Tradisi, Modernisasi dan Panggung Politik untuk Islam?

0
800
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri
Anggota ICMI Tanjungpinang

Sebesar apapun perihal perbedaan, kita sepakati dulu bahwa sebuah agama selalu dapat meleburkan. Tak ada paguyuban atau organisasi yang dapat melebihi kekuatan ikatan agama. Ia mengatur seluruh sendi kehidupan bagi mereka yang percaya. Semua orang dengan latar keluarga, pendidikan, profesi bahkan penghasilan berbeda membaur untuk mengikat dirinya secara sadar dan bahagia.

Terkait perbedaan, ada sedikit deskripsi penganut agama, khususnya Islam, dalam perspektif saya. Pertama, tipikal manusia modern; orang – orang yang siklus hidupnya berada dalam cangkang; selalu penasaran informasi terkini, pola fikir ego sentral nan praktis ekonomis serta sangat tergantung dengan tuntutan zaman. Mereka yang juga terbiasa menyerap perbedaan serta memaksimalkan seluruh pengetahuan terbaru untuk eksistensi kehidupannya.

Lainnya, tipe tradisional. Perkembangan terakhir, para pejalan tradisi khususnya mereka yang aktif dalam gerakan sosial (Muslim), memfokuskan diri bagaimana caranya religiusitas bisa lebih banyak diakomodir dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tradisi dalam tulisan ini menggunakan tolok ukur tradisi menurut konsep Ketua ICMI Pusat 1995 – 2000, M. Dawam Rahardjo, yakni mereka yang setia terhadap sistem perilaku, kepercayaan, kelembagaan atau keterampilan yang dialihkan secara turun temurun dari generasi sebelumnya dan akan diwariskan sebagai warisan kaumnya dimasa mendatang.

Sebenarnya, pemetaan dua tipe kawan – kawan ini tak terlalu penting, hanya semacam tapis untuk membuat secangkir kopi enak yang tidak terlalu tebal ampasnya. Toh, kenikmatan kopi itu bermuara dari hasil saringan dan endapannya sekaligus. Disitulah kekuatannya dan kopi tetaplah menjadi nikmat kopi, selama tak dicampur perisa aneh lainnya. Kopi tetaplah kopi kendati ada citra modern tapi berpandangan tradisi yang ketat ataupun sebaliknya, fisiknya tampak seperti tipe tradisi tetapi sebenarnya bergenre modern.

Baca Juga :  Masih Pantaskan PSBB di Laksanakan Lagi?

Kawan itu semua adalah kesatuan yang unik. Mereka equal, dan sekaligus penikmat. Hanya saja, mereka memiliki lubang saring yang berbeda untuk menikmati sebuah rasa, kendati wadahnya sama. Hari ini, digitalisasi mewakili proses modernisasi.

Merubah pola komunikasi individu dan negara. Semua berkumpul dalam cangkir yang sama yang bernama media sosial (medsos). Lalu, terkait argumentasi atau hegemoni identitas akan selalu muncul disana, dimana kerap kali banyak pihak merasa solusi terbaik bersumber darinya; yang terdekat dengan kebenaran hakiki.

Tak bisa dipungkiri medsos juga merupakan instrumen untuk mempertegas jatidiri kelompok di era ini. Saya dan siapapun yang merasa mencintai Islam, ataupun sahabat beragama lain yang juga mencintai keyakinannya, kerap terpancing dengan seliweran pendapat, cacian hingga sengkarut pertengkaran di dunia maya. Belum lagi ditambah infiltrasi akun bodong yang dipelihara untuk kepentingan tertentu, memupuk kebencian dan hendak menuai perpecahan.

Islam dan Tempias Politik
‘Gerakan Islam’ dan Islam itu sendiri selalu berhadapan dengan tiga dimensi; Islam sebagai agama, tradisi dan modernitas. Dalam Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial (1999), Dawam menyebutkan dari perspektif gerakan Islam yang diamatinya, fenomena tradisi merupakan sesuatu yang dipandang perlu untuk dikoreksi oleh aktivis pergerakan. Dicontohkan misalnya, masalah (baru) tampak ketika lahir gerakan Muhammadiyah yang kala itu melihat unsur – unsur bid’ah yang tidak tepat disejalankan dengan ajaran tauhid. Lalu, pandangan ‘modernis’ Muhammadiyah kala itu menimbulkan reaksi dikalangan ummat yang ingin memelihara tradisi Islam, dilakukan oleh Nahdhatul Ulama dengan argumentasinya.

Baca Juga :  Nelayan Adalah Pahlawan Protein Bangsa

Dalam bukunya Dawam mendorong agar orang berfikir komprehensif. Bagi siapapun Muslim hemat saya, modernisasi merupakan kepastian yang takkan terhindari, tetapi perbedaan hanya dapat dijalani dengan toleransi: Islam yang bersatu dengan tidak melabelkan stigma perusak baik kepada pejalan tradisi atau pejalan modernisasi maupun paham lainnya, selama masih bisa menikmati secangkir kopi.

Modernisasi hari ini juga telah menjelma menjadi kebebasan berpendapat. Muslim dan siapapun itu menikmatinya. Begitu pula penganut paham – paham lainnya; akan selalu ada yang mengambil peran dalam tiap layar dan text.

Ciri adalah sebuah simbol dari eksistensi kehidupan. Jadi, jangan heran akan ada yang selalu berperan total dengan menitikberatkan dirinya jadi apapun yang diyakininya. Pemeran yang bercorak tradisional, bahkan ortodoks. Juga modernis atau westernis.

Baca Juga :  Demokrat Bukan Partai Biasa

Bahkan modernis sekaligus westernis. Buat pengguna medsos, selama kita yang menilai terus berjalan, memperhatikan, bertanya dan belajar dengan kesejukan, inshaallah akan baik – baik saja.

Mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang menjadi berkah bagi kehidupan semesta menurut konsep Muslimin adalah keniscayaan. Tiap generasi selalu diingatkan seperti itu, hingga generasi hari ini. Untuk apa menjunjung mati hegemoni pendapat individu atau kelompok sendiri apabila secara perlahan menghancurkan Islam? Idealnya, tak ada yang diuntungkan atau terpojok jika penganut Islam semakin solid. Karena Ia membesar untuk dirinya sendiri, bukan laba bukan pula ancaman untuk pihak lain.

Ranah agama bukan seperti berakrobat sekelebat di pentas politik, yang hanya disibukkan dengan rasa penasaran siapa pemenang siapa pecundang dan berpegang pada idealisme yang akrab dengan intrik. Maqamnya tinggi.

Bukan pula tentang orang dia atau orang saya dan orang mereka. Terlalu kerdil sebuah agama untuk remeh temeh semacam itu. Masih banyak spektrum dan pendaran warna yang harus dijaga kerapatannya dengan kepala saling merunduk, agar agama terus membimbing, tanpa merasa memperalat atau diperalat. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here