Tinggal Tunggu Waktu, Mata Dunia SegeraTertuju ke Kabupaten Natuna

0
454
SALAH seorang pengunjung menikmati keindahan tebing Tanjung Tajuk di Kabupaten Natuna, baru-baru ini. F-Hardiansyah/Tanjungpinang pos

BERSAMA SKK MIGAS, GEOPARK BERSINAR DI PERBATASAN UTARA NKRI

Ribuan bahkan diperkirakan jutaan tahun lalu ombak maupun air hujan serta cuaca sedikit demi sedikit mengikis bebatuan itu hingga terbentuk tebing berlapis-lapis.

HARDIANSYAH, Natuna

TEBING itu kini jadi tempat penghilang rasa penat. Angin sepoi-sepoi menyapu rasa gundah di hati. Air laut berwarna kebiru-biruan itu membawa pikiran sangat jauh untuk menyelami isinya.

Bermil-mil, bahkan ratusan mil perairan itu menyimpan sejuta potensi. Dari atas bebatuan yang kokoh itu mata tidak pernah lelah, tidak pernah bosan menikmati keindahannya.

Banyak kata-kata yang ingin terucap untuk menggambarkan keindahannya. Tapi tidak bisa teruntai kecuali hanya kepuasan diri saat memijakkan kaki di sana sambil menikmati keindahan hamparan lautan yang masih murni tersebut.

Tanjung Tajuk. Itulah nama objek wisata yang eksotis itu. Lokasinya di Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna. Pengunjung yang datang ke sana banyak yang menamainya Grand Canyon Natuna karena dianggap mirip seperti yang ada di utara Arizona, Amerika Serikat itu. Keindahan Tanjung Datuk makin melengkapi seluruh destinasi wisata di Natuna. Tanjung Datuk ini merupakan salah satu geosite Indonesia yang ada di perbatasan Utara ini.

Masih ada geosite lainnya di Natuna seperti Geosite Batu Kasah, Geosite Pulau Akar, Geosite Senubing, Geosite Pulau Senoa dan Geosite Tanjung Datuk. Selain itu ada juga Geosite Pulau Sedanau, Geosite Gunung Ranai dan Geosite Pantai Gua.

Geosite Batu Kasah berada di Desa Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan. Lokasi ini menjadi objek wisata dengan pemandangan yang memadukan hamparan pasir putih, dengan susunan bebatuan granit alami.

Bebatuan yang sangat sulit menentukan usianya. Terkadang pengunjung naik ke bebatuan itu sambil menunggu matahari terbenam dan ditemani suara ombak yang pecah di bawah batu tersebut.

Adapun Geosite Pulau Akar terletak di Desa Cemaga, Bunguran Selatan. Geosite ini merupakan pulau kecil tanpa hamparan pasir putih. Pulau ini berpondasikan batu-batu. Di tengahnya ada pepohonan. Hamparan laut hijau kebirubiruan mengelilinginya.

Semua geosite ini merupakan taman geologi atau taman bumi yang disebut Geopark. Pada November 2018 lalu, Geopark Natuna ini telah diakui dan ditetapkan menjadi Geopark Nasional oleh Komite Nasional Geopark Indonesia.

Tidak banyak di Indonesia yang seperti ini. Bahkan untuk Provinsi Kepri, Geopark Nasional hanya ada di Natuna. Anugerah yang tak ternilai. Inilah salah satu harapan baru yang akan menjadikan Natuna menjadi tujuan wisata terpenting nantinya.

Sebagai Taman Bumi Nasional yang sudah ditetapkan pemerintah pusat, impian besar masih menanti di depan. Tak cukup hanya dijadikan taman bumi nasional.

Karena seluruh geosite di Natuna, sangat layak ditetapkan masuk daftar Unesco Global Geopark (UGG) karena keragaman geologi, keragaman hayati dan keragaman budayanya.

Potensi dan kesempatan ini tidak disia-siakan Pemkab Natuna. Mereka berkolaborasi dengan SKK Migas K3S yakni MedcoEnergy Oil and Gas serta Premier Oil untuk memolesnya.

