Tarif Listrik Bakal Naik

0
349
Gardu Induk PLN Tanjunguban yang memasok listrik di wilayah Bintan dan Tanjungpinang. f-jendaras/tanjungpinang pos

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan membuka kemungkinan mengubah formula penghitungan tarif listrik. Formula penghitungan tarif listrik akan memasukkan Harga Batu-bara Acuan (HBA).

HBA akan menjadi komponen penghitungan tarif listrik bersama dengan inflasi, kurs dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP).

Dengan dimasukkannya HBA ke dalam formula penghitungan tarif listrik kemungkinan tarif listrik akan mengalami kenaikan, tapi kenaikan tarif listrik itu hanya berlaku kepada pelanggan non subsidi 1.300 VA ke atas.

”Kalau tarif adjustment kan khusus untuk non subsidi yang 12 kelompok dari total 37 kelompok itu. Pokoknya yang 450 VA dan 900 VA (yang subsidi) enggak disentuh-sentuh,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (29/1).

HBA pada bulan Desember 2017 mengalami penurunan menjadi US$ 94,04 per ton dari US$ 94,84 per ton pada bulan sebelumnya, atau turun sekitar 0,8%. HBA tersebut merupakan harga untuk penjualan langsung (spot) periode 1 Desember hingga 31 Desember 2017 pada titik serah penjualan secara Freight on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Akan tetapi, Andy menjamin tarif listrik harus tetap bisa terjangkau bagi masyarakat. Sehingga bisa menjaga daya beli. ”Iya affordable dong. Kalau batu bara kan masih affordable sekarang,” ujar Andy.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan akan menerbitkan Keputusan Menteri ESDM (Kepmen) terkait formula baru tarif listrik. Di dalam Kepmen ini nantinya, harga batu bara acuan (HBA) dimasukkan sebagai komponen formula tarif listrik.

”Mungkin bulan depan, atau Maret. Mungkin paling lama sama-sama dengan ini kali ya sama berkaitan BPP 2017,” kata Andy.

Kementerian ESDM menjelaskan bahwa tarif listrik untuk nonsubsidi bisa naik sesuai dengan formulasi penyesuaian yang akan tersusun.

Andy Noorsaman Someng menjelaskan, bahwa formulasi baru akan disusun lagi jika memang ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual listrik.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mempertimbangkan skema baru untuk memasukkan harga batu bara acuan dalam penetapan tarif dasar listrik.

Pertimbangan ini didasari oleh porsi penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik masih menjadi tumpuan hingga tahun 2026 nanti.

Ini akan dicoba untuk reformulasi lagi formula penetapan tarif listrik, bagaimana kalau dengan masuknya harga batu bara.

Karena pembangkit di Indonesia itu 60 persen energi primernya batu bara. Jadi hingga 2026 masih dominan pakai batu bara, karena harganya lebih kompetitif, namun pembangkitnya juga harus yang teknologinya lebih environment friendly.

Selama ini, harga minyak Indonesia masih jadi faktor utama pengambilan keputusan Tarif Tenaga Listrik. Sementara saat ini porsi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar diesel semakin kecil.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional dari batu bara hingga 2016 sebesar 29.880,23 MW dari total 59.656,30 MW. Sedangkan, pembangkit listrik diesel hanya sebesar 6.274,79 MW secara nasional.

Terkait kepastian skema baru tersebut, Jonan belum memutuskan dan masih mencoba bersikap realistis seiring dengan perkembangan pembangkit listrik.

Sebagai informasi, perhitungan Tarif Tenaga Listrik masih menggunakan tiga komponen, terdiri dari harga minyak mentah Indonesia atau ICP, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan laju inflasi. (jpnn/net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here