Terparah Sejak 30 Tahun Terakhir

0
503
MASYARAKAT menggunakan jeriken sebagai pelampung saat banjir di Jemaja Anambas, Minggu (14/1) lalu. f-istimewa

Ketika Anambas Berduka Akibat Bencana musim utara

Banjir hampir terjadi setiap tahun di Anambas. Namun, biasanya hanya setinggi lulut. Tahun 2018 ini, banjir yang melanda Anambas hingga setinggi dada orang dewasa. Inilah keganasan alam paling parah 30 tahun terakhir.

ANAMBAS – BENCANA yang terjadi di Anambas pekan ini masih menyisakan kesedihan di tengah-tengah masyarakat. Selain dua orang tewas, banyak rumah terendam begitu juga ternak peliharaan.

Kabupaten Anambas sempat ditetapkan darurat bencana, menyusul tiga Pulau Besar di kabupaten termuda di Provinsi Kepri itu yakni Pulau Jemaja, Pulau Matak dan Pulau Siantan terjadi musibah bencana alam banjir dan longsor.

Di Desa Ulu Maras 875 jiwa warga mengungsi serta naik ke tempat yang lebih tinggi akibat banjir dan longsor. Di Kecamatan Palmatak pada, Senin (15/1) pukul 01.00 WIB dini hari, tepatnya Desa Putik juga dikejutkan tanah longsor yang mengakibatkan rumah permanen tertimbun tanah longsor dan saat ini dalam kondisi rusak berat. Pemilik rumah saat ini telah diungsikan ke rumah keluarganya. Tidak ada korban jiwa atas kejadian ini.

Yang paling tragisnya adalah musibah banjir di Kota Tarempa yang terjadi, Minggu (14/1) malam hingga subuh tersebut merenggut korban jiwa. Dua orang dipastikan meninggal dunia, ketika air hujan naik mencapai setinggi dada orang dewasa pada pukul 01.00 WIB.

Banjir di Kota Tarempa melumpuhkan administrasi Pemkab Anambas selama dua hari. Hal ini dikarenakan sejumlah kantor pemerintahan, kantor swasta, kantor unsur vertikal dan tak luput kantor DPRD juga terendam air. Bahkan Puskesmas Tarempa ikut terendam.

Pada saat kejadian itu, listrik di sejumlah titik bencana mengalami pemadaman mulai dari Kota Tarempa, Jemaja, Jemaja Timur dan Desa Putik Palmatak. Listrik total tidak menyala saat itu.

Kapolres Anambas AKBP Junoto SIK mengatakan, kejadian Minggu (14/1) pukul 23.00 WIB sampai Senin (15/1) pukul 03.00 telah terjadi bencana alam tanah longsor dan banjir yang disebabkan oleh hujan lebat sepanjang hari dan memakan dua korban jiwa.

Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur yang awalnya mangalami musibah banjir dan longsor tepatnya pada hari Jumat (12/1), namun di sana tidak ada korban jiwa. Dua daerah ini mengalami banjir terparah disertai longsor.

Bupati Anambas Abdul Haris mengatakan, musibah banjir dan longsor yang menimpa Anambas disebabkan faktor alam yakni intensitas curah hujan meningkat disertai angin kencang dan ditambah air pasang laut.

Orang nomor satu di Anambas itu juga tidak menduga akan terjadi musibah separah ini dan ia berharap kepada semua pihak dapat saling membantu satu sama lain.

”Musibah yang menimpa di Anambas itu akibat faktor alam. Khususnya tiga kecamatan yakni Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak dan Siantan. Kita sudah siapkan bantuan bahan- bahan sembako, obat-obatan maupun tenaga medis pasca musibah tersebut,” jelasnya.

Selain bencana yang terjadi di Jemaja dan Jemaja Timur, ia mengakui bahwa mulai pukul 19.00 curah hujan dan air laut pasang pada, Minggu (14/1) meningkat sehingga Tarempa dan Kampung Rintis terendam banjir.

Korban atas nama Burhanudin (63) domisili di Jalan Pemuda Kelurahan Tarempa Kecamatan Siantan terjebak banjir ketika ia berada di dalam rumah dan tidak bisa lari dikarenakan beliau sedang sakit (diduga stroke).

Selain itu korban lainnya yang bernama Maria alias Lince (29) warga Jalan Kampung Baru Kelurahan Tarempa Kecamatan Siantan meninggal dikarenakan terbawa arus akibat lantai rumahnya jebol diterjang air dari atas Gunung Rintis.

