Terminal Sungai Carang Mati Suri

0
824
Rizki Mulyanto

Rizki Mulyanto
Mahasiswa Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Perekonomian suatu daerah akan maju jika sarana transportasinya sudah bagus. Baik itu transportasi darat, laut maupun udara. Transportasi akan dinilai baik, jika terminal, pelabuhan dan bandaranya sudah representarif. Bagaimana dengan Tanjungpinang?

Untuk bandara, ibukota provinsi Kepri ini memang dikenal sudah memiliki bandara yang memadai yang dikelola oleh Angkasapura. Namun, tidak untuk pelabuhan laut yang dikelola oleh Pelindo dan terminal angkutan umum yang dikelola oleh Dnas Perhubungan Kota. Kondisi pelabuhan dan terminal di Tanjungpinang masih amburadul.

Karena Tanjungpinang merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau, mestinya pertumbuhan ekonomi sudah semakin pesat karena pembangunan infrastuktur lain sudah lebih memadai dibanding pertumbuhan infrastuktur di kabupaten dan kota lainnya di Kepri.

Namun, karena akses transportasi masih berjalan lambat, tentunya sangat mempengaruhi percepatan pertumbuhan kendaraan laut, maupun darat.

Untuk mendukung pertumbuhan sarana transportasi darat, Pemko Tanjungpinang sudah membangun Terminal Sungai Carang. Terminal ini merupakan terminal tipe B yang berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995, yaitu terminal yang berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan dalam kota dalam provinsi, angkutan dan atau angkutan pedesaan.

Hanya saja terminal yang dibangun pada 2008 di Batu 9 Bintancenter ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Tidak jelas regulasinya. Terminal ini tidak disinggahi oleh seluruh angkutan umum kerena kurang tegasnya penegakan hukum kepada angkutan umum yang melanggar.

Sejauh ini, belum terlihat upaya Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam memaksimalkan kenyamanan dan juga pelayanan berlalu lintas di Terminal Sungai Carang. Meski Dinas perhubungan sudah berkantor di Terminal Sungaicarang, namun terkesan dinas ini lebih nyaman kalau terminal semakin hari semakin sepi.

Hanya sebagian kendaraan umum yang disubsidi oleh pemerintah saja yang mau mampir ke terminal ini. Sementara, angkutan umum lain memilih tidak mau menurunkan atau menaikan penumpang dari terminal Sungai Carang.

Padahal, konsep pembangunan Terminal Sungai Carang adalah seperti layaknya terminal-terminal lainnya untuk perputaran kendaraan umum, lokasi pemberhentian awal dan akhir baik itu angkutan umum antar kota maupun daerah.

Tetapi, kenyataannya sangatlah berbanding terbalik dengan harapan dan ketetapan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Mulai dari sepinya terminal, minimnya sarana dan fasilitas umum, dan juga tidak terlihatnya aktivitas-aktivitas pegawai atau petugas Dishubkominfo Kota Tanjungpinang yang bertugas di terminal ini. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja terlihat ada pegawai.

Hal ini membuat Terminal Sungai Carang seolah-olah tidak beroperasi lagi. Kelancaran arus transportasi tidak berjalan optimal. Padahal Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2009 tentang organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Tanjungpinang pada pasal 33 Ayat 2 menyebutkan tugas dan fungsi Dishub-Kominfo yaitu mengelola dan memelihara Terminal Sungai Carang sebagai pengatur perputaran arus kendaraan umum dan jasa di Kota Tanjungpinang.

Hal ini juga, tidak sesuai dengan visi dan misi Terminal Sungai Carang, yang ingin terminal ini bersifat modern serta akan meningkatkan mutu pelayanan terhadap masyarakat, sedangkan misinya untuk meningkatkan pelayanan terminal yang ada di Kota Tanjungpinang.

