Terburuk No.2 di Indonesia

0
852

Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada semester pertama 2017 akhirnya mentok di angka 1,52 persen. Ini artinya mengalami penurunan yang cukup signifikan bila dibandingkan pada Triwulan I di angka 2,02 persen. Padahal, Gubernur Kepri H Nurdin Basirun mengatakan, ada upaya dirinya untuk mengatasi persoalan itu. Namun itu belum membuahkan hasil sampai saat ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Panusunan Siregar mengungkapkan, saat ini Kepri termasuk provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terendah dibandingkan dengan provinsi lainnya se-Indonesia. Kepri berada pada peringkat 33 dari 34 provinsi di Indonesia.”Kita nomor 2 terendah se-Indonesia. Terakhir diduduki Nusa Tenggara Barat,” katanya saat ditemui di Kantor BPS Kepri, Jalan Ahmad Yani Tanjungpijang, Senin (7/8.

Dikatakannya, Pemprov Kepri memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada angka 5,58 persen pada tahun 2017 ini. Karena, harus mengejar angka sekitar 4 persen pada semester 2 mendatang. Dirinya pun mengaku pesimis akan tercapainya target pertumbuhan ekonomi tersebut. Hal tersebut tampak dari potret pertumbuhan ekonomi Kepri pada semester pertama yang kian menurun. ”Kita sudah lihat potret dari waktu ke waktu. Memang dalam satu semester ini tidak ada kegiatan?” tanya Panusunan.

Ia menjelaskan, ada empat sektor utama yang menjadi perhitungannya dalam menentukan angka pertumbuhan ekonomi Kepri. Yakni, industri manufaktur, konstruksi, pertambangan, dan perdagangan. Sedangkan, yang terbesar menumbuhkan perekonomian pada industri konstruksi. Namun, industri tersebut pada tahun ini mengalami kontraksi negatif alias mengalami perlambatan yang sangat signifikan. Sektor ini hanya menyumbang angka 0,03 persen pada semester pertama 2017. ”Industri konstruksi ini bukan melambat lagi. Tapi, sudah kontraksi negatif,” ujarnya.

Oleh karena itu, Panusunan berharap, Pemprov Kepri dapat membuat formula jitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kepri. Karena, dengan menurunkan pertumbuhan ekonomi tersebut akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Di kesempatan berbeda, Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah, menuturkan risau akan prestasi pencapaian pertumbuhan ekonomi Kepri yang kian menyusut. Ia menuturkan memang persoalan ini, masalah yang terjadi secara global atau dunia. Menurut dia, Kepri harus berusaha mencari dan mengundang investasi masuk. ”Solusinya KEK ini harus didulukan, kalau KEK itu buka, maka itulah bisa jadi obatnya,” jelas Arif.

Pada triwulan ini sebagian besar kategori lapangan usaha mengalami pertumbuhan kecuali kategori Real Estate dan Konstruksi. Sementara itu, kategori yang memiliki share yang besar di Kepri seperti Industri Pengolahan, Pertambangan dan Penggalian, serta Perdagangan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan (q-to-q) pada triwulan II antara lain disebabkan oleh kenaikan output produksi pada industri, kenaikan realisasi lifting minyak dan gas dibandingkan triwulan lalu, pengaruh meningkatnya penumpang angkutan udara dan laut, serta dimulainya tahun ajaran baru.

Struktur Ekonomi Kepri pada triwulan II-2017 masih didominasi oleh Industri Pengolahan (36,62%), Konstruksi (17,70%), dan Pertambangan dan Penggalian (14,36%). Pada triwulan II-2017 pertumbuhan tertinggi (q to q) dicapai oleh Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh sebesar 13,36 persen; diikuti oleh Jasa Pendidikan sebesar 5,11 persen; dan Pengadaan Air sebesar 4,86 persen. Andil pertumbuhan terbesar disumbangkan oleh kategori Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,51 persen, Industri pengolahan sebesar 0,45 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 0,38 persen.

Perekonomian Kepri triwulan II-2017 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya melambat dibanding pertumbuhan triwulan II-2016 (y-on-y) yang tumbuh hingga 5,17 persen. Pertumbuhan tertinggi year on year pada triwulan II-2017 dicapai oleh Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh sebesar 20,26 persen; diikuti oleh Pengadaan Air sebesar 12,00 persen; dan Jasa Pendidikan sebesar 11,17 persen. Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi di Kepri triwulan II-2017 secara year on year, Transportasi dan Pergudangan memberikan andil pertumbuhan tertinggi sebesar 0,55 persen; diikuti Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,54 persen; serta Informasi dan Komunikasi 0,16 persen.

Perekonomian Kepulauan Riau semester I-2017 (c-to-c) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 1,52 persen, melambat dibanding pertumbuhan triwulan II-2016 (c-to-c) yang tumbuh hingga 4,69 persen. Pertumbuhan tertinggi c-to-c pada triwulan II-2017 dicapai oleh Transportasi dan Pergudangan yang tumbuh sebesar 14,24 persen; diikuti oleh Jasa Pendidikan sebesar 11,72 persen; dan Pengadaan Air sebesar 10,61 persen.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau triwulan II-2017 secara c-to-c, Konstruksi memberikan andil pertumbuhan tertinggi sebesar 0,74 persen; diikuti Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 0,60 persen; serta Transportasi dan Pergudangan 0,39 persen.

Jika dibandingkan dengan triwulan yang lalu, ekonomi Kepri mengalami pertumbuhan sebesar 1,16 persen. Pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh Pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT.  Ketiga komponen pengeluaran ini mempunyai andil yang besar terhadap ekspansi ekonomi yang terjadi pada triwulan ini yaitu masing-masing 2,06 persen; 1,17 persen dan 0,01 persen. Sebaliknya, Net Ekspor dan PMTB mengalami kontraksi masing-masing 12,21 persen dan 0,44 persen.

Dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun lalu, Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan ini mampu tumbuh sebesar 1,04 persen. Pertumbuhan ekonomi ini terutama didorong oleh Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi LNPRT yang mampu tumbuh masing-masing sebesar 6,48 persen dan 1,89 persen dengan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 2,44 persen dan 0,004 persen. Sebaliknya, Net Ekspor, PMTB, Konsumsi Pemerintah dan Perubahan Inventori pada triwulan ini mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,03 persen; 2,20 persen; 6,66 persen dan 45,87 persen.

Perekonomian Kepri kumulatif triwulan II-2017 (c-to-c) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 1,52 persen, melambat dibanding pertumbuhan triwulan II-2016 (c-to-c) yang tumbuh hingga 4,69 persen. Pertumbuhan tertinggi c-to-c pada triwulan II-2017 dicapai oleh Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi LNPRT dan PMTB masing-masing sebesar 6,72 persen; 3,41 persen; dan 3,15 persen dengan andil pertumbuhan masing-masing sebesar 2,51 persen; 0,01 persen; dan 1,21 persen.

Struktur Ekonomi Kepulauan Riau triwulan II-2017 menurut pengeluaran didominasi oleh PMTB sebesar 42,67 persen, diikuti oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 41,10 persen, Net Ekspor sebesar 10,45 persen dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 5,23 persen. Adapun komponen Pengeluaran Konsumsi LNPRT dan Perubahan Inventori kurang dari 1 persen. (ais)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here