Tiga Merk Sarden Ditarik Dari Pasar se-Kepri

0
364
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB), Rustam bersama pegawai DKP2KB sidak sarden ke swalayan di Tanjungpinang. f-Andri Dwi S/tanjungpinang pos

BPOM Sudah Keluarkan Surat Edaran‎

BATAM – Ikan sarden atau ikan dalam kaleng yang mengandung cacing (nematoda) di Lingga, disebut berasal dari distributor di Batam. Temuan itu kemudian disikapi  Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Batam, ‎Zarefriadi, dengan mengintruksikan penarikan ikan kaleng itu dari pasar. BPOM sendiri sudah mengeluarkan surat edaran penarikan prodik ikan kaleng.

Zarefriadi yang ditemui saat Musrenbang tingkat Kota Batam, Rabu (21/3) mengatakan, dia sudah mengintruksikan timnya ke lapangan. Dari laporan stafnya, Disperindag turun ke lapangan bersama BPOM. Namun soal kepastian peredaran ikan kaleng di Batam, apakah mengandung cacing atau tidak, diakui belum dipastikan, karena harus melalui pemeriksaan BPOM.

“Tim sudah di lapangan. Ada beberapa lokasi gudang distributor yang didatangi. Memang BPOM yang meneliti. Tapi saya minta segera ditarik dari peredaran,” tegasnya.

Soal kapan waktu penarikan ikan kaleng tiga merk itu dari pasar, Zaref tidak menyebutkan. Dia hanya menyebutkan segera. Namun dari laporan yang diterima, ada tiga merk yang di duga mengandung cacing berbahaya dalam ikan kaleng yang beredar dan diedarkan dari Batam.

“Waktunya segera ditariklah. Ada tiga merek. Tadi tim sudah turun. Yang dari Batam ini yang diedarkan ke Lingga,” cetus Jaref.

Kembali diingatkan, soal apakah ikan kaleng itu mengandung cacing atau tidak, ditangan BPOM. Selain itu, untuk bahan dasar pembuatan diteliti pihak karantina. “Kita tunggu dari pemeriksaan BPOM dan Karantina. Tapi kita minta tidak dijual sekarang. Kita tidak mau masyarakat terdampak,” tegasnya.

Sementara  BPOM Batam tertanggal hari itu, su‎dah mengeluarkan surat penarikan produk ikan dalam kaleng merk Farmerjack, 10 dan Hoki. Surat dari BPOM itu ditujukan kepada Kadis Kesehatan Provinsi Kepri dan Kadis Kesehatan Kesehatan kabupaten/kota se-Kepri. Disebutkan surat edaran itu dikeluarkan setelah beredar informasi produk ikan dalam kaleng bermasalah. Sekaligus menindaklanjuti surat dari Direktur Pengawasan Pangan Resiko Tinggi dan Teknologi Tinggi BPOM RI.

Ketiga merek ikan dalam kaleng yang ditarik, diantaranya Farmerjack. Dimana, rekomendasi penarikan dari pasar dimaksudkan karena sebelumnya sudah diambil sampling dan dilakukan pengujian oleh BPOM di Pekan Baru. Farmerjack merupakan ika makarel dalam saus tomat, diimport PT Prima Niaga Indomas. Nomor registrasi ML 543929007175 dan nomor Batch/ED, 3502/01106351356/5 Oktober 2020. Hasil uji ‎diidentifikasi, terdeteksi parasit anisakis sp.

Selain itu, ada produk IO, jenis pangan sama dengan produsen PT Mexindo Mitra Perkasa, no registrasi ML 43929070004, no Batch/ED, 370/12 Oktober 2020. Yang hasil identifikasi juga terdeteksi parasit anisakis sp. Demikian dengan produk ikan makeral dalam dalam saos tomat merek HOKI, yang diedarkan PT Interfood Sukses Jasindo dengan nomor registrasi ML 543909501660 dengan ED, 12 Oktober 2020.

Sementara Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan pihaknya sudah meminta Dinkes dan Disperindak melakukan pantauan kelapangan, terkait peredaran ikan kaleng bermasalah itu. “‎Intinya, saya minta produk yang beredar, harus kualitas terjamin. Kalau produk sampai menghasilkan cacing, tidak bisa masuk pasar,” tegasnya.

Diminta juga, barang-barang yang beredar namun tidak layak, harus disita dan dimusnahkan kemudian. Demikian dengan produk makananan yang tidak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). “Harus dimusnahkan kalau tidak memenuhi standar dan harus diberikan sanksi bagi distributor. Ijin harus dicabut dan saya sudah intruksikan pak Zaref turun kelapangan,” imbuhnya.‎(mbb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here