Tiket Feri Diskon untuk Turis

0
73
MENTERI Pariwisata Arief Yahya foto bersama dengan pengurus VITO usai Annual Meeting, Rabu (10/4). F-martua/tanjungpinang pos

Menpar Target 2 Juta Wisman Singapura

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI menyiapkan paket hot deals (Diskon) untuk 1 juta kursi feri bagi turis Singapura yang hendak berkunjung ke Kepri tahun 2019 ini.

BATAM – JUMLAH ini meningkat dibandingkan 2018 lalu sebanyak 700 ribu hot deals. Sedangkan tahun 2017 hanya 105 ribu kursi. Kemenpar juga berupa menjadi Singapura sebagai tourism hub (pusat hubungan pariwisata) ke Indonesia.

Turis-turis negara lain yang hendak berkunjung ke Indonesia khususnya Kepri bisa melalui Singapura.

Paket diskon telah disiapkan. Sebanyak 1 juta kursi feri diberi diskon. Harapannya, para turis tertarik datang ke Kepri dengan adanya diskon tiket feri tersebut.

Karena itulah, Kemenpar terus mendorong kinerja Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) untuk ikut menjadikan Singapura sebagai tourism hub ke Indonesia.

Untuk mencapai target itu, Kemenpar menyiapkan hot deals untuk Batam yang tahun lalu jumlahnya 700 ribu menjadi 1 juta jiwa tahun 2019 ini.

Hot deals ini disampaikan Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat VITO Annual Meeting di Batam, Rabu (10/4). Hadir pada kesempatan itu marketing pariwisata Indonesia di negara asing, Kepala Dinas Pariwisata se-Kepri dan lainnya.

”Kita bantu Kepri melalui hot deals. Hot deals tahun lalu 700 ribu (kursi). Tahun ini akan kita tambah menjadi 1 juta sesuai yang dipresentasikan tadi,” kata Arief.

Hanya saja, diminta agar hot deals 1 juta kursi itu harus tercapai pada pertengahan tahun ini. Selanjutnya, Kemenpar akan menambah hot deals untuk Kepri menjadi 2 juta kursi.

”Saya mau selesai di enam bulan pertama. Jadi saya akan tambah menjadi 2 juta. Susah, memang susah,” sambungnya.

Namun diyakini program itu bisa tercapai dengan strategi membagi hot deals dari Singapura dalam beberapa kategori. Diantaranya, hot deals untuk ekspatriat di Singapura, untuk orang Singapura dan lainnya.

”Untuk menarik juga, kita buat promosi dengan tawaran, hanya dengan sekitar 100 Dolar Singapura akan mendapat pemandangan indah di Batam, Bintan dan lain,” jelasnya.

Selain itu, menjadikan Singapura sebagai tourism hub dengan target 2 juta. Dimana, turis Malaysia di Singapura, orang Thailand di Singapura, orang Philippina di Singapura dan lain digeser ke Batam. Sehingga posisi Singapura dijadikan hub ke Batam dan daerah lain di Kepri.

”Singapura sebagai hub, ini agak beda. Orang Cina (wisatawan) di Singapura sudah jutaan. Kita tergetkan bergeser ke Batam. Jadi kita jadikan Singapura hub pariwisata,” harapnya.

Dengan demikian, Kemenpar optimis dengan target wisman ke Kepri bisa 4 juta tahun 2019 ini. ”Target Kepri 2,5 juta. Tapi kalau 2,5 juta, tidak akan membuat target nasional tercapai. Jadi begini, 2 juta menjadi 2,5 juta. Dari 2,5 juta menjadi 4 juta. Itu bisa kita capai,” imbuhnya.

Untuk itu, mereka memfokuskan marketing pariwisata melalui program VITO. Dimana, di negara yang diharapkan menyumbang wisman ke Batam, disiapkan marketing pariwisata Indonesia. Marketing ini mewakili Indonesia di luar negeri memasarkan pariwisata.

”Mereka untuk mewakili kita sebagai pemasaran di 16 negara dengan 20 kota. Mereka orang asli di sana atau orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sana. Karena harus paham pasar di sana. Untuk marketing, membangun hubungan dengan stakeholder,” beber Yahya.

VITO sendiri diharapkan bisa mengerjakan promosi pariwisata Indonesia secara efektif yang dapat diterima di pasar internasional. Pada pertemuan di Batam kemarin, dapat menyamakan persepsi serta mendengarkan masukan dan perkembangan VITO di tiap negara. Serta menyusun strategi untuk jadikan Singapura sebagai tourism hub.

”Pertemuan ini untuk memperkuat kolaborasi agar mendapatkan lebih banyak wisman ke Indonesia melalui hub countries dan strategi hot deals,” kata Arief Yahya.

Menpar Arief juga berharap VITO memberikan kontribusi untuk menjaring potensial market dari toursim hub, wisatawan milenial dan MICE. Serta menjual paket-paket hot deals.

”Untuk tourism hub, saya harap para VITO berkolaborasi membuat strategi dengan VITO Singapura. Contohnya VITO Cina menjual paket wisata dan menjadikan Singapura sebagai hub countries sebelum mereka singgah ke Batam atau Bintan,” kata Menpar Arief.

Kemenpar sendiri menargetkan VITO Singapura menyumbang 4 juta wisatawan mancanegara dari strategi tourism hub. Target itu terbagi dalam dua kategori, 2 juta wisman dari wisatawan Singapura dan Expatriat di sana dan 2 juta wisman dari Singapura sebagai Tourism Hub.