”Sesuai data, ada dua korban yang meninggal dunia dan saya sangat prihatin sekali. Hal ini di luar dugaan. Mari kita bergandeng tangan dalam membantu kepada saudara kita yang mengalami musibah,” ucapnya.

Haris juga sempat menetapkan bencana yang terjadi di Anambas sebagai tanggap darurat dengan Nomor 45 Tahun 2018 tentang penetapan status darurat bencana banjir dan longsor dikeluarkan di Tarempa tanggal 14 Januari.

Akibat faktor gelombang tinggi, Pemkab Anambas bersama Tim SAR kabupaten tidak bisa meninjau korban banjir dan longsor di Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur.

Sedangkan rencana awal tim akan turun pada, Minggu (14/1) menggunakan Pelni yakni Bukit Raya. Namun kapal tersebut gagal sandar di Tarempa pada saat itu disebabkan kapal itu tidak berlayar dari pelabuhan Pontianak.

Pada Kamis (18/1) Kapal Bukit Raya sudah tiba di Pelabuhan Tarempa dan pihaknya langsung meninjau ke titik bencana di wilayah Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur.

”Saya bersama Wakil Bupati serta Kapolres dan Tim SAR, Tim Tagana Kabupaten sudah tiba di lokasi banjir dan longsor di Kepulauan Jemaja dan Jemaja Timur. Kita sudah pantau semua titik bencana,” tukasnya.

Camat Jemaja, Abdulah sani mengatakan, mulai Jumat (12/1) lalu banjir telah terjadi di dua kecamatan akibat hujan lebat dan air pasang. Tanah juga ikut longsor di sejumlah titik tebing gunung.

Minggu (14/1) telah terjadi lagi tanah longsor di jalan Genting Dusun Desa Batu Berapit Kecamatan Jemaja setinggi tiga meter dan merobohkan kedai pangkas rambut milik warga.

Kejadian itu jelang malam tepatnya pukul 17.45 WIB. Suasana saat itu gerimis dan akses jalan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Sani juga menyampaikan bahwa di jalan Kampung Baru Kelurahan Letung Kecamatan Jemaja rumah milik warga roboh akibat dihantam angin.

Rumah warga itu dibangun di atas laut dan kini rumah itu hanyut dibawa air laut. Beruntung tidak ada korban jiwa, sebab pemilik rumah tidak berada di tempat.

Masih kata Sani, mengenai sumbangan dari sejumlah relawan, donatur dan dermawan baik dari unsur pemerintahan kabupaten, kantor swasta terus mengalir dan saat ini tim relawan kecamatan terus mendistribusikan bantuan kepada korban banjir dan longsor.

”Kita pastikan sumbangan itu akan sampai ke korban dan kita juga terus pantau tim relawan bekerja dan mereka juga perlu kita apresiasi atas kegigihan membantu para korban,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan rombongan Bupati dan Wakil Bupati, Kapolres dan tim dari kabupaten sudah tiba di Kepulauan Jemaja dan Jemaja Timur, Kamis (18/1) menggunakan Bukit Raya.

Rombongan meninjau semua titik bencana dan korban. Bupati juga telah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk dapat lebih waspada lagi dan mereka juga membawa sejumlah bantuan kepada korban, baik makanan, obat-obatan dan tenaga medis.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Anambas, Sahtiar SH mengatakan, Pemkab terus berupaya melakukan yang terbaik dan juga telah menyediakan tenaga medis di sejumlah posko bahkan tenaga medis harus pergi melakukan pelayanan ke rumah-rumah korban.

Pemkab juga menyiapkan anggaran untuk anggaran perbaikan sejumlah fasilitas publik yang mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor. Tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan pasca bencana nanti.

”Kita terus berupaya melakukan yang terbaik bagi masyarakat Anambas pada umumnya. Tentu kita butuh bantuan dari semua pihak agar dapat meringankan beban masyarakat yang mengalami musibah,” ucapnya.

Katanya, informasi yang ia dapat sejumlah bantuan terus mengalir baik dari kerabat Anambas di luar daerah maupun masyarakat Kepri dan daerah lain juga ikut berpartisipasi menyumbang sejumlah bantuan.

Ada yang menyalurkan melalui rekening, ada pula mengirim paket melalui pesawat dan masih banyak lagi bantuan lain yang belum tiba ke korban disebabkan kapal banyak yang belum berani berlayar.(INDRA GUNAWAN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here