Telkomsel Menjaga Integritas di Perbatasan

0
660
VIDEO CALL: Sinyal Telkomsel cukup kuat di Belakangpadang Batam. Nampak warga sedang video call dengan keluarganya di daerah lain. f-martua/tanjungpinang pos

Sinyal Dimana-mana, Satukan Seluruh Indonesia

Daud Daniel mencoba menggoyang dan mengangkat ponsel miliknya ke atas. Sinyal ponselnya saat itu menunjukkan tulisan SOS.

Oleh : Martua P Butarbutar

Sejurus kemudian, dia terlihat mengutak-atik ponselnya dan mengubah setting-an jaringannya. Setting-an jaringan dari manual diubah menjadi otomatis. Secara cepat, sinyal di ponselnya terlihat. Beberapa pesan singkat pun langsung kemudian muncul di ponselnya.

Termasuk whatsapp menyusul kemudian, berbarengan dengan hidupnya jaringan di ponsel android milik Daniel.

Namun, dia tak berdaya menghentikan ketika secara tiba-tiba pesan berbasis media (foto) masuk dan matanya melotot ke sudut kanan ponselnya.

Dia baru sadar, di sudut kanan atas ponselnya tertulis, merek provider Singapura. Walau masih mitra dari Telkomsel, namun pulsanya terkuras juga saat menerima pesan bergambar yang terkirim melalui jaringan internet itu.

Namun, itu cerita dua tahun lalu, saat Daniel bersama rekannya satu perusahaan dari Jakarta yang merupakan warga Jakarta, berkunjung ke Batam dan menginap di salah satu resor di wilayah Nongsa, Provinsi Kepri.

Demikian saat mereka kemudian dan menginap di salah satu resor di Lagoi, Bintan.
Selain tarif dengan harga tercantum dalam nilai dolar, juga sinyal yang masih dengan tulisan Singtel, yang merupakan kondisi tidak jauh berbeda ditemui. Mereka sebut, wisata rasa Singapura.

”Itu dulu. Wisata dalam negeri, rasa Singapura. Kalau sekarang, sudah benar-benar merdeka penuh,” kata Daniel saat kembali berkunjung bersama keluarganya, awal Juli 2017 lalu di Nongsa Point Resort.

Daniel mengaku sudah seperti di negeri sendiri saat kunjungan lanjutan yang berlangsung tahun ini. Dia tetap bisa memandang bangunan-bangunan pencakar langit di Singapura, dari salah satu resor di Nongsa, sambil menelepon atau menerima telepon rekannya, tanpa harus khawatir dikenakan roaming internasional.

Telkomsel menghadirkan kemerdekaan lebih bermakna di wilayah perbatasan atau pulau terluar Indonesia, lewat sinyal yang terlindungi dari sinyal provider Singapura.
Yang tentunya memberikan beban jauh lebih besar dari tarif.

Kini, wisatawan yang berkunjung ke Provinsi Kepri yang kaya dengan pemandangan pantai, bisa lebih nyaman.

Dari resor atau hotel di bibir pantai yang menghadap Selat Malaka dan Singapura, wisatawan dalam dan luar negeri, bisa langsung memandang negara tetangga. Selain rasa nyaman dari segi keamanan, tentu wisatawan menginginkan kenyamanan dalam komunikasi.

”Sekarang lebih nyaman dan enak. Di sini sinyal kuat meski berada di perbatasan. Jadi kita merasa tenang. Kita benar-benar merasa ada di Indonesia. Kami juga senang, karena tidak capek cerita ke keluarga di kampung tentang kami yang sedang ke Batam. Kami bisa tunjukkan lewat video call,” kata Tri, istri Daniel menimpali.

Penggalan cerita Daniel dan Tri melihat serta merasakan suasana perbatasan, hanya secuil cerita Warga Negara Indonesia (WNI) yang berkunjung ke perbatasan, pulau terluar atau pelosok Indonesia.

Ada banyak suka cita dan sukses yang lahir dari cerita pemanfaatan teknologi komunikasi, dengan Telkomsel sebagai ‘nyawa’ alat komunikasinya.

Telkomsel juga mendukung aktivitas para pelancong yang mengendalikan bisnis melalui smartphone-nya. Cerita sukses bisnis dengan dukungan kartu produk telekomunikasi dengan dukungan Telkomsel, menjadi cerita indah saat ini.

Bagaimana kini ribuan masyarakat Indonesia terlibat dalam bisnis online, baik melalui situs jual beli online hingga memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan pemasaran berbagai produk.

