentang bendera yang dijualnya hanya demi selisih harga keuntungan. Untuk harga, tergantung dari jenis dan ukuran yang ingin dibeli warga, seperti bendera dengan ukuran standar dibanderol Rp 40 ribu per pisis.

Sementara tiang bambu yang berlapis plastik dijual dengan harga Rp 25 ribu per batang. Lain halnya dengan umbul-umbul, harga per pisis sekitar Rp 30 ribu. Untuk background atas gedung yang biasa disebut dengan bandir, harganya beragam yakni Rp 50 ribu sampai Rp 800 ribu. ”Itu harga buka. Sebab terkadang pembeli juga nawar, selisih Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu itulah untung saya,” ungkapnya yang mengakui bahwa atribut yang dijualnya dipasok dari Kota Bandung tanpa modal serupiah pun. ”Kami semua yang di Tanjungpinang ini sama-sama kenal, totalnya ada 3 tim. Setiap timnya ada 8 hingga 10 anggota, kalau tidak laku, ya dikembalikan lagi ke Bandung, tetapi ongkos kirim kita sendiri yang tanggung. Jadi modal kepercayaan juga,” terang Yanto.

Baca Juga :  Cabang Bank Riau Kepri Hadir di Tembilahan

Disinggung mengenai untung, diakuinya tergantung dari pembeli dan cuaca. Dua tahun belakangan ini dagangan yang digelar hingga tanggal 18 Agustus tersebut hanya mampu meraup untung bersih Rp 3 juta, sementara untuk tahun ini kurang dari 10 hari, Yanto sudah mendapatkan untung Rp 5 juta. ”Semoga cuaca bagus. Sebab tahun ini banyak peminatnya, kata mereka sih untuk bahan foto-foto saja,” bebernya.

Lain Yanto, lain lagi Parman (42) yang lebih memilih berdagang keliling sebagai metode marketing yang dijalaninya. Sebab, menurut pria pendatang ini, jualan keliling lebih untung karena langsung kepada sasaran pembeli. ”Kalau gelar lapak kan tidak semua lewat depan dagangan kita. Tapi kalau jualan pikulan begini, di pelosok-pelosok bisa masuk,” ujarnya yang mengaku bisa meraup rupiah hingga Rp 10 juta tiap tahunnya.(Yoan S Nugraha)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here