Telkomsel Jembatani Pemerintah dan Warga Pesisir

0
494
LAUNCHING : Wawako Batam, Amsakar Achmad meluncurkan aplikasi Apekesah bulan lalu di Gedung Pemko didampingi Kadiskominfo Pemko dan Pemprov Kepri. f-martua/tanjungpinang pos LAUNCHING : Wawako Batam, Amsakar Achmad meluncurkan aplikasi Apekesah bulan lalu di Gedung Pemko didampingi Kadiskominfo Pemko dan Pemprov Kepri.

Di Balik Sistem Online Daerah Hinterland

”Sekarang tak antre pakai helm lagi ya. Kita tinggal whatsapp ke nomor Telkomsel, nomor 0822-8886-2017. Buat aja nama, tanggal lahir dan alamat sama foto KTP”.

Oleh: Martua P Butarbutar

Pagi itu, Jumat (15/9), sekitar pukul 08.00 WIB, perempuan berkulit putih yang biasa dipanggil Yola terlihat di Kantor Imigrasi Kelas I Batam. Warga yang tinggal di Pulau Belakang Padang, ini terlihat santai sambil memegang ponselnya. Belakang Padang sendiri merupakan salah satu pulau yang dekat dengan Singapura. Belakang Padang masuk wilayah Batam, sebagai salah satu kecamatan.

Ini kali kedua kali, Yola datang pagi hari ke Kantor Imigrasi Batam, pada tahun 2017. Sebelumnya, sekitar Maret 2017, Yola berkunjung ke Kantor Imigrasi, wajib dilakukan pada subuh hari untuk mengejar antrean mengurus paspor bersama suaminya.

Karena tinggalnya di Pulau Belakang Padang, mereka dulu harus bermalam di Kota Batam, sehingga setelah berlalunya subuh bisa hadir di Kantor Imigrasi Batam. Saat itu, warga Batam yang hendak mengurus paspor, sudah mulai datang ke Kantor Imigrasi, sekitar pukul 05.30 WIB, untuk antre.

Uniknya, saat itu warga memilih mengantre dengan meletakkan helm di barisan antrean, sebagai pengganti dirinya. Momen itu bahkan sempat heboh di media massa dan media sosial.

Setelah sempat mencuat di media sosial dan media massa, pihak Imigrasi Batam, kemudian mengambil kebijakan baru. Warga bisa mengantre (mendaftar untuk dapat nomor antrean) melalui whatsapp.

”Sekarang tak antre pakai helm lagi ya. Kita tinggal whatsapp ke nomor Telkomsel, nomor 0822-8886-2017. Buat aja nama, tanggal lahir dan alamat sama foto KTP,” ujar Yola, warga Pulau Belakang Padang yang berbatasan dengan Singapura ini.

Yola sendiri bisa mendaftar secara online melalui whatsapp (WA), karena di Belakang Padang, internet sangat kencang. Walau daerah perbatasan dan hinterland, namun internet dari operator Telkomsel telah memagari wilayah Pulau Belakang padang dengan cukup kuat dan kencang.

”Sekarang pakai Simpati pak, untuk internet di kami dari pulau di perbatasan. Lebih kencang dan tak putus-putus,” sebutnya.

Cerita pengalaman dan kemudahan yang dialami Yola, hanya satu kisah dari banyak kisah yang terjadi di wilayah perbatasan, terkait dengan kondisi jaringan telekomunikasi.

Daerah perbatasan Indonesia yang sebelumnya identik dengan ketertinggalan, jauh dari jangkauan teknologi telekomunikasi, khususnya berbasis data, kini terkikis dengan komitmen Telkomsel membelah wilayah lain dan memagari wilayah NKRI dengan telekomunikasi.

Lain lagi dengan pengalaman Yola, adalah Ahmad yang menceritakan pengalamannya. ”Nak mancing dulu Pak Cik. Ada Pak Sallon dari DPRD Batam. Tadi di WA,” ujarnya memberi informasi, Ahmad merupakan warga hinterland (perbatasan) di Pulau Abang, yang sedang Galang dengan temannya.

Ahmad kemudian berjalan menuju pompong atau boat pancung yang tertambat di pelantar. Dia memilih mengutak-atik menu di ponselnya sambil menunggu rekannya yang hendak di temaninya memancing.

Fasilitas-fasilitas di smartphone, menjadi pengisi waktu mereka saat memancing di laut. Mengisi kekosongan waktu, sebelum pancingnya bergetar pertanda, ikan sudah memakan umpan. ”Pakai Telkomsel saja, karena bisa internet kalau di laut,” sebutnya.

Dari ponsel yang dimainkan, sekilas terlihat foto animasi kecil berbentuk ikon, sebagai salah satu aplikasi di ponsel android Ahmad. Tertulis di bawah ikon itu sebagai nama aplikasinya, ‘Apekesah’.

