Tiap Kelas Punya Kebun

0
507
MENCANGKUL: Guru SMPN 11 Senggarang mencangkul bersama siswanya di pekarangan sekolah. f-MARTUNAS/tanjungpinang pos

SMPN 11 Senggarang Menuju Sekolah Adiwiyata

SENGGARANG – Kenyang dengan prestasi bidang olahraga, kini pihak SMPN 11 Senggarang meniti prestasi baru yakni menuju sekolah Adiwiyata.

Kepala SMPN 11 Senggarang Dra Mulia Wiwin MPd melalui Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Indra Gunawan mengatakan, program ini sudah mereka mulai sejak tahun ajaran 2015-2016 lalu.

”Program menuju sekolah Adiwiyata ini kita lanjutkan lagi tahun ajaran 2016-2017 ini. Semoga tahun ini bisa kita raih,” ujar Indra Gunawan didampingi Sugianto, pembina OSIS di sekolah itu, Rabu (24/2) kemarin.

Agar lolos dan ditetapkan menjadi sekolah Adiwiyata, kata Indra, banyak yang harus dibenahi terutama penghijauan lingkungan sekolah.

Untuk meraih Adiwiyata ini, pihak sekolah pun sama-sama turun membenahi lingkungan sekolah tersebut dengan cara menanami beragam jenis tanaman.

Indra Maulana dan Dwi Putri Ramadani, merupakan guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) SMPN 11 Senggarang yang banyak mengurusi persiapan Adiwiyata ini.

Indra sendiri guru PLH Kelas 8 dan Kelas 9. Sedangkan Dwi Putri guru PLH Kelas 7. Di sekolah ini, terdapat 14 rombongan belajar (rombel) dengan pembagian, 5 lokal Kelas 9, 4 lokal Kelas 8 dan 5 lokal Kelas 7.

Lahan sekolah ini cukup luas yakni 2 hektare. Belum separuh yang dipakai untuk pembangunan ruangan. Sebagian dipakai untuk sarana olahraga dan sebagian untuk rumah dinas guru serta kebun.

”Setiap kelas kita siapkan kebunnya masing-masing. Ada empat jenis tanaman yang kita tanam, pisang, jagung, nenas, dan ubi,” ujar Indra sambil mencangkul di kebun salah satu kelas di sekolah itu.

Bibit tanaman ini dibawa masing-masing siswa. Mereka juga menyediakan pupuk.

”Baru dua bulan ini kita tanam. Ubi ini ada yang bisa panen tiga bulan,” tambahnya.

Ke depan, hasil panen ini akan dimakan bersama. Jika ada lebihnya, siswa akan diajari cara membuat kerupuk ubi baik dengan bahan mentah dan ubi dengan bahan rebus.

Berkebun, kata dia, sekaligus mengenalkan jenis tanaman khas lokal ke siswa dan bagaimana cara menanam serta merawatnya hingga mengolahnya dengan produksi jadi seperti kerupuk.

Sedangkan pisang ditanam di lokasi pembuangan air karena butuh tanah yang lembab. Pisang butuh banyak air agar bisa tumbuh subur. Karena itu, pembuangan air wudhu dimanfaatkan untuk kesuburan tanaman pisang.

Pantauan di sekolah itu kemarin, beberapa siswa melakukan gotong-royong untuk membersihkan lingkungan sekolah juga membabat rumput yang ada. Indra juga membantu siswa mencangkul saat pemupukan nanas.

”Jangan terlalu dekat mencangkulnya, nanti nenasnya tumbang,” kata Indra sambil memberi contoh.

Dijelaskannya, lingkungan sekolah itu sebelumnya semak belukar dan banyak tumbuhan liar. Sejak program Adiwiyata diluncurkan, mereka membabatnya hingga bersih.

Siswa dan guru sama-sama turun ke lapangan untuk membayar semak belukar tersebut. Kini, semak belukar berganti kebun. Meski tanahnya kuning alias kurang subur, namun mereka tidak patah semangat.

Nanas yang ditanam sudah mulai tumbuh hingga 10-15 cm. Begitu juga dengan ubi sudah bertunas dan hijau. Nampak pelang kecil yang terbuat dari papan ditancapkan di sudut petak setmua kebun. Di pelang kecil itu dituliskan kebun masing-masing kelas.

Siswa pun terpacu untuk menjadikan kebun masing-masing paling subur agar hasilnya lebih bagus. Siswa juga rajin melihat kebun mereka masing-masing untuk melihat pertumbuhan tanamannya.

Indra Gunawan mengatakan, mereka sengaja memilih jenis ubi dan nenas karena tanaman ini tidak harus rutin disiram tiap hari. ”Kita kekurangan air di sini. Makanya, pilih tanaman ini. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here