Tarif Listrik Tahap II Dilematis

0
576
PEMBANGKIT: PLTU Tanjungkasam salah satu pembangkit listrik utama di Batam. f-martunas/tanjungpinang pos

Daya Listrik Andal, Investor Masuk

Rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) Batam untuk tahap II sebesar 15 persen masih problem karena masih ada reaksi dari masyarakat untuk menolak.

BATAM – Namun di sisi lain, Bright PLN Batam sudah mengeluh dan mengkhawatirkan kelanjutan listrik di Batam. Dengan tarif listrik yang belum naik tahap dua, ancamanan pemadaman di depan mata. Walau PLN mengaku berupaya untuk menghindari pemadaman, namun ketersediaan dana, daya dan pasokan energi menjadi penentu. Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Kelistrikan Indonesia (L-PERKKINDO) Thomas A E Kota Batam, juga tidak banyak bicara saat diminta tanggapannya soal rencana kenaikan tarif listrik tahap II.

Ia mengatakan, sudah bicara dengan PLN Batam. Bagi PLN Batam dinilainya, kondisi kelistrikan saat ini sangat dilematis. ”Bicara tarif, sangat sensitif,” katanya singkat. Namun diakui, sejak Bright PLN Batam berdiri setelah listrik Batam dialiri PLN Persero Wilayah Riau, pengelolaan listrik sangat baik. Sebelum Bright PLN Batam beroperasi, listrik di Batam di bawah Pertamina, kemudian Otorita Batam (OB) hingga terbentuk PLN Persero di Batam. PLN Persero yang disebut bersama OB membentuk Bright PLN Batam. ”Awalnya memang Persero Wilayah Riau yang beroperasi di Batam. Saat itu listrik belum mapan seperti sekarang,” katanya.

Diceritakannya, dulu waktu listrik baru diambil alih PLN Batam dengan tarif yang berbeda dari sebelumnya, tidak ada reaksi masyarakat. Semua wellcome karena memang masyarakat dan industri merindukan listrik yang mapan dan diharapkan dilahirkan PLN Batam. Hanya saja, saat itu industri tidak sebesar saat ini. Demikian dengan pertumbuhan penduduk yang cukup besar.

Energi yang dibutuhkan dulu juga tidak sebesar sekarang. Saat ini, dengan energi yang dibutuhkan lebih besar untuk rumah tangga, maka beban yang ditanggung PLN semakin tinggi. Selain itu, energi yang dibutuhkan juga lebih besar. Kondisi saat ini, PLN Batam masih mampu menselaraskan pertumbuhan penduduk dan industri dengan ketersediaan daya. ”Tapi memang kita tidak bisa pungkiri, dengan bertambah kebutuhan daya, maka biaya yang dibutuhkan juga semakin tinggi,” ujar Thomas.

Dijelaskannya, ketika PLN Batam berdiri tahun 2000, pelanggan juga tidak sebesar sekarang. Bahkan langkah yang diambil PLN Batam, mendorong penggunaan gas agar bisa mengurangi pengeluaran. PLN dinilai tergolong cepat dalam mengambil langkah antisipasi terhadap kebutuhannya. Langkah kebijakan dalam penanganan listrik di Batam bisa diambil lebih cepat, diakui karena status PLN Batam, yang hanya menjadi anak perusahaan PLN Persero.

Jika terjadi padam atau kerusakan, untuk PLN Persero, atau seperti di Tanjungpinang, harus lapor dulu ke Kanwil di Riau. Dari pekan baru juga ke Jakarta lagi. ”Itu kan memakan banyak waktu. Sementara kita butuh perbaikan yang cepat dan efisien. Menghemat biaya dan waktu,” bebernya.

Berbeda dengan PLN Batam sebagai anak perusahaan PLN Persero. Jika ada gangguan, tidak perlu melapor ke PLN Persero di Tanjungpinang atau Riau atau ke PLN Pusat.
Penanganan gangguan bisa langsung diputuskan sendiri di Batam. ”Tidak perlu membuat laporan ke sana-ke sini. Lebih efisien dan efektif,” imbuhnya.