Kini, cerita terus meluas sebagai dampak positif kehadiran teknologi komunikasi yang terus berkembang. Kehadiran telekomunikasi dengan produk internet berkecepatan 4G, menjadikan Telkomsel sebagai kebutuhan utama, dalam aktivitas di perbatasan.
Wisatawan nyaman dalam mengontrol bisnis saat berkunjung ke Provinsi Kepri dan masyarakat Kepri sebagai daerah terluar juga bisa mengembangkan kehidupannya.

Sehingga, kehadiran Telkomsel lebih berarti dari sekedar bisnis, namun soal kehidupan sosial dan keluarga masyarakat dipengaruhi dan dibantu teknologi komunikasi ini. Daniel menjadi salah satu sosok yang merasakan kemerdekaan lebih luas di daerah perbatasan Indonesia.

Kemerdekaan yang dirasakannya juga dalam penggunaan telekomunikasi, lewat jaringan Telkomsel yang sudah memadai di daerah perbatasan.

Indonesia yang merdeka dengan jaringan telekomunikasi yang merdeka. Telkomsel lewat jaringan telekomunikasi di perbatasan, membantu mendorong masyarakat, meningkatkan peran dalam mengisi kemerdekaan.

”Kita sudah merasa sangat nyaman dalam berkomunikasi,” kata pelanggan Telkomsel dengan nomor simpati, bernomor 11 digit ini.

Daerah perbatasan dan sekaligus daerah pariwisata seperti Nongsa dan Lagoi di Provinsi Kepri, yang dulu kental dengan nuansa Singapura, mulai menunjukkan ke-Indonesia-annya.

Citra ke-Indonesia-an di daerah perbatasan dengan Singapura dan Malaysia ini semakin kuat.

Terlebih dalam dua tahun belakangan ini, Indonesia juga mendorong penguatan kedaulatannya di perbatasan, lewat Undang-Undang Mata Uang Rupiah.
Sehingga, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, Perwakilan Bank Indonesia dan Telkomsel di perbatasan, mencoba menepis kesan wilayah abu-abu di daerah perbatasan.

Jika Telkomsel membantu penegasan atas ruang wilayah lewat penguatan jaringan di perbatasan, Bank Indonesia memberikan penguatan pada transaksi yang sebelumnya didominasi mata uang dolar. Perusahaan, resor, hotel hingga restoran melabeli daftar harga dengan nilai dolar, kini sudah dengan rupiah.

Penguatan citra Indonesia di daerah perbatasan seperti Kepri, melalui regulasi atas penggunaaan mata uang rupiah, semakin dikuatkan langkah-langkah Telkomsel.
Telkomsel memperlihatkan, pihaknya bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga dan menguatkan citra ke-Indonesia-an itu.

Gerakan Telkomsel memperkuat jaringan telekomunikasinya di perbatasan, memiliki dampak yang cukup besar dalam menanamkan citra Indonesia itu.

Bagaimana tidak, untuk orang Indonesia atau orang asing di perbatasan, langsung merasakan sendiri cita rasa komunikasi Indonesia di perbatasan.

Lewat jaringan telekomunikasi, Telkomsel memberikan penegasan atas wilayah Indonesia di perbatasan. Baik di darat, laut dan udara. Bahkan untuk wisatawan mancanegara yang sebelumnya saat menginap di resor-resor di pinggir laut dan menghadap wilayah negara Singapura.

Bagaimana pun, sehebat apapun teknologi terutama ponsel atau tablet yang digunakan, tidak akan berpengaruh banyak dengan masyarakat pelosok negeri, tanpa jaringan telekomunikasi, yang memadai.

Di sini Telkomsel menjawab kebutuhan dengan layanan atau servis, terutama layanan data.

Keberadaan layanan data atau internet ini yang dengan sendirinya, mendorong masyarakat menuju masyarakat modern. Di Kecamatan Belakang Padang, Provinsi Kepri, teknologi itu sendiri menjadikan masyarakat lebih melek teknologi.

”Kemarin anak demam dan manggil-manggil neneknya. Anak saya memang sangat dekat dengan neneknya. Untunglah ada video call yang di Whatsapp itu. Jadi pakai itu saja melepas rindu. Kita senang, sangat terbantu. Tak pusing mikir tiket mau pulang kampung. Pikir isi kuota internet aja cukup,” cerita Evelyn saat cerita dengan Tanjungpinang Pos di Sekupang, terkait fasilitas video call Telkomsel.

