Terbatas, UPTD Ujicoba Operasional SWRO

1
755
Salah satu warga Tanjungunggat yang sedang menampung air dari SWRO Batu Hitam.f-desi/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Masyarakat di kawasan pelantar berharap agar Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Batu Hitam segera dioperasionalkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di daerah itu.

Bukan hanya untuk sekedar air minum, air bersih SWRO diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari baik mandi menyuci dengan tarif terjangkau. Hal ini diutarakan Dewi, warga Tanjungunggat RT5/6, Kelurahan Tanjungunggat kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (2/3).

Dewi menuturkan, hampir setiap hari air pipa hitam atau SWRO mengalir namun tidak begitu lama. Waktunya juga tak menentu kadang pagi atau siang hari.

Pengakuannya, air tidak bisa mengalir langsung ke sambungan pipa di rumah. Jadi warga secara bergantian menampung dari pipa sambungan berdiameter dua Cm di kawasan Pelantar.

Terkait kualitas air, menurutnya belum bisa diminum langsung. Sebab warnanya tidak begitu putih bersih. ”Kami hanya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi airnya memang tidak berbau, tidak asin maupun payau tapi tidak begitu putih bersih jadi tak berani minum langsung,” ucapnya.

Baca Juga :  Pemko Buka Seleksi Calon Pimpinan Tinggi Pratama

Kondisi memasuki musim kemarau saat ini, ia berharap Pemko bisa mengoperasionalkan SWRO secara maksimal. Kini kebutuhan air warga dipenuhi dengan air sumur bor yang dikelola Ketua RT atau pengelola. Tarifnya sekitar Rp 6 ribu per drum atau sekitar 200 liter per drum.

Untuk kebutuhan sehari dengan dua anak, minimal memerlukan sekitar 400 liter. Maka setidaknya butuh dana sekitar Rp 12 ribu sehari. ”Kami tidak semuanya mampu, rata-rata di sini pedagang dan nelayan, tidak sanggup jika terus membeli air dengan tarif demikian,” ungkapnya.

Kepala UPTD SPAM Tanjungpinang, Heri Jumeri menuturkan, kini SWRO dioperasionlakan, namun belum maksimal. Ini masih sebagai bentuk ujicoba, dengan waktu beroperasi terbatas. Yaitu lima jam sehari sudah termasuk produksi dan distribusi.

Heri menuturkan, bahan-bahan kimia yang digunakan merupakan sisa atau stok dari Satker SPAM Kepri yang akhir tahun lalu melakukan ujicoba produksi. Diperkirakannya, stok akan bertahan sampai Maret ini. Sedangkan untuk berikutnya, masih berharap ada bantuan dari Satker SPAM Kepri.

Baca Juga :  Berkas Politik Uang MA Dilimpahkan ke Pengadilan

”Anggaran biaya kimia tidak ada, jadi berharap dari Satker SPAM Kepri. Terkait realisasi bantuan saya tidak tahu, namun hal ini sudah diketahui Kadis PU dan membicarakannya ke Sekda dan Direktur SPAM Kepri,” ucapnya.

Dituturkannya, dengan waktu prosuksi dan distribusi lima jam sehari, memerlukan biaya kimia sekitar Rp 38 juta hingga Rp 40 juta per bulan. Terkait pembelian kimianya, menurutnya sudah ada di Batam. Meskipun belum diketahui apakah semua jenisnya lengkap atau tidak.

”Ada beberapa macam kimia digunakan, jadi tidak tahu di Batam lengkap atau tidak. Informasi yang saya terima dari pihak Satker SPAM Kepri dulu belinya di Jakarta,” ungkapnya.

Selain itu, biaya listrik sekitar Rp 90 juta hingga Rp 100 juta per bulan. Dua bulan terakhir beroperasi, ia mengakui belum membayar ke PLN. ”Kalau jam produksi dan distribusi semakin lama maka biayanya akan semakin besar,” tuturnya.

Baca Juga :  Banyak Barang Terlarang Ditemukan di Rutan

Opertor untuk SWRO Batu Hitam berjumlah 10 orang. Terdiri dari lima orang produksi dan lima lagi distribusi. Terkait honornya, Pemko sudah menyediakan melalui UPTD.

Dari data yang mereka miliki, produksi SWRO kini sudah melayani 2.825 sambungan atau pelanggan. Pelanggan berada di zonasi mulai dari Jalan Pos, Pasar KUD, Tambak, Potong Lembu, Gurindam, Gudang Minyak dan Tanjungunggat.

Dalam proses ujicoba sekarang, warga belum dikenakan biaya atau gratis. Terkait tarif, ia mengaku masih akan dibahas bersama Satker SPAM Kepri. Sebelumnya sempat dicetuskan Rp 19 ribu per kubik. Hanya saja, belum ada penetapan secara legal. ”Kalau tarif masih akan dibahas, sebelum ditentukan maka air yang diproduksi masih gratis,” ungkapnya. (dlp)

Loading...

1 KOMENTAR

  1. Selamat siang, Jika ingin menyumbang redaksi bisa? Kami dari tim KKN UGM yg akan berfokus pada Pulau Penyengat dan Kampung Bugis Kepri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here