Tiap Minggu Pekan Seni di Penyengat

0
173
Pulau Penyengat yang kini menjadi salah satu objek wisata budaya andalan di Kepri. f-adly/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), April 2018 lalu.

Penetapan itu dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.112/M/2018 tentang Kawasan Cagar Budaya Pulau Penyengat sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Seperti diketahui sebagai pusat peradaban Melayu dalam bidang bahasa maupun kebudayaan, dari Penyengat inilah goresan Raja Ali Haji yang menghasilkan karya berupa Kitab Bustan Al-Katibin, buku tata bahasa Melayu dan berupa pantun Gurindam Dua Belas.

Jika karya yang pertama telah menjadi dasar dan sumber pengembangan bahasa Indonesia, karya yang kedua memberi sumbangan besar bagi perkembangan dunia sastra Melayu dan Indonesia.

Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui DPRD Kota Tanjungpinang merasa perlu membentuk Peraturan Daerah (Perda) mengatur lebih teknis tata cara berwisata serta upaya mendukung Pulau Penyengat sebagai wisata budaya.

Pembahasan sedang dilakukan anggota Pansus bersama OPD terkait yaitu Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang.

Ketua Ranperda Wisata Pulau Penyengat sebagai kawasan wisata budaya, Hendy Amerta menuturkan, pembahasan sudah dilakukan beberapa bulan lalu.

Rencananya akan disahkan di bulan November ini, sebelum pengesahan APBD Murni 2019 yang dijadwalkan akhir bulan ini.

”Rencananya akan segera disahkan, mengatur beberapa hal yang mendukung Pulau Penyengat sebagai warisan budaya,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, Minggu (4/11).

Ia menuturkan, dari Perda itu meminta Dinas Pariwisata membentuk Unit Pelaksana Tugas Daerah (UPTD). Mengatur mengenai teknis pelaksanaan di lapangan. Serta memudahkan masyarakat berkomunikasi mengembangkan bersama.

Misalnya, untuk mendukung Pulau Penyengat sebagai kawasan wisata budaya, rencananya masyarakat setempat diminta minimal sekali seminggu mengenakan baju Kurung Melayu.

”Apakah Sabtu dan Minggu akan dibahas lagi nantinya. Pihak UPTD bertemu dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat,” ujar Hendy yang merupakan warga Pulau Penyengat.

Ia menilai, itu juga sebagai salah satu upaya memperkenalkan baju khas daerah. Selain itu, meminta OPD terkait menyusun kegiatan pentas seni yang dilaksakan di kawasan itu.

Seperti pembacaan Gurindam 12, pantun, Tati siapin serta beberapa lainnya. Disarankan dilaksanakan di malam hari, jadi para wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara bisa melihat berbagai kreasi yang ditampilkan.

Ini juga upaya meningkatkan para wisata bermalam di Pulau Penyengat. Terkait penginapan, Hendy menuturkan memang belum banyak. Meski demikian sudah bisa menggunakan kamar milik masjid yang dapat disewa.

Bila antusias kunjungan semakin tinggi, ia menilai masyarakat setempat juga bersedia menyewakan rumahnya. Konsepnya seperti home stay namun milik warga lokal.

”Masyarakat Penyengat juga ramah-ramah dan siap memberikan pelayanan kepada wisatawan yang ingin berkunjung,” paparnya.

Meski demikian, ia juga akan meminta Dispar menyediakan pembual-pembual handal yang mampu menceritakan kembali sejarah serta spot wisata di daerah dengan luas dua kilometer tersebut.

Ini menurutnya penting, jadi bagi mereka yang belum memahami sejarah bisa lebih mengerti dan menghargai sejarah itu.

Terkait alat transportasi menurutnya juga akan dibahas. Tentu pompong milik masyarakat tetap diperdayakan namun perlu juga dibuatkan yang lebih memadai dan memiliki jangkauan perjalanan yang lebih luas.

Misalnya kendaraan yang menyusuri kawasan Pulau Penyengat serta beberapa kawasan lainnya sampai ke hulu Riau, Sungai Carang.

Terkait ini, dia meminta pembahasan lebih spesifik bersama OPD. Terkait kepala UPTD ia mengaku belum mengetahui namun disarankan yang memiliki visi memajukan wisata kawasan Pulau Penyengat.

Ia menuturkan, pemerintahan di masa kepemimpinan yang baru berjanji akan memperhatikan warisan budaya di Pulau Penyengat. Hal ini yang akan terus didorong dan diingatkan.

”Pak Syahrul janji mau perhatikan. Kita akan lihat ke depan apa saja yang bisa direalisasikan untuk mendukung Tanjungpinang sebagai kawasan wisata budaya,” ucapnya.

Rencananya, di APBD Perubahan ini akan dipasang lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di dua kampung. Masing-masing ada yang menerima enam titik dan delapan titik bola lampu.

Selain itu, memperhatikan kawasan pelabuhan serta penyediaan sarana water closet (WC) yang memadai bagi pengunjung.

Jadi para wisatawan tidak hanya membuang hajat di WC masjid namun ada tersedia khusus para wisatawan. Serta akan merehap beberapa kawasan wisata lainnya.

Ia berharap melalui Perda yang nantinya disahkan, akan memperkenalkan Penyengat hingga ke luar daerah melalui sejarah yang dimilikinya.

Serta kini melalaui anggaran APBD Provinsi Kepri dibuatkan kawasan parkir di kawasan pelabuhan tepatnya di depan Pulau Penyengat.

Rencananya ke depan pintu masuk dari Pelabuhan Kampung Datok dan kepulangan dari pelabuhan sekarang yaitu depan masjid. (dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here