Tergiur Rp 12 Juta dari Darsa, Hidup Anak-Istri Terancam

0
2359
CERITA PENGALAMAN: Ridwan memberikan keterangan pengalaman pahit, ketika bekerja di negara Kepulauan Solomon, Minggu (19/11) malam lalu.F-YENDI/TANJUNGPINANG POS

Cerita Pekerja yang Teraniaya di Negara Solomon (Bagian I)

BINTAN – Alhamdulillah, sembilan dari 36 orang warga Bintan dan Tanjungpinang, sudah berhasil kembali dari negara Kepulauan Solomon. Di negara sebelah timur Papua dan bagian Utara dari Australia ini, mereka punya cerita pahit, akibat tergiur imbalan Rp 12 juta per bulan.

Pengendara sepeda motor dan mobil mewah hilir-mudik, di kawasan Bintan Center, Tanjungpinang, Minggu (19/11) malam lalu. Pedagang minuman bandrek yang membuka lapak di samping trotoar, langsung menghidangkan empat gelas minuman hangat kepada tamunya.

”Ah, nikmatnya. Minuman seperti ini tak ada di Solomon sana. Syukur lah, kita selamat dari ancaman nyawa melayang,” kata Iwan, warga Desa Malang Rapat, kepada rekannya sambil tersenyum.

Baca Juga :  Bintan Cuma Dapat Rp5,6 M dari APBD Provinsi

Dengan paras wajah geram bercampur seperti menangis, Iwan tak sabar menceritakan pengalaman pahitnya, sebagai pekerja tambang bauksit di negara Solomon. Sambil menyulut sebatang sigaret, Iwan mengungkapkan, sekitar Agustus lalu, Darsa dan Tomo mengumpulkan beberapa calon pekerja dari Bintan dan Tanjungpinang.

Iwan seperti memastikan, ada sekitar 36 orang saat itu. Dengan mulut manisnya, Darsa dan Tomo warga dari Kijang yang menyampaikan, bahwa gaji bekerja di Solomon itu Rp 12 juta per bulan. Gaji dibayar sebelum tanggal 10.

”Siapa yang tak tergiur dengan gaji sebesar itu? Makanya kami berangkat,” sebut Iwan.

Bersama 35 pekerja lainnya, Iwan dari Tanjungpinang terbang dengan pesawat menuju Jakarta. Terus dilanjutkan ke Bali, kemudian melanjutkan ke Australia. Hanya transit, penerbangan dilanjutkan ke Honiara, ibu kota negara Solomon. Dari ibu kota itu, 36 pekerja pun diangkut ke Pulau Rennel.

Baca Juga :  ASN Kabur Sebelum Satpol Merazia

”Di pulau itu lah awalnya teraniaya kehidupan kami,” sebut Iwan.

Terhitung Agustus, Iwan dan Rozi serta pekerja lainnya, mulai bekerja di PT ENM International Resources, dengan manager atas nama Riki, asal Malaysia. Riki mencari tenaga kerja bermitra dengan Apiaw dan Tina, yang tinggal di Batam. Dengan menggunakan jasa dari Darsa dan Tomo, di Bintan.

Sedangkan paspor dipegang oleh PT Worldlink Resources Limited. Sampai September lalu, Iwan dan rekannya tak kunjung menerima gaji. Sementara, anak dan istrinya di Bintan memerlukan uang kiriman dari Iwan.

Baca Juga :  Bupati Terima Masker dari PT MIPI

”Sama dengan teman yang lain, kami tak terima gaji selama tiga bulan. Cuma dikasi makan nasi dan mi instan saja. Uang tak ada. Kami ingin pulang, tapi diancam oleh perusahaan. Gara-gara tergiur gaji Rp 12 juta, hidup anak-istri kami yang terancam di Bintan ini,” sebut Iwan.

”Sampai kami berontak, dan kembali ke Bintan, gaji pun belum dibayarkan. Kami berharap agar aparat menyelidiki PJTKI yang tak jelas seperti. Terutama kaki tangan dari perusahaan asing,” harapnya. (fre)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here