Fasilitas internet yang sudah merambah ke daerah terluar seperti Kepri, melahirkan banyak cerita, manfaat yang dirasakan masyarakat.

Termasuk untuk para pendatang di wilayah perbatasan Singapura, seperti Batam, Bintan, Tanjungpinang dan lainnya. Bagaimana pendatang sebagai perantau, bisa mengetahui kondisi kampung halaman secara langsung, melalui video call.

Memberikan ruang bagi keluarga yang jauh bisa serasa hidup berdampingan. Seperti tidak ada jarak yang memisahkan dan tidak ada waktu yang membatasi pertemuan.

”Ginilah kalau teknologi sudah maju ya. Mau ketemu muka secara langsung dan mau ngobrol, tak perlu lagi habis banyak duit beli tiket pesawat atau kapal, pulang pergi. Beli kuota saja sudah cukup,” imbuh Evelyn yang didampingi suaminya, Dapot.

Dapot menceritakan, baru sejak Juli 2017 dia bisa komunikasi orang tuanya menggunakan video call. Keluarga ini menggunakan video call yang menjadi salah satu fasilitas Whatsapp dengan orang tuanya di kampung, setelah mengetahui internet dengan menggunakan Simpati, kartu Halo atau AS cukup lancar di kampung halaman orang tuanya.

Saat liburan sekolah Juni hingga Juli 2017, Dapot yang pulang ke kampung halamannya di Tobasa, membawa serta ponsel merek Xiomi.

Ponsel yang mendukung 4G dan fasilitas video call dengan Whatsaap ini dihadiahkan ke orang tuanya. Sementara untuk kartu Simpati, Dapot mengisi kuota internet, sebelum kemudian mengajari orang tuanya menghidupkan internet dan menggunakan video call lewat WA.

Jaringan Telkomsel di wilayah pedesan ini memberikan kenikmatan kepada masyarakat, sebagai buah kemerdekaan Indonesia. Terlebih di Sigaol dan puluhan desa yang bertetangga dengan desa itu, belum masuk telepon rumah.

Walau tidak ada telepon rumah, namun warga desa ini sudah bisa menikmati video call, sebagai bentuk komunikasi yang bisa saling menatap secara langsung dengan anak-anaknya di perkotaan, bahkan di mancanegara.

”Kebetulan, di kampung kami yang lancar internetnya, cuma yang produk Telkomsel,” cerita Dapot.

Itu tentu hanya penggalan kisah yang didapat masyarakat dari perkembangan teknologi saat ini. Baik masyarakat perkotaan, pedesaan hingga daerah perbatasan, memilki kebutuhan yang sama-sama penting atas telekomunikasi ini.

Telkomsel juga seperti menyadari kebutuhan masyarakat, tidak hanya call, namun kekuatan atau kecepatan layanan data.

Telkomsel menyadari telekomunikasi saat ini sudah dijadikan sebagai penggerak bisnis. Tidak hanya untuk membantu menopang kehidupan lebih baik bagi keluarga, tapi lebih dari itu, sudah berfungsi penggerak utama ekonomi banyak masyarakat.

Kebutuhan masyarakat ini dipenuhi Telkomsel, tercermin dari pengembangan dan penguatan jaringan di perbatasan dan terluar. Daerah perbatasan dan terluar menjaga garis besar penting, karena kerap kurang mendapat akses. Tidak terkecuali Batam yang memiliki pulau-pulau terluar dengan berbatasan langsung ke Singapura.

Telkomsel secara mendapat respon dari masyarakat dan pemerintahan di pulau-pulau terluar Provinsi Kepri, dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS) baru.
Sehingga tidak mengherankan jika kemudian Telkomsel masuk dalam garda terdepan dalam menjaga wilayah Indonesia melalui kekuatan jaringannya di perbatasan dan terluar dengan khas Indonesia, merah putih.

Sebagaimana disampaikan Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah, jika penguatan jaringan dengan BTS-BTS itu, menjadi tanggungjawab pihaknya.

Telkomsel membantu membuka akses dari keterisolasian masyarakat di pulau terluar, untuk mempersatukan negeri secara berkesinambungan. Membangun dan membuka akses layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia.

Menariknya, Telkomsel juga menghadirkan BTS dengan warna merah putih. Warna merah putih yang menjadi warna bendera Indonesia, mengisyaratkan Telkomsel ikut menegaskan, wilayah perbatasan itu wilayah Indonesia.

Seperti yang dijalankan Telkomsel tahun 2017 ini di Kepri, membangunn 17 BTS di pulau-pulau sekitar Batam dan Bintan, Provinsi Kepri, yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.