Bupati Natuna, Hamid Rizal mengatakan, jangan puas diri setelah geosite di Natuna ditetapkan sebagai Geopark Nasional.

”Kita semua harus serius dalam pengembangan Natuna. Masih banyak tugas kita. Ada tujuan besar dan kita harus melangkah maju menuju Unesco Global Geopark. Jika, statusnya sudah Global Geopark, maka Natuna akan semakin diakui dunia,” ujar Hamid Rizal saat membuka Seminar Geopark yang digelar Disparbud Kabupaten Natuna di Gedung Sri Srindit Ranai, tahun lalu.

Baca Juga :  Menghina Presiden dan Calon Walikota

Saat itu Bupati mengatakan, Natuna merupakan daerah yang terletak di wilayah perbatasan yang memiliki banyak aset-aset berharga dan potensi yang sangat tidak ternilai yang perlu dijaga, dikembangkan serta dikelola dengan baik yang akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, baru lima geosite di Indonesia yang telah mendapat pengakuan dunia dan ditetapkan masuk dalam Global Geopark (UGG) yakni, Kaldera Danau Toba, di Provinsi Sumut, Ciletuh di Suka Bumi, Rinjani di Lombok, Gunung Sewu di Yogyakarta serta Batur di Bali.

Perjuangan agar geosite Natuna masuk UGG masih terus dilakukan. Peluang itu makin terbuka lebar saat Presiden Global Geopark Network UNESCO, Guy Martini berkunjung ke Natuna tahun 2019 lalu dengan meneliti sejumlah bebatuan di Geosite di Tanjung Datuk.

Saat itu Guy Martini langsung meninjau empat site geopark yakni Site Jelita Sejuba, Mangruve Semitan, Tanjung Datuk dan Alife Stone.

Ia mengatakan, keindahan alam Natuna terbentuk dengan sendirinya. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan semaksimal mungkin.

”Alam Anda indah, kebudayaan Anda mempesona. Tinggal dikelola dan mengelolanya dengan baik agar bisa menjadi geopark global. Terima kasih atas sambutan hangatnya,” kata Martini pada acara Jamuan Makan Siang di Site Jelita Sejuba, Desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur, saat itu.

Ia mengemukakan, tujuannya ke Natuna yakni untuk melakukan kajian awal dengan mengobservasi site-site yang ada sebagai langkah awal pembentukan sebuah geopark global.

”Kami ingin melihat alam Natuna secara langsung untuk mengumpulkan informasi dan data sebagai keperluan tindakan assessment selanjutnya. Kami akan mendatangi dan mengamati sejumlah site selama di Natuna,” kata Pria yang juga berprofesi sebagai Assessor Geopark UNESCO itu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna Hardinansyah saat di konfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (25/8/2020) mengatakan, pembangunan dan pengembangan kawasan geopark bukan hanya tugas pemerintah daerah.

Tetapi juga harus mendapat dukungan dari berbagai kalangan terkait, mulai dari pemerintah desa, masyarakat hingga pihak swasta, sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

Sebagai destinasi wisata, maka untuk mengembangkan geosite ini tetap memperhatikan tiga sektor penting yakni, atraksi, amenitas dan aksesibilitas.

Aksesibilitas adalah kemudahan bagi pengunjung untuk mencapai tujuan wisata dan menghubungkannya dengan tujuan lain, sehingga pengunjung makin puas.

Disinilah banyak peran SKK Migas maupun perusahaan migas mitranya itu. Mereka ikut melengkapi destinasi wisata agar makin banyak kemudahan yang didapatkan pengunjung.

Bupati melalui Badan Pengelola Geopark Natuna yang dibentuknya melakukan kerja sama dengan SKK Migas melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) dalam pembuatan penunjuk arah geosite dan pembangunan plang ‘Selamat Datang ke Geopark Natuna’.

Pembangunan tugu area migas Pantai Piwang, Plang nama untuk 8 Geosite, Plang Penunjuk Arah Geosite, Bunker dan Tandon Air di Batu Kasah, PLTS Batu Kasah dan Pulau Akar.

