Teka-Teki Cawapres

0
630
Drs. Edward Mandala, M.Si

Oleh: Drs. Edward Mandala, M.Si
Dosen Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Haji

Setelah menanti waktu yang cukup panjang melalui Rakornas Gerindra akhirnya Prabowo Subianto mengumumkan dirinya siap untuk maju pada Pilpres 2019 mendatang. Dengan demikian, kompetitor Jokowi yang jelas saat ini adalah Prabowo Subianto. Namun, siapa pula Cawapres keduanya? Menarik untuk mencoba menebaknya. Posisi Cawapres Jokowi tentu akan diperebutkan oleh politisi dari partai pendukung ataupun diluar partai. Politisi yang berniat menjadi Cawapres Jokowi tentu akan berpikir mendapatkan peluang untuk menjadi Capres pasca Jokowi. Namun, itu tidak mudah mengingat PDIP tentu punya hak paling utama untuk menentukan Cawapres karena memiliki kursi yang sangat banyak dalam koalisi poros Jokowi.

Disinilah titik klimak perebutan kursi Cawapres Jokowi. Terlepas dari persoalan ini ada beragam format yang tentunya menjadi pertimbangan Cawapresnya Jokowi ke depan. Bisa saja dari kalangan militer, bisa juga kalangan religius, bisa juga menggandeng salah satu kader partai yang akan diajak koalisi atau bisa juga dengan pendekatan etnisitas Jawa – Non Jawa atau Indonesia Barat atau Indonesia Timur.

Prediksi penulis, ditengah isu politik identitas dan ekonomi yang semakin melorot Jokowi atau PDIP akan memilih sosok yang mirip dengan JK tapi tidak mengancam secara politik untuk PDIP lima tahun ke depan. Siapa sosok itu? Ini tentu tidak mudah, diantara partai politik yang bergabung dengan poros Jokowi hanya NasDem yang menyerahkan nama Cawapresnya kepada Jokowi. Sisanya PDIP, Golkar, Hanura, PPP dan PKB sudah menyodorkan nama kader terbaiknya. PDIP tentu tidak akan gegabah di menit-menit terakhir pendaftaran Capres bisa saja poros Jokowi mengumumkannya.

Baca Juga :  Kembali Menggauli Sastra Lisan

Membaca Hasil Survei
Meminjam hasil survei lembaga Alvara Research Center yang dilansir cnnindonesia.com Jumat (23/2) menunjukkan terdapat tiga nama yang berpotensi mendampingi Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019. Ketiga nama itu ialah Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Namun, persoalannya apakah mereka direstui PDIP. Belum tentu. Di internal PDIP sendiri muncul nama Puan Maharani dan Budi Gunawan.

Saat ini Jokowi sudah memiliki 52,5 persen kekuatan partai pengusung Golkar meraih 14,75 persen suara, NasDem 6,72 persen suara, PPP 6,53 persen suara, dan Hanura 5,26 persen suara. Sementara itu, PDIP, yang merupakan partai pemenang Pemilu 2014, memiliki 18,95 persen. Diantara partai-partai pendukung sebelumnya hanya Demokrat, PKB dan PAN yang belum mendeklarasikan dukungannya baik secara formal maupun nonformal. Demokrat sempat mengundang Jokowi dalam sebuah pertemuan akbar nasionalnya, sempat merapat namun ketika Jokowi bicara tentang utang warisan SBY tentu hal ini kembali merenggang.

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Melalui Kepramukaan

Nah, tentu persoalan ini sangat tergantung pada dinamika politik yang terjadi, survei hanyalah alat atau peta yang dijadikan rujukan dalam mengambil keputusan politik. Kita tunggu saja komunikasi yang berkembang antara Ketua Umum PDIP dan partai koalisi lainnya. Tentu ada banyak pertimbangan yang akan dilakukan mulai pertimbangan elektoral dan popularitas hingga kekuatan finansial atau logistik yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap pesta demokrasi di Indonesia.

Siapa Cawapres Prabowo
Masih ada beberapa partai politik papan tengah yang belum mendeklarasikan Capres/Cawapresnya secara resmi selain Gerindra. Kendati sudah mendeklarasikan diri, Prabowo belum memiliki tiket yang utuh. Gerindra butuh satu partai politik lagi di antara Demokrat, PKB, PKS dan PAN. Bukan tidak mungkin akan ada dua poros baru yang lahir. Gerindra hingga saat ini terus bersekutu dengan PKS sudah satu poros dan bisa saja kemudian Demokrat membawa poros ketiga dengan menggandeng PKB dan PAN.

Pernyataan siap bertempur ini sekaligus menjawab isu Prabowo akan jadi king macker. Siapa pasangannya? Mungkin bisa saja dari PKS atau kalangan lain yang bisa melengkapi popularitas-elektabilitas Prabowo Subianto. Dilihat nama-nama yang ada sudah bermunculan seperti Anies Baswedan, sembilan Capres/Cawapres PKS Sohibul Iman, Mardani Ali Sera, Anis Matta, Ahmad Heryawan, Irwan Prayitno, Tifatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid, Al Muzammil dan PAN sendiri mengusung Zulkifli Hasan untuk maju.

Baca Juga :  Dinamisasi Menerbangkan Pesawat Politik

Tentu ini pilihan yang tidak mudah bagi Gerindra dan Prabowo. Melihat peta Pemilukada serentak yang ada, kemungkinan besar Gerindra-PKS-PAN berkoalisi kembali pada Pilpres. Namun, Prabowo harus memilih tokoh-tokoh dari kader PKS dan PAN untuk mendampingi pasangannya. Jika Prabowo menginginkan calon wakil presiden yang lain diluar dari partai politik, ini tentu Prabowo dan Gerindra harus melakukan komunikasi politik yang relatif rumit.

Baik Jokowi maupun Prabowo tentu menjadi teka-teki jelang masa akhir pendaftaran Pilpres mendatang 10 Agustus 2018 karena mereka tentu memiliki dua standar penting dalam menentukan pendamping pertama memiliki kontribusi elektoral kedua bisa bekerjasama dan nyaman secara politik. Kita tunggu nanti jawaban dari teka-teki Cawapres ini. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here