Toursim hub sendiri memiliki porsi 30 persen dari wisatawan asal ASEAN, Australia, dan Oceania Countries. Dan 70 persennya dari Cina, India, Korea, Jepang, Amerika Serikat dan Eropa.

”Kalau kita ingin memasuki suatu negara, kita harus tahu betul karakter negara tersebut. Kita harus paham betul selera pasar kita. Umur berapa, sukanya apa, pemandangan, belanja, makanan, semua itu harus dipahami,” kata Arief Yahya.

Kunjungan turis ke Kepri masih didominasi turis Singapura. Adapun jumlah kunjungan turis ke Kepri tahun 2018 sebanyak 2.635.664 Orang. Jumlah ini naik 23,16 persen dibandingkan tahun 2017 sebanyak 2.139.962 orang.

Paket hot deals menjadi salah satu strategi khusus Kemenpar untuk menjaring wisman dari cross border atau daerah perbatasan NKRI sekaligus mengejar target 2 juta wisman Singapura dan 2 juta wisman dari Singapura tourism hub.

Promosi yang gencar sudah tidak terelakkan mengingat negara kompetitor Indonesia seperti Thailand, Vietnam, dan Singapura sudah semakin gencar membidik pasar Singapura.

Paket hot deals bertujuan untuk mengisi kursi kapal feri yang banyak kosong (idle capacity) di hari kerja (weekdays).

Oleh karena itu dalam menjalankan programnya, Kemenpar bekerja sama dengan operator kapal penyeberangan dari Batam-Bintan-Tanjungpinang ke Singapura dan Malaysia.

Selain banyaknya kursi kosong di kapal feri, pada hari kerja tingkat hunian hotel juga biasanya rendah. Sementara biaya operasional hotel tetap sama meski kunjungan banyak atau sedikit, oleh karena itu hotel juga dilibatkan pada program ini.

Paket hot deals ditawarkan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam-Bintan-Tanjungpinang.

Sikapi Limbah Minyak Hitam di Kawasan Wisata
Pantai di Batam termasuk pantai tempat wisata seperti Turi Beach Nongsa ditemukan limbah B3 sludge oil. Kejadian ini terjadi hampir tiap tahun di pantai Batam dan Pantai Lagoi Bintan.

Crisis Centre pariwisata di Batam nantinya diharapkan bisa menyikapi permasalahan ini. Pembentukan crisis centre ini diharapkan dapat mempercepat penanganan yang mengganggu pariwisata.

Desakan itu disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Rabu (10/4) di Batam. Diminta agar instansi pariwisata Batam dan Kepri, lebih peka terhadap potensi gangguan dunia pariwisata. Termasuk limbah minyak hitam yang mengotori pantai. Sehingga mempengaruhi dunia pariwisata.

”Segera dibentuk Crisis Centre itu. Koordinatornya Pak Guntur Sakti. Dispar Batam dan Kepri koordinasi untuk mendirikan forum manajemen krisis seperti di Kemenpar,” imbaunya.

Diingatkan, crisis centre ini tidak harus ada masalah baru dibentuk. Namun penting didirikan untuk menyiapkan langkah antisipasi. ”Ini penting segera. Manejemen crisis centre itu akan melatih kewaspadaan kita,” sambung Arief.

Pemerintah daerah juga diminta peka dengan persoalan yang bisa mengganggu pariwisata. Terlebih daerah Batam dan Kepri merupakan salah satu pintu masuk wisman.

Seperti limbah B3 di perairan Batam, diminta lebih diperhatikan dan langkah antisipasi serta penanganan penting segera disiapkan.

”Dispar Batam dan Kepri harus lebih tahu dulu ini sebelum kami di kementerian,” pesannya.

Pihaknya diakui sudah mengumumkan daerah yang diperlukan crisis centre pariwisata. Salah satunya Provinsi Kepri. Daerah diakui, bisa mengadopsi yang dijalankan Kemenpar saat ini. ”Sehingga lebih cepat dalam menangani permasalahan yang ada saat ini,” harapnya.

Sementara Kepala Biro Komunikasi Publik (Komblik) Kemenpar RI, Guntur Sakti mengaku sudah menyusun standar operasional crisis centre. Tujuannya, mendorong Dispar bisa menyikapi problem yang terjadi di daerahnya.

”Sehingga tidak mempengaruhi ekosistem. Crisis centre ini menjadi mitigasi di sektor pariwisata,” harap Guntur.

Menurutnya, pihaknya sudah memetakan daerah dengan potensi gangguan terhadap pariwisata. Sehingga forum atau crisis centre ini nantinya dapat menjaga iklim pariwisata tetap kondusif. ”Ketika berdampak pariwisata, maka manajemen krisis yang melakukan penanganan,” kata dia.

Untuk Batam sendiri diakui, pembentukan crisis centre, lebih ke greet pariwisata. Greet pariwisata sebagai bentuk crisis centre, bisa menjadi bagian upaya yang dilakukan menangani gangguan di Batam, atas pariwisata. Termasuk untuk membantu penanganan limbah di pantai.

”Tapi greet pariwisata Batam dan Kepri nanti akan lebih banyak menangani seperti demo tahunan soal UMK. Demonstrasi itu mengganggu pada pariwisata. Selain isu demonstrasi, sempat polemik transportasi online,” imbuh Guntur mengakhiri.(MARTUA BUTAR BUTAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here