Tiap Kelas Ada Perpustakaan Mini

0
86
SALAH satu pojok pustaka di SMAN 1 Bintan Timur. F-istimewa/humas sman 1 bintan timur

Upaya Memantapkan Literasi Siswa SMAN 1 Bintan

BINTAN – Untuk meningkatkan minat baca siswa, maka pihak sekolah gencar menjalankan Gerakan Literasi Nasional (GLS) di SMAN 1 Bintan Timur. Dalam program GLS ini, setiap siswa wajib membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Agar tidak membosankan, maka semua ruangan kelas di SMAN 1 dilengkapi perpustakaan mini. Oleh pihak sekolah disebut pojok pustaka atau pojok baca.

Kepala SMAN 1 Bintan Timur Drs Abdul Gafur M.Pd melalui Iman Sabarullah, S.Pd, Panitia Program Sekolah Rujukan SMAN 1 Bintan Timur mengatakan, pojok pustaka ini disiapkan masing-masing wali kelas bekerja sama dengan siswanya. Bahkan, pojok kelas ini diperlombakan.

Iman Sabarullah, menjelaskan, sebagai sekolah rujukan, salah satu program yang dijalankan adalah Pemantapan Literasi siswa.

Pojok pustaka atau pojok baca ini bagian dari gerakan literasi sekolah. Dengan adanya pojok baca ini, maka siswa wajib membaca buku-buku yang ada setiap hari sebelum mata pelajaran dimulai.

Buku-buku ini, kata Iman, merupakan buku yang disiapkan masing-masing siswa dan biasanya, buku-buku tersebut judulnya tidak sama. Misalnya, kata dia, jika dalam sattu ruang kelas itu ada 30 siswa, maka jumlah buku yang ada minimal 30 judul.

”Bahkan ada yang lebih. Karena satu siswa itu mau menyumbang lebih dari satu buku. Saat ini, semua kelas di sekolah kita ini sudah ada pojok pustakanya. Anak-anak sering bilang, pojok baca karena memang tempat mereka membaca,” jelas Iman Sabarullah.

Yang menyiapkan tempat buku ini berupa rak, adalah siswa itu sendiri dibina wali kelasnya. Mereka berusaha menjadikan pojok bacanya menarik karena diperlombakan.

Membuat pojok buku ini juga membuat siswa kreatif. Karena siswa berusaha membuat rak bukunya dari tempat yang bukan umum. Jika selama ini tempat buku itu rak atau lemari, maka pojok bacaan siswa ada yang terbuat dari pipa paralon.

”Pokoknya bermacam-macam jenisnya. Ada dindingnya digambar kayu dan diwarnai. Kemudian dibuat paku tempat sangkutan papan. Jadi, seorang-orang rak buku itu di bawah pohon. Kreatif lah,” kata Iman bangga.

Pojok pustaka ini diperlombakan di tingkat sekolah dan berjenjang. Untuk Kelas X, Juara I MIPA 2 dengan wali kelas Yanti Darwin. Juara II MIPA 4 dengan wali kelas Maria Ulfa. Juara III MIPA 3 dengan wali kelas Ridha Aulia.

Untuk Kelas XI, Juara I adalah Bahasa dengan wali kelas Yulika Triano. Juara II MIPA 1 dengan wali kelas Ratih Pratiwi dan Juara III MIPA 3 dengan wali kelas Desi Cahyani.

Untuk Kelas XII, Juara I adalah MIPA 3 dengan wali kelas Rita Herawati. Juara II adalah MIPA 4 dengan wali kelas Effendi dan Juara III adalah IPA 1 dengan wali kelas Erma Apriyani

Pengumuman dan penyerahan hadiah bagi para juara ini dilakukan, Senin (29/10) saat ucapara peringatan hari Sumpah Pemuda di sekolah itu. (mas)

Iman yang juga guru Bahasa Indonesia ini mengatakan, dengan adanya program LGS ini, cukup efektif membuat siswa agar lebih terbiasa membaca. Apalagi, buku yang mereka baca itu judulnya beda.

Saat ditanya apakah siswa tidak berebutan ingin membaca satu judul buku, Iman mengatakan, semua sudah diatur. Dan setiap hari, siswa akan membaca buku yang sudah dibaca sebelumnya.

”Satu buku itu tidak habis dibaca dalam 15 menit. Besoknya dilanjutkan lagi. Besoknya dilanjutkan lagi. Dalam seminggu itu, kita hanya lima hari kerja sekolah. Berarti hanya lima kali seminggu melanjutkan buku yang sama. Setelah habis dibaca satu buku, ganti lagi dengan buku yang lain,” jelasnya lagi.

Untuk memantapkan literasi siswa di sekolah itu, pihak sekolah juga mengadakan lomba. Misalnya lomba menulis cerpen termasuk memberi pelatihan bagi wartawan sekolah tersebut. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here