”Nak ngadu dulu ke pak Wali Kota kite. Biar lebih diperhatikan pulau-pulau. Galakkan turis ke sini nih. Suruh turis ke sini. Kite siap antar lah keliling. Nyelam, mancing, kite tujuk tempat bagus. Kite terima piti (uang), turis senang,” kata Ahmad dengan logat Melayunya, sebelum melanjutkan menekan-nekan huruf di atas smartphone-nya.

Di sudut kanan ponselnya, tertulis Ahmad membuka aplikasi Apekesah, terlihat dua tulisan Telkomsel, berikut garis-garis sebagai simbol sinyal. Tanda di ponselnya itu sebagai bukti, Ahmad menggunakan dua nomor atau kartu perdana, produk Telkomsel.

”Satu Simpati dan satu kartu AS. Satu untuk relasi sama keluarga. Satu kartu untuk main game atau buka-buka berita. Kadang buka yang situs Pemko (pemerintah daerah),” cerita Ahmad.

Tidak berselang lama kemudian, Sallon tiba di lokasi sambil membawa pancing dan menenteng ponselnya merek Samsung. Pelanggan kartu perdana Halo dan kartu AS, sesaat sebelum menaiki pompong (boat pancung) ini sempat bercanda ke arah Ahmad.

”Minyakmu mau dibayar TCash atau dibayar ikan? teriak Sallon ke arah Ahmad sambil melempar tawa, sebelum memasuki pompong itu.

Sallon sendiri mengaku baru mau mencoba aplikasi TCash, setelah men-download dan mendaftar, untuk melihat fasilitas di aplikasi itu. Sallon mengaku cukup tertarik, karena menu di TCash sudah mendekati sistem pembayaran dengan uang elektronik milik perbankan.

”Kulihat bisa pulsa, bayar kartu Halo, listrik, air, sama kirim duit. Nanti coba dulu deposit duit disitu,” katanya.

Alasan Sallon mencoba menggunakan fasilitas TCash, karena anak sulungnya saat ini sedang kuliah di USU. Dia menyadari, anak-anak yang kuliah, lebih banyak mencari referensi untuk skripsi melalui internet. Seperti menggunakan fasilitas di Google. Sehingga membutuhkan kuota internet yang cukup.

Daya tarik TCash yang membuat Sallon semakin tertarik, karena fasilitas transaksi, selain pengisian pulsa, juga karena membayar listrik dan air. Sehingga memudahkan dia membantu kewajibannya dan kewajiban anaknya.

”Kalau anak kan sering lupa bayar listrik dan air. Ingatnya lebih isi kuota internet atau pulsa. Kita orang tua yang lebih mikir ke listrik dan air,” kata pria yang sudah dua periode terpilih jadi anggota dewan Batam ini.

Sallon sendiri menggunakan dua ponsel android yang biasa digunakan dalam komunikasi dengan warga, baik melalui whatsapp, telepon, SMS dan lainnya.

”Internet biasanya pakai kartu Halo. Kalau mau menelepon, biasanya pakai kartu AS, karena ada promo-promonya. Tapi kalau warga nelepon, biasanya ke Halo, karena itu nomor yang sudah bayak tahu. Udah sejak zaman baholak (dulu),” kelakar Sallon sebelum meninggalkan pelabuhan pompong menuju lokasi pemancingan dengan tekong, Ahmad.

Cerita Sallon, Yola dan Ahmad, hanya penggalan kisah masyarakat di perbatasan, yang kini bisa menikmati internet, dengan baik. Telkomsel menjadi salah satu instrumen pendukung pelayanan pemerintah terhadap masyarakat, sebagai jembatan komunikasi di jaman teknologi informasi saat ini.

Akses internet ini yang mendorong dengan sendirinya, warga memahami teknologi, walau belajar secara otodidak. Sehingga saat pemerintah menggunakan teknologi informasi dalam pelayanannya, masyarakat sudah bisa menggunakannya. Seperti halnya warga perbatasan memanfaatkan aplikasi Apekesah.

Aplikasi Apekesah merupakan aplikasi yang disiapkan pemerintah Kota Batam, melalui Dinas Komunikasi Informatika, menggunakan ponsel berbasis android.

Aplikasi itu menjadi fasilitas penghubung antara Pemko dan warga, terutama sangat bermanfaat untuk warga perbatasan, yang dibatasi jarak, waktu dan transportasi untuk langsung mendatangi pemerintah Batam.

Aplikasi ‘apekesah’ ini dapat di-download dengan aplikasi andoid melalui play store. Aplikasi ini akan terhubung dengan seluruh masyarakat Batam yang ingin melaporkan atau mengadu ke pemerintah Kota Batam. Warga tinggal melakukan registrasi, setelah men-download aplikasi itu.

Bagi warga perbatasan seperti pulau terluar seputaran Batam, fasilitas ponsel-ponsel canggih dengan dukungan provider Telkomsel sangat berarti. Sehingga memudahkan masyarakat yang jauh dari pusat pemerintah kota, bahkan beda pula dengan kecamatannya, kini bisa mengadu, karena didukung jaringan 3G dan 4G, untuk internet.