Menurut Thomas, listrik di Batam mapan setelah ditangani Bright PLN Batam. Bahkan, PLN Batam dinilai mampu mengembangkan listrik sesuai pertumbuhan penduduk dan industri. Sehingga dalam perjalanannya, banyak industri dan bisnis menjadi pelanggan PLN Batam. ”Kalau dibanding listrik dulu, belum semapan sekarang. Memang penduduk dulu tidak sebanyak sekarang. Listrik kan harus disepadankan dengan pertumbuhan penduduk. Semakin banyak penduduk dan semakin banyak perusahaan, semakin banyak energi yang dibutuhkan, disini PLN Batam mampu menjawab,” katanya.

Menurutnya, selama ini, PLN memang selalu berusaha menyelaraskan antara ketersediaan daya dan pertumbuhan pelanggan. Sehingga PLN Batam dinilai jauh lebih matang. ”PLN selalu mengantisipasi kebutuhan untuk di masa mendatang. Artinya, Batam akan berkembang dalam beberapa puluh tahun ke depan, kebutuhan sudah disiapkan dari sekarang,” sambungnya.

Menurutnya, saat PLN dulu masih masuk kantor wilayah Riau, pembangkit semua masih menggunakan diesel. Berbeda dengan kondisi pembangkit listrik di Batam saat ini, yang diesel hanya tinggal 30 persen solar dan batubara. Selebihnya sekitar 70 persen sudah menggunakan gas. ”Bahkan bisa dikatakan, solar tidak dipergunakan lagi. Karena biaya menggunakan diesel sangat besar. Menggunakan gas, cost-nya ringan. Dibanding diesel, cost menggunakan gas jauh lebih ringan,” ujar Thomas.

Waktu PLN Batam mengambil alih pengelolaan listrik dari PLN Persero, saat itu respon masyarakat sangat positif. Penyerahan listrik ke PLN Batam sebagai anak perusahaan persero dinilai sebagai persiapan untuk energi yang handal di Batam, yang disiapkan sebagai kawasan industri. Munculnya nama Bright, diakui lebih untuk membedakan dengan PLN Persero. ”Kalau tidak disiapkan energi yang handal, mungkin tidak akan banyak investor masuk Batam seperti sekarang. Akhirnya PLN Persero berpikir, harus disediakan listrik yang handal,” jelasnya.

Perkiraan PLN Persero atas pertumbuhan kebutuhan listrik di Batam, tepat. Industri berkembang dan rumah tangga berkembang cepat. Pertumbuhan pelanggan baik industri, UKM dan rumah tangga itu, mampu dijawab PLN Batam. PLN Batam menjawab dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Belakangan atau beberapa tahun lalu, penggunaan batubara masuk Batam, melalui pembangkit di Tanjung Kasam.

Penggunaan itu karena mesin pembangkit listrik dari Cina, masih menggunakan batubara. Sehingga, ada pembangkit di Batam yang mengunakan Batubara. Ke depan diharapkan semua pembangkit di Batam sudah menggunakan gas. ”Lebih pas kalau kita menggunakan gas. Karena tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Lingkungan lebih aman,” harapnya.

Thomas sendiri mengakui sangat mensyukuri keberadaan PLN Batam. Terlebih, selama lima tahun belakangan, PLN Batam bertahan dengan tarif lama. Sementara PLN Persero kan sudah beberapa kali naik. ”PLN Batam baru sekarang setelah beberapa tahun lalu terakhir,” sambung Tomas.

Semakin disyukuri Thomas, karena pria yang sudah puluhan tahun hidup di Batam ini, PLN Batam mampu memberikan pelayanan terbaik tanpa subsidi. Walau tanpa subsidi, namun tarif listrik secara nasional masih di atas tarif listrik Batam. Dimana selama ini, PLN Batam sudah menganggap pelanggan sebagai mitra. Ini yang diharapkan terus bisa dipertahankan. Menunjukkan jika konsumsen sebagai aset berharga. Sehingga segala sesuatu harus berpihak kepada pelanggan.

