Tarif Bagasi Berbeda Sesuai Jarak

0
166
ILUSTRASI

Hari pertama pemberlakuan bagasi berbayar di maskapai Lion Air, Selasa (22/1) kemarin mendapat banyak keluhan dari penumpang di Bandara Hang Nadim. Bahkan ada yang menyesal.

Calon penumpang mengeluhkan biaya bagasi yang biasanya gratis 20 Kg, harus dibayar per Kg dengan tarif berbeda sesuai jarak tujuan. Ke Medan dan Pontianak, tarif bagasinya tidak sama.

Walau sejumlah penumpang mengeluhkan tarif, namun pihak Lion Air menyebut jika keluhan tidak banyak.

Airport Managaer Lion Air, Bandara Hang Nadim, Reddy Hetharia saat ditemui di Bandara Hang Nadim Batam, kemarin, mengklaim sudah gencar melakukan sosialisasi tentang tarif bagasi tersebut. Sosialisasi gencar dilakukan melalui media dan medsos.

”Sudah diberitahu 0 bagasi. Harusnya minggu lalu diberlakukan menjadi hari ini,” tegasnya.

Disebutkannya, saat calon penumpang membeli tiket, penumpang seharusnya bisa langsung beli bagasi. Bagasi bisa dibeli di agen penjual tiket.

Selain itu, bisa juga dibeli di bandara, minimal 6 jam sebelum waktu keberangkatan. Di Bandara Hang Nadim, diakui layanan itu disediakan.

”Di depan ada disediakan private bagasi. Itu harganya jauh lebih murah. Jauh bedanya. Bilang saja mau beli bagasi, jauh lebih murah. Ini juga untuk mengajak penumpang tahu berapa banyak bagasinya,” cetusnya.

Untuk membantu penumpang dalam membayar bagasi, ke depan Lion Air menyiapkan sistem elektronik. Alatnya diakui sudah dipasang, sehingga penumpang Lion Air ke depan tidak harus membayar dengan uang tunai seperti hari kemarin.

”Sebenarnya alat sudah kepasang, untuk pembayaran non tunai. Tapi kalau sekarang masih cash. Untuk ke depan, bagasi menggunakan nontunai. Ini untuk mengurangi antrean juga,” imbuh Reddy.

Sebelumnya, terkait dengan bagasi berbayar ini, Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Kepulauan Riau (Kepri), mengungkapkan kekhawatiran atas dampaknya, bagi pariwisata.

Ketua DPD Asita Kepri, Andika Lim mengatakan, harga tiket yang tinggi saat ini, tak sejalan dengan program pemerintah membangun parwisata.

Menurutnya, seharusnya istilah Low-Cost Carrier (LCC) bisa benar-benar terwujud. Diharapkan, pihak airline mempertimbangkan kembali, Low-Cost Carrier. ”Itu kontra produktif dengan agenda besar Kementerian Pariwisata,” imbuhnya. (mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here