Kemudian, membangun pelantar menuju Geosite Pulau Akar, pembuatan Brosur Geopark Natuna, pembuatan Landmark Geosite di Natuna.

Selain itu, SKK Migas dan K3S memberikan bantuan benih bibit ikan patin, bantuan masker untuk tenaga medis dan masyarakat Natuna, pembagian sebanyak 1.000 lebih sembako bagi warga terdampak Covid-19.

Baca Juga :  Proyek TMMD Ke-103 Tinggal Finishing

Juga ikut menyelenggarakan sosialisasi Geopark Nasional Natuna untuk segenap elemen masyarakat, OPD, anak sekolah, pemuka masyarakat, pelaku usaha.

Pemkab dan masyarakat juga sedang menyiapkan amenitas, atau berbagai fasilitas di luar akomodasi yang dapat dimanfaatkan wisatawan selama berwisata di sana.

Amenitas itu berupa fasilitas pariwisata seperti rumah makan, restoran, toko cinderamata, dan fasilitas umum seperti sarana ibadah, kesehatan, taman, dan lain-lain.

Kemudian, atraksi atau daya tarik keindahan alam sudah tak diragukan lagi. Untuk daya tarik event akan terus dikembangkan seiring pulihnya sektor wisata nanti.

Pemkab juga menyelenggarakan workshop Geopark Natuna, Pembuatan TVC atau video Promosi Geopark Natuna, pembuatan direktori untuk menyosialisasikan Geopark Natuna kepada masyarakat diantaranya adalah Standing Banner, Rolling Banner, Brosur, Baliho, Wallpaper, Spanduk, Leaflet dan Paper bag.

Dilakukan juga pelatihan pengelolaan geowisata kepada masyarakat desa sekitar geosite/Pokdarwis, publikasi geopark Natuna di media elektronik seperti televisi nasional dan RRI serta di media cetak dan publikasi Geopark Nasional melalui jejaring media sosial milik dinas/instansi, pelaku usaha wisata maupun penggiat pariwisata dan masyarakat umum yang berpartisipasi menyebarluaskan informasi seputar Geopark Nasional Natuna.

Hardinansyah mengatakan, sekarang ini Pemkab Natuna tengah gencar membangun berbagai site geopark di seantero daerah. Dengan dukungan bersama SKK Migas dan K3S Migas Sumbagut, diharapkan dengan sistem ini diyakini ampuh untuk melestarikan kehidupan dan alam.

”Kita sangat bersyukur dan berterimakasih atas peran serta SKK Migas dan K3S dalam memberikan sentuhan pada setiap lokasi geopark yang ada di Natuna,” ujarnya, Selasa (25/8).

Hardinansyah menyampaikan fungsi-fungsi geopark berorientasi pada pelestarian dan keberlangsungan kehidupan yang sejahtera seperti melawan kerusakan lingkungan, transformasi ekstraktif ke konservatif dan pengayaan intelektual bangsa melalui edukasi non formal maupun semi formal.

Kemudian ada juga fungsi lain, yakni geopark berfungsi untuk membangun ekonomi kerakyatan dan berfungsi melakukan revolusi mental bangsa.

Ia menyakini pengembangan berikut keberlangsungan dan kemanfaatan geopark Natuna akan dapat berjalan aman dan lancar karena dalam satu site geopark semua orang akan berperan dan mendapatkan hasil dari situsnya masingmasing.

”Atas latar belakang ini lah kami di Natuna tergerak untuk membangun site geopark sebanyak-banyaknya. Dan Banyak orang bertanya bagaimana menjaga keberlangsungan site geopark dari ancaman perusakan alam,” tambahnya.

”Kami jawab, sistemnya susah ada karena yang paling berperan di sebuah site adalah masyarakat itu sendiri. Mereka berada digaris depan menjaga kelestarian alam. Dengan begitu, alam dan kehidupan Insya Allah akan tetap aman,” paparnya.

Hardinansyah menyebut Geopark Natuna mengusung konsep konservasi, edukasi dan ekonomiberkelanjutan karena Natuna memiliki potensi geodeversity, biodeversity dan cultur deversity.

