Tentang Pro-Kontra Istilah Emak-emak

0
236
Surya Makmur Nasution

Oleh : Surya Makmur Nasution
Anggota DPRD Provinsi Kepri

Alangkah bahagianya mempunyai emak. Dia yang membesarkan aku dengan cinta keibuan yang lembut. Dia yang selalu memberikan aku pedoman di dalam perjalanan hidup.

Dia yang di setiap langkah, tahap dan jenjang, membisikkan padaku dalam usahaku mengolah budaya kreatif, baik yang terpaut pada ilmu pengetahuan maupun yang menyangkut dengan seni.

Dia yang tidak pernah mengecewakan, apalagi menyakiti hatiku. Satu-satunya duka yang disebabkannya adalah ketika dia harus pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya.

Itulah untaian kalimat menjadi epilog buku karya Prof Daoed Joesoef berjudul ‘Emak’ yang diterbitkan Kompas tahun 2003 sebagai buku memoar mengenang Prof Daoed Joesoef 77 tahun.

Akhir-akhir ini, kata ‘emak’ dipopulerkan kembali dengan menggunakan kata : ‘Emak-Emak’ yang diartikan panggilan terhadap ibu-ibu.

Mungkin karena orang (who) yang mempopulerkannya Sandiaga Salahudin Uno alias Sandi, bakal calon wakil presiden RI, istilah partai ‘emak-emak’, menjadi sesuatu (something).

Kata ‘emak-emak’ jadi trending topic. Bahkan menjadi viral di medsos dan entah bagaimana sangat serius diperbincangkan. Saking hebohnya jagat netizen melalui medsos maupun pemberitaan, terjadi pro dan kontra menyikapi kata ‘emak-emak’.

Padahal bagi seorang Daoed Joesoef, ‘Emak’, adalah ungkapan cinta kepada ibunya. Bahkan bukunya tidak ada yang protes, apalagi mempersoalkannya. Ketum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar dan Budayawan Sudijiwo Tedjo, termasuk golongan yang mendukung istilah ‘emak-emak’.

Sementara Ketua Kowani Giwo Rubianto, merasa direndahkan dengan panggilan ‘emak-emak’, dan lebih setuju dengan panggilan Ibu Bangsa.

Bagi saya, yang sejak kecil dibesarkan di kampung hingga kini memanggil ibu saya dengan panggilan ‘Emak’ atau ‘Mak, malah kadang-kadang ‘Omak’.

Panggilan tersebut bukanlah ingin merendahkan kehormatan ibu yang telah melahirkan dan membesarkan saya.

Panggilan tersebut sungguh sebutan kasih sayang. Panggilan ‘emak’ alias ‘mak’, terasa enak diucapkan, terasa nyaman didengar, terasa akrab di lidah, dan terasa sangat dekat di hati. Pokoknya sangat kultural.

So, bila ada yang menganggap panggilan ‘emak’ dan ‘mak’ kurang elok atau merendahkan, sebaiknya ubahlah persepsi tersebut. Ibarat seorang penggemar kuliner, masakan kampung seperti daun ubi tumbuk, terasi, sambal tuk-tuk, seperti yang pernah dimasak oleh Emakku, tentu berbeda dengan pecinta western food yang menyebut dengan panggilan ‘Mother’ or ‘Mom’s’.

Maka, orang yang kurang mencintai masakan ala kampung seperti ‘Emakku’, maka tidak akan pernah tahu betapa bahagianya bersama Emak sambil memanggilnya : ‘Emak’ atau ‘Emak-emak’.
(9 Muharram 1440H/19 Sept 2018).***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here