Tuah dan Jebat, Saat Integritas Saja Tak Cukup

0
463
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh: Mohammad Endy Febri
Pengguna Media Sosial

Di suatu masa, tercatat hikayat wira Melayu yang bernama Hang Tuah yang berhasil membunuh Taming Sari, seorang jawara sakti dari tanah Jawa yang berbuat onar di Kerajaan Melaka. Setelah berhasil menumpas musuhnya, Tuah diutus Sultan Melaka ke Negeri Pahang untuk menemui Tun Teja Ratna Benggala, wanita yang akan dijadikan permaisuri oleh Sultan.

Saat Tuah di Pahang, kekasih Tuah, Melur, yang bersemayam di Gunung Ledang turun mencari Hang Tuah. Lalu, karena kecantikannya, Melur ‘diselamatkan’ oleh Tun Ali dan atas pengaruh siasat Patih Karma Vijaya, gadis itu dijadikan gundik oleh Sultan.

Atas muslihat Tun Ali pula, sekembalinya Tuah, ia menemui Melur dan dijebak. Singkat cerita, akibat bual sang Patih, Melur dan Hang Tuah dihukum mati oleh Sultan. Tuah difitnah berzina dengan Melur yang telah menjadi milik Sultan. Namun, hukuman mati tak dieksekusi oleh Datok Bendahara. Hang Tuah diselamatkan dan menetap di hutan Hulu Melaka.

Menurut Hikayat Hang Tuah, tak lama setelah Hang Jebat, saudara Tuah dilantik oleh Sultan menjadi Laksamana menggantikan Tuah dan mengetahui Tuah teraniaya, Hang Jebat kemudian durhaka kepada Sultan dan mengambil alih istana.

Tak ada pendekar atau panglima Melaka yang dapat merubuhkannya, sebab Jebat menjadi kebal karena kehebatan keris Taming Sari. Sultan Mahmud akhirnya melarikan diri dan berlindung ke rumah Bendahara. Dari penuturan bendahara, barulah Sultan sadar ia telah salah langkah dan ia tahu Tuah masih hidup. Tuah dipanggil pulang menghadap dan dititahkan membunuh Jebat, karena saudaranya itu telah melawan Sultan. Dengan segenap loyalitasnya, di akhir cerita Tuah berjaya merebut Taming Sari dan membunuh Jebat, saudara terkasih.

Jika pertikaian Tuah, Jebat dan Sultan terjadi di era media sosial, mungkin nuansa fragmen kisahnya tak banyak berubah. Tetap menyisakan kepedihan, amarah dan pengkhianatan. Tiga tokoh simpatik ini dapat dihancurkan oleh karakter Tun Ali dan Patih. Syukurlah ada Datok Bendahara, walaupun watak tipikal ini selalu datang terlambat sebagai penyelamat di tiap cerita.

Tokoh-tokoh yang memanfaatkan keadaan untuk syahwat pribadi atau golongan sangat banyak di media sosial. Dari level RT hingga dunia. Baik secara personal maupun terstruktur, untuk ‘kebutuhan’ sosial, budaya, ekonomi hingga politik. Jangankan etika, informasi atau opini selalu bernafaskan siasat dan kebohongan yang muaranya penggiringan opini. Darimana kita bisa memulai agar kisah Tuah dan Jebat tak terulang lagi?

Pendidikan Karakter
Jika Tuah dan Jebat muda ditempa dengan kerasnya peperangan dan semangat ksatria yang terus bergejolak di Melaka dan semenanjung Melayu, tak heran sikap yang tumbuh adalah karakter yang keras dan kompetitif, entah memperalat atau sebagai alat. Tetapi persamaannya, mereka sama-sama konsisten memperjuangkan nilai kebenaran yang dianutnya. Malangnya, konsistensi dan integritas saja tak cukup hari ini. Kita harus paham posisi; netral, memanfaatkan atau dimanfaatkan?

Disinilah pentingnya pendidikan karakter buat pemuda-pemudi sejak dini. Agar generasi selanjutnya tak mudah sesak dan penuh secara emosional lalu ditunggangi kerangka logika yang dibentuk oleh maksud tak baik.

Tak berlebihan rasanya apabila dapat muncul kurikulum pendidikan, entah program satu tahun di kelas delapan atau sembilan yang khusus mengajarkan etika sosial, termasuk di dalamnya etika bersosial media. Pelajar diarahkan memahami karakter berita bohong atau hoax maupun nuansa siasat terselubung di balik pendapat maupun pemberitaan yang menyasar masyarakat dalam proses penggiringan opini.

Saat beranjak dewasa, setelah bercampur dengan dinamika kemasyarakatan yang sesungguhnya maupun himpitan ekonomi, mereka tidak jadi pemaki yang andal di media sosial atau tidak terlibat dalam tim hoax terstruktur untuk kepentingan tertentu. Minimal, secara individual dapat memahami arah gerak sebuah informasi atau pendapat yang muncul.

Media sosial adalah teman setia para pemilik telepon genggam. Artinya, hampir dipastikan manusia usia produktif telah menggunakan media sosial, di seluruh dunia. Tak heran para pihak yang membutuhkan nama besar, pasti menggunakan wadah tersebut sebagai alat untuk memengaruhi orang lain. Telah bergeser dari zaman sebelumnya, yang bergantung penuh pada media mainstream.

Mereka yang membutuhkan lirikan publik, berlomba-lomba mengejar follower dan subscriber untuk mengekalkan potensi dan pengaruhnya. Mereka baru tersadar bahwa popularitas sejati mulai memasuki ruang dunia maya. Malah, pemilik follower dan subscriber yang sesak menjadi sorotan media utama hari ini. Membuat aktifis idola didunia maya sanggup mewarnai pola fikir para simpatisannya.

Dengan seluruh seliweran kepentingan dan informasi yang diproduksi, warganet harus pintar memilih dan memilah mana informasi yang sebatas aksesoris di timeline atau benar – benar kabar yang jauh dari nafsu tertentu. Dengan melahirkan generasi yang memahami alur berfikir, para pemain watak seperti Tun Ali dan Patih tak bisa lagi membuat kegaduhan. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here