Baik fasilitas yang disiapkan Pemko Batam melalui layanan aplikasi Apekesah dan layanan WA yang disiapkan Imigrasi Batam, Telkomsel menjadi salah satu faktor pendukung, yang menjadi fasilitas utama.

Untuk Kantor Imigrasi Batam sendiri, saat ini menggunakan produk Telkomsel, Simpati dalam melayani pendaftaran antrean, melalui whatsapp.

Sebagaimana disampaikan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam, Lucky Agung Binarto, untuk mendaftar lewat Wa. Caranya, mengirim pesan dengan format NAMA#TANGGAL LAHIR#ALAMAT# ditambah foto KTP-el atau akte kelahiran dan dikirim WA nomor Simpati, 0822-8886-2017.

”Nanti akan dilayani mulai pukul 07.30 sampai pukul 10.00 WIB. Ini merupakan layanan antrean berbasis aplikasi pertama di Indonesia, sejak diluncurkan pada 19 Juni 2017,” kata Lucky.

Saat ini, di daerah perbatasan Indonesia dan Singapura ini, sejumlah layanan dengan dukungan akses internet yang disediakan provider Telkomsel, sudah cukup banyak.

Dalam proses pembangunannya tentulah bukan hal yang mudah, mulai melakukan penyediaan perangkat hingga membawa perangkat pembangunan BTS kepulau-pulau yang ada di pinggiran perbatasan.

Dalam penyediaan sarana telekomunikasi ini, tentulah Telkomsel berupaya memaksimalkan pagar pagar Telkomunikasi untuk menggarisi perbatasan dengan negara lain. Dan kini masyarakatlah yang mendapatkan kemudahan dan prasarana yang maksimal.

Sejalan dengan cerita Yola dan Ahmad, selain layanan Apekesah dan pendaftaran antrean di Imigrasi Batam, ada juga aplikasi yang disediakan oleh Polda Kepri untuk layanan masyarakat.

Dimana, tahun 2017 ini, diluncurkan pelayanan go digital, sebagai inovasi pelayanan publik. Seperti sistem android mobile (Sam Lantas Kepri), Ditlantas Polda Kepri. Ada juga sistem android mobile penelusuran proses BPKB, bayar pajak melalui sistem android mobile (Bapak Sam) dan lainnya.

Demikian dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, yang menyiapkan aplikasi untuk ponsel android, untuk antrean masyarakat yang ingin menukarkan uang rupiah.

Dimana, masyarakat yang ingin menukarkan yang diwajibkan mempunyai akun terlebih dahulu dengan cara mendaftarkan diri di aplikasi yang bisa di-download di Google Play Store. Pelayanan disiapkan melalui BI-SANTUN yang bisa di-download lewat Google Play Store.

”Mengatur jadwal tukar uang rupiah pada bank terdekat yang terdapat pada aplikasi serta menentukan waktu penukaran. Sehingga tidak perlu mengantre dan mendapat kepastian dalam penukaran uang di mitra perbankan,” ujar Kepala BI Kepri, Gusti Raisal Eka Putra.

Ke depan, BI Kepri yang gencar mendorong transaksi non tunai di daerah perbatasan ini, termaksud Batam, bisa menjadikan TCashsebagai salah satu alternatif transaksi bagi warga. Dimana, BI Kepri giat mempromosikan financial technology (fintech).

Telkomsel sendiri terus melakukan inovasi-inovasi layanan yang dikembangkan, tidak sekedar alat komunikasi lagi. Namun sudah menjadi alat tukar atau transaksi, yang dampaknya memudahkan juga warga negara Indonesia di daerah perbatasan.

Terbaru, Telkomsel bekerjasama dengan Bank Tabungan Pensiunan NasionalTbk (BTPN) untuk layanan keuangan yang terhubung antara TCASH dan BTPN Wow.

Memudahkan transaksi dan menabung melalui telepon genggam, khususnya bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan lembaga keuangan formal (unbanked segment).

Dimana menurut Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, akan menciptakan ekosistem layanan keuangan mobile yang terintegrasi dengan tujuan untuk turut mengakselerasi keuangan inklusif bagi masyarakat Indonesia.

Layanan-layanan yang disediakan instansi pemerintah dan swasta diperbatasan atau terpencil di Provinsi Kepri, termaksud Batam, terbantu dengan penguatan jaringan Telkomsel. Membantu penguatan ekonomi masyarakat di perbatasan, dan menjaga wilayah perbatasan Indonesia.

Dimana untuk Batam dan Bintan, Telkomsel sudah membangun 17 BTS, yang berbatasan dengan Singapura. Selain itu, ada 70 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam. Ada juga di Anambas dan Karimun. secara umum, sepanjang tahun ini, Telkomsel telah membangun lebih dari 120 Base Transceiver Station (BTS).***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here