Tiga Komoditas Bakal Sumbang Inflasi

0
89
PEMBELI menawar harga ayam di Pasar Bincen Tanjungpinang, baru-baru ini. f-andri/tanjungpinang pos

BATAM – Pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan III tahun 2018 diperkirakan akan melambat dibandingkan Triwulan II. Seiring dengan itu, inflasi akan menekan pertumbuhan ekonomi karena gelombang laut akan tinggi.

Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) RI menyebutkan, jika ingin menjaga inflasi, terdapat tiga komoditas pangan yang perlu menjadi perhatian lebih, antara lain beras, daging ayam ras, dan cabai merah.

Saat ini, perekonomian Kepri mengalami tren peningkatan pertumbuhan dan stabilitas sistem keuangan Kepri tetap terjaga.

Namun diperkirakan, pada Triwulan III tahun 2018, perekonomian Kepri mengalami penurunan. Dimana, ekonomi saat itu diperkirakan tumbuh melambat pada kisaran 3,9 sampai 4,4 persen (yoy).

Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, dari sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang sektor perdagangan besar dan eceran.

Serta sektor konstruksi sementara industri pengolahan diperkirakan akan menguat sejalan dengan ekspektasi bisnis semikonduktor dan IIP Singapura.

”Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh pelemahan ekspor,” jelasnya.

Disebutkannya, lifting migas diperkirakan mengalami penurunan sejalan dengan sumur yang semakin tua dan akan berdampak pada ekspor migas Kepri. Namun ada potensi kenaikan harga sejalan dengan pengenaan sanksi Amerika Serikat atas Iran. ”Sepanjang 2018, perekonomian Kepri diproyeksikan akan tumbuh sekitar 4,0 sampai 4,4 persen (yoy) ditopang investasi, sektor kontruksi dan industri pengolahan,” bebernya.

Laju inflasi pada Triwulan III-2018 diperkirakan akan sedikit meningkat, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat didorong oleh curah hujan serta gelombang laut yang tinggi menjelang akhir tahun yang dapat menghambat jalur distribusi.

Curah hujan yang tinggi juga berpotensi untuk mengagalkan panen petani dan mendorong inflasi volatile foods untuk komoditas seperti bayam dan kacang panjang.

”Untuk itu, semua pihak yang tergabung dalam forum TPID perlu melakukan langkah-langkah sinergitas untuk memastikan kunci pengendalian inflasi. Memastikan kecukupan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga dan komunikasi yang efektif,” tegasnya.

Secara total tahunan, inflasi Kepri 2018 diperkirakan masih dalam kisaran target inflasi Nasional 3,5 ± 1 persen (yoy). Indikator-indikator perbankan yang masih tumbuh meski tidak sekuat triwulan sebelumnya.

Total aset, dana dan kredit tumbuh masing-masing sebesar 4,24 persen (yoy), 4,65 persen (yoy) dan 5,15 persen (yoy) lebih rendah dibanding triwulan lalu sebesar 8,25 persen (yoy), 9,18 persen (yoy) dan 7,25 persen (yoy).

Sementara hingga Triwulan II, keuangan daerah relatif tetap terjaga sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Kepri. Loan to deposit ratio (LDR) berdasarkan lokasi proyek 95,57 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu 91,93 persen (yoy). NPL mengalami peningkatan menjadi 4,58 persen dibanding triwulan lalu 4,23 persen, namun masih berada dibawah ambang batas (treshold) yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5 persen.

”Aktivitas sektor UMKM tercatat tumbuh melambat tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM sebesar 5,37 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya,” beber dia menjelaskan.

Pemerintah menargetkan besaran inflasi tahun ini berada di level 3,5 persen plus minus 1 persen. (mbb/jpnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here