Terancam Punah oleh Ganasnya Manusia

0
102
ATAS jasa-jasanya melestarikan penyu, Hidaat Yahya menerima penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. F-ISTIMEWA

Hidaat Yahya Sang Penjaga Anak Penyu Dari Tambelan

Lebih dari 10 tahun Hidaat Yahya (60), warga Tambelan melakukan penangkaran tukik, anak,  penyu di Pulau Nangka, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan. Puluhan ribu tukik sudah dilepaskan ke lautan lepas.

Tambelan-Kabupaten Bintan – Tukik hitam ukuran rata-rata 10 centimeter dilepas ke laut dari tempat penangkaran yang terbuat dari drum-drum plastik. Dan ada juga di dalam kolam kolam ukuran 2×2 meter. ”Kita harus jaga penyu. Karena hewan langka,” pesannya.

Kemudian ada juga lubang-lubang di pasir yang dijadikan sarang telur penyu. Pasir putih halus dan laut yang biru jernih membuat pulau- pulau di perairan Tambelan dijadikan penyu tempat bertelur.

Tukik dan anak penyu, sisik yang dilepas rata-rata sudah berumur lebih dari dua bulan. Ada juga yang sudah berumur  kurang dari 6 bulan sehingga mereka sudah kuat untuk melakukan pertarungan hidup dan mati di laut bebas.

Tukik yang kecil kalau sudah menetas tanpa diurus akan mati dimakan biawak bahkan anak anak ikan yang menunggu mereka di bibir pantai. Hal inilah yang membuat Hidaat Yahya bersama Fadillah Yahya berinisiatif menangkar tukik.

Setelah dinilai agak kuat, maka tukik itu dilepas dari Pulau Nangka Tambelan. Hasil riset memang membuktikan bahwa tukik yang secara alamiah lepas dari lubang-lubang tempat mereka bertelur akan banyak yang mati daripada hidup.

Misalnya dari 150 telur yang menetas, maka yang bisa hidup sampai dewasa hanya 3-5 ekor. Sisanya akan mati baik itu dimakan biawak, ular, bahkan ikan-ikan pemburu yang menanti mereka di bibir pantai.

Sementara tukik yang ukuran agak besar kalau dilepas dari laut, maka kemungkinan hidupnya sampai dewasa lebih besar dibandingkan dengan mereka hidup mandiri di sejak menetas dari telur.

”Hanya saja jika kita lepas ukuran yang terlalu besar, penyu penyu itu seperti bingung ketika sampai di laut. Karena mereka belum terbiasa berjuang mencari makan. Maka kita lepaskan mereka saat ukuranya badannya kita anggap sudah cukup kuat untuk bertahan hidup,” kata Hidaat Yahya kepada Tanjungpinang Pos, November 2018 di Tanjungpinang.

Hidaat ke Tanjungpinang karena mendapatkan penghargaan dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL), Kementerian Kelautan dan Perikanan kantor Wilayah Padang, karena upaya Hidaat menangkar sisik dan penyu di Pulau Nangka, Tambelan. Menurut Hidaat, jika penyu sudah besar, maka mereka agak kesulitan dalam memberikan makan. Sehingga jika sudah ukuran sekepal genggaman tangan orang dewasa, anak penyu dan sisik itu dilepas.

Bahkan kalau dianggap sudah kuat, tukik-tukik itupun dilepas supaya lebih terbiasa dengan ganasnya lingkungan di dalam laut.

Menurut Hidaat, penyu yang menetas di Pulau Nangka, jika sudah dewasa dan ingin bertelur, maka penyu atau sisik itu akan kembali ke Pulau Nangka tempat mereka ditetaskan.

Itu sudah menjadi kebiasaan yang sudah diteliti secara oleh lembaga resmi dari universitas dunia.

”Peneliti khusus bidang penyu ini sudah banyak yang mempublikasikan hasil riset mereka. Walaupun penyu ini berjalan di laut hingga ke Laut Atlantik, ataupun sampai ke Amerika, uniknya ketika musim bertelur tiba penyu akan kembali ke tempat awal mereka ditetaskan,” kata Hidaat.

Hal itulah menyebabkan penyu dan sisik di Tambelan sejak puluhan tahun lalu masih banyak bertelur di Tambelan. Bahkan di Tambelan dianggap tempat bertelurnya penyu yang paling banyak di wilayah Indonesia bagian barat.

Tambelan sendiri ada 64 gugusan pulau.Dari 64 gugusan pulau itu, lebih dari 20 pulau yang jadi tempat bertelurnya penyu dan sisik.

Pulau pulau yang banyak dijadikan penyu bertelur seperti Pulau Wi, Pulau Nangka, Pulau Sedua, Pulau Menggirang, Pulau Pejantan, Maliki, Kepala Tambelan, Pulau Panjang, Pulau Semut, Pulau Benua, dan pulau lainnya. Beberapa warga Tambelan mendiami pulau- pulau yang dijadikan tempat penyu bertelur. Di Pulau Wi juga pernah melepaskan banyak anak penyu ke laut. Warga Tambelan mengerti betul penyu dan sisik adalah hewan langka yang harus dijaga habitatnya supaya tidak punah.

”Sehingga anak cucu kita nanti masih bisa melihat penyu bertelur di pasir putih. Kalau bukan kita yang memulai menjaga habitat penyu ini siapa lagi. Singgahnya penyu bertelur di Tambelan sebuah anugerah bagi Tambelan. Siapa tahu nanti bisa menjadi objek wisata melihat penyu bertelur pada malam hari. Karena di Bintan mungkin hanya di Tambelan yang rutin penyu bertelur,” kata Hidaat.

Diakui Hidaat, sekarang memang jumlah penyu yang bertelur di Tambelan agak berkurang dibandingkan 10 tahun lalu. Karena faktornya terkadang banyak induk penyu yang ditangkap nelayan-nelayan asing dari Thailand dan Vietnam sehingga populasi penyu yang singgah di Tambelan dirasakan berkurang.

Selain itu, kapal nelayan menggunakan pukat harimau dan sejenis menambah ancaman kehidupan hewan langka itu. Oleh karena itu, kata Hidaat,  tak ada cara lain, warga Tambelan maupun semua yang punya ingin menjaga kelestarian hidup penyu untuk sama-sama menjaga kehidupan hewan langka itu.

Salah satunya dengan menjaga anak-anak penyu untuk dilepaskan ketika ukuran tubuh penyu mulai kuat. Dan tidak melakukan penjualan telur penyu.(R. PATRIA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here