Sejatinya, Terminal Sungai Carang ini menjadi salah satu sumber pendapatan daerah sebagaimana ditetapkan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Pendapatan daerah ini bisa bersumber dari retribusi parkir angkutan umum, penyewaan loket atau penjualan tiket serta kantin dan kios.

Tetapi, karena kurangnya pemberdayaan fungsi Terminal Sungai Carang ini, membuat sumber pendapatan daerah tidak optimal. Hal ini seharusnya menjadi sumber evaluasi dan menjadi tugas bagi Dishub-Kominfo Kota Tanjungpinang.

Selain itu, dalam hal mengatur arus kendaraan umum, pegawai Dishub-Kominfo belum maksimal dalam bekerja. Ini terlihat dari tidak adanya catatan harian atau data dari pegawai di terminal mengenai kendaraan umum yang masuk dan keluar setiap harinya.

Tidak bisa dipungkisi semrawutnya pengelolaan terminal ini. Padahal telah ditetapkan tugas utama pegawai di terminal sesuai dengan surat perintah Nomor: 049/SPT/DISHUBKOMINFO/DD/2013 adalah melaksanakan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas di terminal.

Mestinya petugas Dishub melakukan tindakan dan penertiban dalam pengecekan kendaraan umum yang layak jalan, pemeriksaan identitas supir, kelengkapan surat-surat kendaraan umum dan juga pemeriksaan kondisi fisik sang supir. Namun tugas itu belum terlihat. Karena lemahnya kinrja petugas dinas perhubungan ini malah menajdi keluhan bagi para supir.

Kondisi ini juga membuat penumpang takut untuk naik kendaraan umum yang ada di Terminal Sungai Carang. Padahal, Dishub-Kominfo Tanjungpinang mempunyai tiga kewenangan, khususnya dalam hal perizinan seperti, izin operasi angkutan umum, izin trayek, dan izin usaha angkutan.

Selayaknya pengoperasian Terminal Sungai Carang ini juga didukung dengan pengawasan dan juga tindakan dari pegawai Dishub, karena hal ini menyangkut keselamatan pengguna jalan umum.

Selain itu, penumpang juga bingung untuk mencari kendaraan umum yang ingin mereka tuju karena tidak teraturnya parkir di Terminal tersebut dan sering berpindah-pindah. Ditambah tidak adanya papan informasi, tarif, perjalanan angkutan umum, dan tidak adanya loket penjualan tiket diterminal tersebut.

Dilihat dari lokasinya, terminal Sungai Carang memang terletak di tengah Kota Tanjungpinang. Lokasinya sangat strategis. hanya berjarak 300 meter dari jalan umum. Namun kerena pengelolaannya memprihatinkan membuat terminal ini mati suri dan sama sekali tidak diminati penumpang.

Padahal, jika dilihat dari aspek tata ruang kota, lokasi Terminal Sungai Carang sudah memenuhi persyaratan pembangunan terminal.

Karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan aktivitas warga seperti, pertokoan, pasar, dan juga pemukiman warga. Namun sayang, kondisi Terminal Sungai Carang sangat sepi. Bahkan, sebagian fasilitasnya sudah mulai rusak dimakan usia meski selama ini tak terpakai.

Hal ini membuat tidak terciptanya rasa nyaman bagi pengguna angkutan umum di Terminal Sungai Carang. Akibatnya pelayanan masih jauh dari kata memuaskan.

Meski setiap harinya ada ratusan angkutan umum yang tak mau masuk ke terminal Sungai Carang. Namun, tidak satupun yang diberi sanksi oleh pegawai Terminal Sungai Carang terhadap kendaraan umum yang masuk dan keluar terminal.

Lemahnya kinerja petugas membuat rendahnya kepedulian supir yang tentu berakibatnya tidak adanya penumpang yang naik dan turun di terminal ini.

Belum terlihat kontribusi Terminal Sungai Carang untuk menunjang Pendapatan daerah. Padahal terminal merupakan jantungnya transportasi darat. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here