Karena bagaimanapun, pelanggan sebagai aset berharga, yang mengisi pundi-pundi PLN setiap bulan. Namun disisi lain, PLN jangan sampai merugi. Karena disadari, dampaknya pada pemadaman jika PLN tidak mampu membeli bahan bakar. ”Siapa yang bisa memungkiri pelayanan PLN Batam yang prima, walau dengan tarif yang seadanya. Dini perlu saling memahami antara pelanggan dan PLN,” imbaunya.

Atas pelayanan prima ini yang diharapkan bisa dipertahankan PLN. Dalam hal ini diharapkan, ada sosialisasi lebih gencar terhadap kondisi PLN Batam saat ini. ”Yang saya pahami, tarif industri lebih mahal daripada rumah tangga. Tidak ada subsidi langsung dari PLN kerumah tangga. Tapi secara tidak langsung, industri mensubsidi rumah tangga, karena tarif beda,” katanya.

Sehingga kondisi industri di Batam melemah, industri yang mensubsidi rumah tangga berkurang. ”Karena bayaran listrik industri seperti galangan, bukan murah. Ada yang Rp 400 juta per bulan. Katakan sekarang yang tutup 10 perusahan, sudah turun Rp 4 miliar sebulan pendapatan PLN,” beber Thomas.

Diakui, secara pribadi dia cukup dilematis jika ditanya soal tarif. Dimana antara PLN Batam dan pelanggan sama-sama dilematis. Karena kondisi ekonomi saat ini. Kalau kondisi ekonomi masyarakat sedang bagus, Thomas yakin, kenaikan tarif tidak ada masalah atau tidak mendapat reaksi besar. ”Jadi kalau kenaikan tarif diterima, masyarakat berat. Tapi kalau tidak diterima, konsekuensinya di PLN, mungkin pemadaman bergilir,” imbuhnya.

Menurutnya, hal yang penting dilakukan PLN Batam ke depan, mengungkap laporan keuangan ke publik. Sehingga pada saatnya, masyarakat memahami kenaikan listrik untuk tahap dua. Dengan mengungkap kondisi PLN secara transparan, akan menjadikan masyarakat sebagai aset berharga yang juga sama-sama merasakan kondisi perekonomian Batam saat ini. ”Membangun kedekatan dengan masyarakat. Kalau ada hubungan yang baik dengan masyarakat, hubungan emosional terbangun, saya kira masyarakat bisa berpikir positif untuk bisa menerima kenaikan tarif tahap II,” harapnya.

Apa lagi jika melihat kondisi listrik secara nasional yang masih banyak bermasalah, Batam patut berbangga. Listrik di Batam dinilainya jauh lebih baik. ”Dibanding pelayanan PLN Persero, pelayanan PLN Batam jauh lebih baik. Coba lihat, memang belum sempurna, namun jauh lebih baik PLN Batam dibanding PLN di seluruh Indonesia,” tantang dia.

Apalagi PLN Batam berkomitmen untuk mengembangkan listrik untuk membantu warga di hinterland. Hinterland akan lebih banyak merasakan kehandalan listrik dari PLN Batam, jika secara ekonomi bisa mengembangkan jaringannya. Termasuk keandalan PLN Batam itu diharapkan Thomas dipertahankan, untuk menjaga industri di Batam.

Walau banyak perusahaan di Batam, punya pembangkit sendiri, namun pembangkit sendiri itu lebih mengantisipasi pemadaman PLN Batam saja. Karena jika menggunakan pembangkit sendiri, perusahaan di Batam akan mengeluarkan cost yang sangat besar. Dimana, industri menyiapkan cadangan listrik dengan menggunakan diesel. ”Makanya buat industri, kondisi listrik handal, jauh lebih baik dibanding tarif. Saya pikir untuk masyarakat juga demikian. Hanya saja, kondisi ekonomi saja sedikit kendala,” bebernya.

Diharapkan, PLN Batam mengambil langkah lain untuk menaikkan tarif dengan sosialisasi lebih gencar. Menggandeng pemerintah Kota Batam. Karena jika sampai terjadi pemadaman, dampak ekonomi dan sosial lebih besar. Pelayanan di kantor-kantor pemerintahan akan terganggu.(MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here