Dengan tujuan pencarian, pelestarian dan pemanfaatan geodeversity dan biodeversity bisa terwujud karena memastikan Natuna kaya dengan dua unsur alam di atas.

”Tujuan utama kami mengembangkan geopark ini adalah untuk mengeksplorasi, mengembangkan dan mengoptimalkan keterkaitan antara warisan geologi, warisan alam, warisan budaya dan warisan budaya intangible (tak berbenda). Dari sinikesejahteraan masyarakat akan terangkat,” jelasnya.

Baca Juga :  Pelabuhan Kepri Terpadat Indonesia

”Target kita dalam waktu dekat ini dapat membangun 20 geosite untuk syarat masuk di Unesco Geopark Global (UGG). Saat ini masih berstatus nasional, mudah-mudahan proses ke global ini berjalan lancar,” harapnya.

Pembenahan geopark terus diseriusi Pemkab maupun SKK Migas K3S. Siapa sangka, alam Natuna yang dulu tidak dianggap apa-apa itu sekarang sudah bersinar.

Usaha mereka tidak akan sia-sia. Tinggal menanti waktu. Semua mata akan tertuju pada sinar yang memancar dari seluruh geopark itu. Terlebih nanti setelah ditetapkan sebagai Geopark Dunia, seluruh mata dunia akan tertuju ke Natuna.

Nama-nama geosite site itu akan melejit. Nama-nama itu akan muncul di berbagai negara di dunia. Konglomerat dunia, artis dunia, politisi dunia, olahragawan dunia akan mencari dan mengunjunginya.

Masyarakat Natuna harus bersiap-siap. Karena Natuna akan ditimbun dengan uang yang dibawa para wisatawan. Inilah berlian Natuna yang sesungguhnya. Bongkahan alam yang akan segera bersinar di seluruh dunia.

Apalagi pernah terlontar bahwa Kabupaten Natuna dengan beragam keindahan alam dan lautnya tidak kalah dari keindahan Nusa Dua Bali.

Hal tersebut sempat disampaikan oleh artis nasional Didi Petet ketika berkunjung ke Natuna sebelum meninggal dunia.

Almarhum Didi Petet pernah mengatakan kalau Natuna jangan hanya bangga karena sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi saja.

Tetapi Natuna harus lebih bangga dengan kekayaan yang dimilikinya yang jauh lebih besar dibanding minyak dan gas bumi yakni berupa alam dan pantai yang sangat alami dan eksotis.

Apa yang dikatakan Almarhum Didi Petet memang ada benarnya. Secara geografis, Natuna memang terdiri dari pulaupulau kecil yang memiliki hamparan pantai dengan pasir putih yang cukup cantik.

”Bahkan kalau boleh saya katakan, pantai di Natuna ini terbaik dan terindah nomor dua setelah Bali. Pantainya bersih dengan air laut yang jernih dan jauh dari pencemaran,” jelas Didi Petet ketika berkunjung ke Natuna saat itu.

Karena keindahannya itu, tidak hanya artis Didi Petet yang kepincut, tetapi juga ratusan wisatawan manca negara yang dalam waktu tertentu datang ke Natuna untuk menikmati panorama pantai dan alam Natuna yang mempesona.

Wisatawan manca negara ini datang dengan rombongan dengan fasilitas kapal pesiar yang berkeliling ke pulau-pulau kecil dengan pantai yang indah di Natuna.

Mereka biasanya mengambil rute perjalanan dari Singapura, Natuna, Anambas yang akhirnya ke Pulau Bali.

Salah satu tempat favorit di Natuna bagi turis asing yang ikut tour keliling kapal pesiar Orion dengan nama lambung kapal Mick Fogg ini adalah Pulau Senoa dan Senubing.

Di pulau tersebut wisatawan asing dengan bebasnya menikmati deburan ombak sedang yang memecah pantai pasir putih yang landai dan bersih.

Kondisi alamnya yang betul-betul alami dengan kekayaan laut di Senoa yang diwarnai berbagai jenis ikan, menambah suasana surgawi bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau tersebut.

Sebagian wisatawan malahan enggan beranjak pulang karena keindahan yang ditawarkan begitu mempesona dan begitu menarik.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here