Tiang Pelantar Mangrove Ganti Beton

0
128
Jembatan wisata mangrove Istana Kota Rebah memprihatinkan. Karena kayu dan papan jembatan sudah pada hancur. F-Andri Dwi S/TANJUNGPINANG POS

Disparbud Kota Cari Dana dari APBN

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kota Tanjungpinang, Surjadi mengatakan pemerintah daerah tidak tinggal diam tentang lapuk dan rusaknya jembatan mangrove di tempat wisata Kota Rebah.

TANJUNGPINANG – Ia membeberkan penyebab pelantar jadi lapuk dan hancur. Menurutnya, itu karena sudah tua dan kayunya termakan usia.

Menurutnya, untuk memperbaiki tersebut membutukan waktu yang lama. Mulai dari pengajuan anggaran hingga pengerjaan perbaikan pelantar mangrove.

Rencanya, Disparbud Kota Tanjungpinang akan mengajukan perbaikan pelantar mangrove melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pariwisata pada 2020 mendatang. Hanya saja, pihaknya belum menyebutkan anggaran perbaikan untuk pelantar mangrove tersebut.

Menurutnya, keinginan pemerintah daerah, jembatan yang dibangun nanti tidak lagi mengunakan jembatan kayu, tapi tiang harus cor beton agar kokoh dan bertahan lama.

Kalau lantai Pelantar Mangrove, bisa disesuaikan dengan menggunakan bahan baku papan atau kayu. Agar terasa alami berada di tengah pohon mangrove.

”Kita usulkan dulu ke DAK Pariwisata 2020,” kata Surjadi.

Pelantar Mangrove dinilainya, tempat yang cukup bagus dan cocok untuk dijadikan objek wisata di Kota Tanjungpinang. Pasalnya, pelantar mangrove sempat terkenal objek wisatanya di Kota Tanjungpinang.

Tempatnya menarik. Karena pelantar mangrove bisa dikombinasi dengan cakar kebudayaan yang ada di kawasan Istana Kota Rebah.

”Mudah-mudahan usulan kita masuk di DAK. Agar bisa terealisasi perbaikan Pelantar Mangrove paling tidak tahun 2020 mulai kita kerjakan,” harap Surjadi.

Pantauan di kawasan Istana Kota Rebah, Minggu (14/7), terlihat ranting pohon menjalar sudah menutupi akses pelantar mangrove.

Sehingga terkesan tidak ada akses jalan untuk dilintasi. Mirisnya lagi, kayu penyangga sudah pada rapuh hingga keropos. Ini membuat pelantar bergoyang. Kondisi ini terasa saat berada di atas pelantar tersebut.

Kemudian, sebagian papan yang dijadikan lantai sudah pada rapuh. Ini diketahui saat diinjak, kepingan papan jatuh ke bawah.

Selain rapuh, papan sudah banyak yang hilang. Sehingga tidak ada lagi akses untuk menuju ke pondok berada di tengah mangrove. (ANDRI DS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here