Tersenyum Divonis 10 Tahun Penjara

0
92
M Nashihan, mengikuti persidangan, Rabu (5/9) di Pengadilan Negeri Kota Tanjungpinang. f-raymon/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Majelis hakim menghukum M Nashihan terdakwa korupsi dan pencucian uang dana asuransi kesehatan (Askes) serta jaminan haru tua (JHT) ribuan ASN serta tenaga harian lepas (THL) Pemko Batam selama 10 tahun 6 bulan penjara di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Rabu (5/9/) malam.

Meskipun divonis 10 tahun, terdakwa tersenyum kepada hakim, jaksa termasuk ke pengacaranya.

Putusan itu dibacakan majelis hakim Corpioner didampingi Guntur Kurniawan dan Suherman. Menurut majelis, terdakwa terbukti bersalah melakukan korupsi, menyalahgunakan kewenangan dan sarana yang ada padanya untuk memperkaya diri sendiri maupun orang lain, hingga menyebabkan kerugian negara.

”Sebagaimana pada dakwaan primer melangar pasal 3 undang-undang nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP,” katanya.

Corpioner menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Menjatuhi hukuman 10 tahun 6 bulan penjara. Selain hukuman penjara, terdakwa juga dibebankan untuk membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 54.900.000.000.

”Jika tidak dapat mengembalikan uang pengganti, maka diganti dengan hukuman selama 5 tahun 6 bulan penjara,” jelasnya.

Berdasarkan tuntutan yang dibacakan jaksa penuntut umum, bahwa rumah mewah yang terdapat di Jakarta dan tanah yang letaknya di Jogja serta satu unit mobil yang telah disita oleh Kejati Kepri dengan nilai total Rp14,5 miliar, akan diperhitungkan untuk membantu pengembalian kerugian negara.

”Barang-barang milik terdakwa ini yang telah disita oleh penuntut umum, nantinya akan diperhitungkan untuk menutupi kerugian negara atau uang pengganti,” ujarnya.

Mendengar putusan itu, terdakwa M Nashihan yang didampingi empat Penasehat Hukum (PH), salah satunya Sudiman Sidabuke menyatakan, akan mengajukan banding. Sedangkan jaksa, Hartam dan Andre Antonius menyatakan pikir-pikir.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum Sigit mengatakan modus terdakwa M Syafei selaku jaksa pengacara negara bersama-sama dengan tersangka M. Nashihan (DPO) sebagai pengacara PT BAJ, dengan surat kuasa yang diberikan Pemko Batam dan PT BAJ dalam penanganan perkara dana penyelenggaraan asuransi yang tidak dibayarakan PT BAJ ke Pemko Batam, malah memanfaatkan amanah yang diberikan, untuk mengeruk keuntungan dari perkara yang mereka tangani.

Awalnya didasarkan pada gugatan perdata wanprestasi Pemko Batam, yang saat itu ditangani Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) sebagai pengacara negara mewakili Pemko Batam, dan M Nashihan sebagai pengacara yang mewakili PT BAJ

Sambil menunggu putusan yang berkekuatan hukum tetap atas perkara perdata nomor 136/Pdt.G/2013/PN.BTM pada 11 Juli 2013 itu, pada 18 September 2013, keduanya yang mewakili masing-masing pihak, melakukan mediasi di luar persidangan.

Dalam mediasi di luar persidangan itu, kedua pengacara yang ditetapkan menjadi terdakwa ini, saat itu mewakili dua belah pihak yang berperkara Pemko Batam selaku penggugat dan PT BAJ selaku tergugat, sepakat agar pihak tergugat (PT BAJ) melakukan pembayaran sebagai kewajiban kepada Pemko Batam sebesar Rp 55 miliar.

Namun kedua terdakwa M Syafei dan M Nashihan ini memindah-bukukan dana yang sebelumnya disetorkan PT BAJ ke rekening penampung escrow account ke rekening lain yang dibuat keduanya terdakwa. (ray)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here