Tuberkulosis Sebagai Isu Kesehatan Global

0
362
Gito Prasetyo

Oleh: Gito Prasetyo
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP UMRAH

Setiap tanggal 24 Maret kita memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia untuk mengenang jasa Dr. Robert Koch yang pada tahun 1882 menemukan bakteri penyebab Tuberkulosis, Mycobacterium Tuberculosis.Setiap tahunnya, Hari Tuberkulosis Dunia dijadikan momentum untuk menguatkan gerakan memberantas dan mengendalikan penyakit Tuberkulosis. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi upaya dan pencapaian pengendalian penyakit Tuberkulosis diseluruh dunia.Penemuan Dr. Robert Koch tersebut juga dianggap sebagai langkah penting dalam sejarah kesehatan karena penemuan bakteri mycobacterium tuberculosis tersebut menjadi awal dari penelitian untuk menegakkan diagnosa medis Tuberkulosis untuk menemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Hal ini sangatlah penting karena sebelum penemuan bakteri mycobacterium tuberculosis, penyakit ini dipercaya menyebabkan satu dari tujuh kematian orang didunia.

Penyakit Tuberkulosis memang menjadi salah sUMRAsu kesehatan global. Pasalnya, meskipun sejak lebih dari setengah abad yang lalu telah ditemukan obat-obatan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit Tuberkulosis. Akan tetapi, pada kenyataannya penderita penyakit Tuberkulosis masih tinggi. Diperkirakan jumlah orang yang meninggal dunia karena penyakit Tuberkulosis ada di angka 1,5 juta hingga 2 juta, diperkirakan terdapat sekitar 9 juta orang penderita penyakit Tuberkulosis dan hampir 500 ribu orang menderita penyakit Tuberkulosis dengan resisten obat.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacteriumtuberculosis,yang berkembang biak di dalam bagian tubuh di mana terdapat banyak aliran darah dan oksigen. Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui udara. Ketikaseseorang terkena penyakit ini, ia mengalami batuk, bersin, atau aktivitas lain yang mengeluarkan air liur di udara.

Sehingga droplet air liur yang mengandung bakteri mycobacterium tuberculosis dapat keluar. Tetapi ketika seseorang menghirup udara yang terdapat bakteri penyebab penyakit ini, bakteri tersebut tidak akan langsung menginfeksi tubuh melainkan dapat berada pada kondisi Tuberkulosis laten, suatu kondisi yang dikatakan belum berbahaya tetapi pada beberapa kasus, dokter dapat meresepkan obat untuk membasmi bakteri Tuberkulosis yang ada sebelum bakteri ini aktif. Tuberkulosis menyerang orang dengan faktor resiko penyulit, seperti pasien dengan kelainan yang melemahkan sistem kekebalan, orang yang memiliki kontak dengan penderita TB aktif, orang yang hidup atau bekerja di daerah padat penduduk, mereka yang memiliki akses hingga tidak mempunyai akses sama sekali terhadap pelayanan kesehatan yang memadai, penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, serta orang yang bepergian ke daerah dimana kasus TB mewabah.

Tuberkulosis tidak hanya terjadi pada paru-paru melainkan juga dapat dialami dibagian tubuh lainnya seperti tulang dan otot. Adapun tanda dan gejala dari Tuberkulosis paru-paru di antaranya adalah lemah, berat badan turun, nyeri dada, dan batuk hingga mengeluarkan dahak, sementara tanda dan gejala Tuberkulosis dibagian tubuh lain selain paru-paru, tanda dan gejala tersebut berbeda tergantung dari bagian tubuh yang terkena bakteri ini.

Dibanyak negara, Tuberkulosis umumnya dideteksi dengan menganalisa cairan yang keluar dari paru-paru yang disebutkan sputum, di bawah mikroskop. Namun menurut organisasi kesehatan dunia, diagnosa ini tidak mendeteksi sebuah bentuk Tuberkulosis, dan mendeteksi Tuberkulosis yang resisten terhadap berbagai kombinasi obat (MDR-TB) lebih sulit. Bila fasilitas tersedia, pemeriksaan x-ray dada bisa digunakan untuk melihat adanya tanda-tanda di paru-paru. Tuberkulosis yang resisten terhadap kombinasi obat (MDR-TB) adalah jenis Tuberkulosis yang disebabkan oleh bakteri yang tidak bereaksi terhadap obat standar. MDR-TB ini disebabkan karena pengobatan yang tidak benar, termasuk penggunaan obat yang salah, ataupun kualitas obat yang tidak memadai.

Para ilmuwan menemukan bukti adanya Tuberkulosis dalam mumi di Peru dan Mesir. Sebuah laporan yang diterbitkan tahun 2009 menyebutkan Tuberkulosis kemungkinan besar menjadi sebab meninggalnya Irtyersenu yaitu seorang wanita yang hidup 100 tahun sebelum masehi dan dikuburkan di Thebes.Di Papua Nugini, dua masalah terbesardalam memberantas Tuberkulosis adalah kurangnya investasi dilayanan kesehatan utama, dan meningkatnya bakteri yang tahan terhadap obat.

Ada 2 tipe atau tingkatan dari Tuberkulosis (TB), yaitu (1) TB Laten, merupakan bentuk non-aktif. Penyakit ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh dapat melawan bakteri TB. Orang dengan TB laten tidak akan mengalami keluhan selama penyakit tersebut tidak menjadi aktif. TB laten ini tidak menular, (2) TB aktif, TB aktif terjadi ketika bakteri mulai memenangkan perlawanan terhadap sistem pertahanan tubuh dan mulai menyebabkan gejala. Saat bakteri menginfeksi paru-paru, TB aktif dapat menyebar dengan mudah ke orang lain.

Gejala utama TB tergantung dari lokasi bakterinya, seperti jika bakteri itu berada di paru-paru atau dibagian tubuh yang lain. Gejala dari Tuberkulosis paru mirip dengan yang dirasakan oleh pasien yang menderita radang paru (pneumonia) dan kanker paru. Hal ini termasuk batuk dengan dahak kental dan keruh yang berlangsung lebih dari dua minggu, dahak berdarah, demam, menggigil, keringat malam, kelelahan, berat badan turun yang tidak dapat dijelaskan, nyeri dada, kelemahan, sesak dada.

Dokter umum atau dokter layanan utama anda dapat membantu untuk menemukan apakah gejala yang anda rasakan menandakan Tuberkulosis. Bagaimanapun setelah TB dipastikan, kita perlu mencari perawatan khusus dari tenaga kesehatan profesional yang berurusan dengan penyakit infeksi atau penyakit yang berhubungan dengan paru-paru. Karena TB menular, sebagian pasien dirujuk ke dokter spesialis penyakit infeksi. Sekitar 95% kematian akibat TB terjadi pada negara berkembang dan 60% diantaranya di 6 negara, salah satunya Indonesia.

Di Indonesia, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis pasal 1 ayat 2, yang menyatakan bahwa “Penanggulangan Tuberkulosis yang selanjutnya disebut Penanggulangan TB adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat Tuberkulosis”.

Hal ini jelas memberikan gambaran kepada pemerintah guna memberi pelayanan yang intensif agar penderita Tuberkulosis mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Selain itu, pemerintah bersama masyarakat harus saling berkoordinasi mengenai program-program kesehatan yang nantinya dapat mengurangi penularan penyakit dan tidak menutup kemungkinan terbasminya bakteri penyebab Tuberkulosis sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan Tuberkulosis pasal 1 ayat 2. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here