Selain itu, BTS di daerah lain di Provinsi Kepri yang berbatasan dengan Vietnam, tepatnya di Kabupaten Natuna dan Anambas Provinsi Kepri juga dibangun 70 BTS.

Yang mana, menurut Ririek, layanan broadband bagi masyarakat setempat ini diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan.

Di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan, sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru.

Ririek Adriansyah sendiri sudah mengungkapkan, bagaimana Telkomsel menyadari potensi teknologi digital dalam mendukung perkembangan bangsa.

Kemajuan teknologi tentunya membuka berbagai kesempatan baru, dan kami yakin hal tersebut dapat mendorong perubahan serta menghadirkan berbagai dampak sosial yang positif di tengah-tengah masyarakat.

Bahkan kini Telkomsel sudah merambah ke petani, dengan program e-agriculture untuk memberdayakan komunitas petani di Indonesia dari hulu ke hilir melalui pemanfaatan teknologi.

Tentunya, Provinsi Kepri sebagai daerah yang 95 persen laut, menunggu gebrakan Telkomsel dalam menghadirkan teknologi yang mendukung nelayan.

Bagi Telkomsel, program itu bukan hal yang sulit, mengingat jaringan telekomunikasi digital yang dihadirkan di hingga pulau terluar di kabupaten/kota di Kepri.

Menggabungkan kekuatan jaringan Telkomsel yang stabil dalam mengembangkan solusi dari hulu ke hilir untuk nelayan dan membantu pengatasi pencurian ikan di wilayah perairan Kepri.

Bagi masyarakat, Telkomsel juga menghadirkan situs web merahputih.id yang diluncurkan Telkomsel dengan ditandai lari sore yang dilepas Executive Vice President Telkomsel Area Sumatera, Paulus Djatmiko di Batam.

Situs itu merupakan layanan web terintegrasi guna memberikan beberapa solusi layanan, antara lain layanan email gratis termasuk layanan penyimpanan data (cloud storage) gratis berbasis di Indonesia.

”Domain ini tentunya akan menunjukkan identitas kebangsaan masyarakat Indonesia yang selalu bangga,” kata Paulus dengan optimis.

Apa yang disampaikan Paulus, menjadi bagian dorongan bagi masyarakat perbatasan, untuk ikut menyadari kebutuhan atas teknologi informasi, dalam kehidupan modern saat ini.

Akses internet yang terkoneksi lewat BTS-BTS yang hadir bersamaan dengan gerakan yang dijalankan Telkomsel untuk membuka keterisolasian pulau terluar.

Langkah-langkah Telkomsel itu juga sejalan dengan harapan Gubernur Provinsi Kepri Nurdin Basirun dan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Gusti Raisal Eka Putra.
Nurdin beberapa kali melontarkan harapannya untuk dukungan membantu keterisolasian pulau terluar di Kepri.

Membuka akses sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, yang sebenarnya kaya dengan potensi alamnya. Seperti perikanan di Natuna.

”Kalau akses komunikasi dan transportasi di Natuna serta Anambas lancar, ekonomi akan bergerak. Berputar lebih cepat,” kata Nurdin optimis.

Akses komunikasi ini juga yang diharapkan Gusti juga dalam pengembangan ekonomi daerah di Kepri yang berbatasan dengan negara tetangga.

Terlebih, BI tengah giat-giatnya mendorong transaksi non tunai. Termaksud mendorong elektronik (e) tiket di Kepri. Dimana, akses internet seperti dihadirkan Telkomsel, menjadi motor utama dalam memperlancar transaksi non tunai.

Transaksi non tunai ini yang kemudina juga direspon Pemerintah Kota Batam. Wali Kota Batam, HM Rudi menginstruksikan transaksi berbasis elektronik atau non tunai, pada kegiatan pemerintah.

Selain mengurangi penyalahgunaan dana daerah, juga agar arus kas daerah lebih mudah dikontrol dan dipantau.

Rudi bisa menjalankan kebijakan itu, tidak lepas dari kondisi Batam yang memiliki kekuatan teknologi informasi memadai.

Bahkan untuk masyarakat miskin sekalipun, penyaluran bantuan sudah dilakukan secara non tunai. Bahkan di Kecamatan Belakang Padang, yang lokasinya dekat dengan Singapura, sudah dihadirkan elektronik (e) warung.

”Akses internet mendukung, jadi kita harus memanfaatkan. Itu akan mengurangi risiko dari kriminalitas di perbatasan,” harap Rudi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here